Loading...
SosialThe Lectures

Jaringan Struktural Muhammadiyah-Aisyiyah

Semenjak awal berdirinya, para aktivis awal Muhammadiyah dan Aisyiyah sudah berjuang untuk menyebarkan Muhammadiyah dan Aisyiyah ke seluruh pelosok tanah air, sehingga jaringan Muhammadiyah dan Aisyiyah akhirnya semakin berkembang dari waktu ke waktu. Jaringan-jaringan tersebut kemudian dikoordinasikan membentuk struktur organisasi Muhammadiyah dan Aisyiyah, mulai dari tingkat Pimpinan Pusat, Pimpinan Wilayah (di tingkat provinsi), Pimpinan Daerah (di tingkat kabupaten/kota), Pimpinan Cabang (di tingkat kecamatan), dan Pimpinan Ranting (di tingkat desa). Beberapa jaringan Muhammadiyah dan Aisyiyah di luar negeri juga dikoordinasikan dalam bentuk Pimpinan Cabang Istimewa.

Sementara itu, Muhammadiyah juga mengembangkan jaringan berdasarkan kategori-kategori tertentu untuk mendekatkan dakwah Muhammadiyah dengan keragaman masyarakat. Oleh karena itu, Muhammadiyah mengembangan struktur organisasi otonom agar mereka bisa mengelola organisasi secara mandiri dan bertanggung jawab. Para perempuan anggota Muhammadiyah diorganisasikan menjadi Aisyiyah, para perempuan muda anggota Muhammadiyah diorganisasikan menjadi Nasyi’atul Aisyiyah, para pemuda anggota Muhammadiyah diorganisasikan menjadi Pemuda Muhammadiyah, para mahasiswa anggota Muhammadiyah diorganisasikan menjadi Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, dan para pelajar anggota Muhammadiyah diorganisasikan menjadi Ikatan Pelajar Muhammadiyah.

Para anggota Muhammadiyah yang memiliki aktivisme yang khas membentuk organisasi otonom juga. Mereka yang memiliki aktivisme dalam seni bela diri diorganisasikan menjadi Tapak Suci Putera Muhammadiyah, sedangkan mereka yang memiliki aktivisme dalam kepanduan diorganisasikan menjadi Hizbul Wathan.

NODAFTAR PUSTAKA
1.Toer, Pramoedya Ananta (2002). Bumi Manusia. Jakarta: Hasta Mitra
2.Nurlaelawati, Euis (2010). Modernization, Tradition, and Identity: The Kompilasi Hukum Islam and Legal Practice in the Indonesian Religious Courts. Amsterdam University Press
3.Burhanudin, Jajat and Kees van Dijk (2013). Islam in Indonesia: Contrasting Images and Interpretations. Amsterdam University Press
4.Woodward, Mark (2011). Java, Indonesia, and Islam. Springer Netherlands
5.Boland, B. J. (1971). The Struggle of Islam in Modern Indonesia. Springer Netherlands
6.Kersten, Carool (2017). A History of Islam in Indonesia: Unity in Diversity. Edinburgh University Press
7.Kersten, Carool (2016). Islam in Indonesia: The Contest for Society, Ideas, and Values. Oxford University Press
8.Geertz, Clifford (1976). The Religion of Java. University of Chicago Press
9.Fealy, Greg and Sally White (2008). Expressing Islam: Religious Life and Politics in Indonesia. Institute of Southeast Asian Studies
10.Madinier, Remi (2015). Islam and Politics in indonesia. NUS Press
11.Hadler, Jeffrey (2010). Sengketa Tiada Putus: Matriarkat, Reformisme Islam, dan Kolonialisme di Minangkabau. Freedom Institute
12.Bowen, John R. (2003). Islam, Law, and Equality in Indonesia: an Anthropology of Public Reasoning. Cambridge University Press.
13.Bennett, Linda R. (2005). Women, Islam, and Modernity: Single Women, Sexuality and Reproductive Health in Contemporary Indonesia. Routledge Courzon.
14.Hooker, M. B. (2004). Indonesian Islam. University of Hawai'i Press.
15.Van Doorn-Harder, Pieternella (2006). Women Shaping Islam: Reading the Qur'an in Indonesia. University of Illinois Press
BACA JUGA:   Keimanan di Tengah Keberagaman
Leave a Reply

Your email address will not be published.