Taqdir dan Kecemasan Modern

Ada satu kegelisahan yang terasa sangat khas di zaman ini: keinginan untuk memastikan segalanya. Kita ingin tahu masa depan. Kita ingin hidup berjalan sesuai rencana. Kita membuat target, menyusun langkah, mengukur kemungkinan. Seolah-olah hidup bisa dikendalikan dengan cukup perhitungan. Namun di balik semua itu, ada sesuatu yang terus mengganggu: ketidakpastian.

Saya sering merasakan ini dalam bentuk yang sederhana—kecemasan kecil tentang apa yang belum terjadi. Tentang keputusan yang belum diambil. Tentang hasil yang belum terlihat. Pikiran berjalan lebih cepat daripada kenyataan, membayangkan kemungkinan yang bahkan belum tentu datang. Di situ, saya mulai bertanya: di mana letak percaya pada takdir dalam hidup seperti ini?

Sebagai Muslim, saya diajarkan bahwa segala sesuatu telah ditetapkan. Bahwa ada qadar—ketentuan Tuhan yang meliputi segala yang terjadi. Tetapi dalam kehidupan sehari-hari, keyakinan itu tidak selalu terasa menenangkan. Kadang ia justru terasa abstrak, jauh dari kecemasan yang sangat nyata.

Saya ingin percaya. Tetapi saya juga ingin memastikan. Al-Qur’an menyentuh ketegangan ini dengan cara yang sederhana:

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.”
(QS. Al-Baqarah: 216)

Ayat ini tidak menjelaskan takdir secara teknis. Ia hanya mengingatkan bahwa pengetahuan kita terbatas. Dan mungkin, di situlah kegelisahan bermula—ketika kita ingin mengontrol sesuatu yang memang tidak sepenuhnya berada dalam jangkauan kita.

Dunia modern mengajarkan kita untuk merencanakan segalanya. Kita diajari bahwa keberhasilan adalah hasil dari strategi yang tepat. Bahwa kegagalan bisa dihindari jika kita cukup cermat. Dalam banyak hal, itu benar. Tetapi tidak sepenuhnya.

Ada hal-hal yang tetap tidak bisa dikendalikan. Pertemuan yang tidak direncanakan. Kehilangan yang datang tiba-tiba. Jalan hidup yang berubah arah tanpa pemberitahuan. Dan di titik itu, saya mulai memahami bahwa percaya pada takdir bukan berarti berhenti berusaha. Ia berarti menerima bahwa hasil akhir tidak selalu berada di tangan kita.

Masalahnya, menerima tidak selalu mudah. Ada bagian dalam diri yang ingin memegang kendali. Yang takut jika tidak mengatur segalanya, hidup akan berantakan. Yang merasa bahwa menyerahkan adalah bentuk kelemahan. Padahal mungkin, justru di situlah letak kelelahan kita.

Saya mulai melihat bahwa kecemasan modern sering lahir dari ilusi kontrol. Kita merasa harus tahu, harus siap, harus berhasil. Dan ketika hidup tidak sesuai rencana, kita merasa gagal—bukan hanya pada situasi, tetapi pada diri sendiri.

Dalam keheningan tertentu, saya mencoba menggeser cara pandang itu. Bahwa hidup bukan hanya tentang mengatur, tetapi juga tentang menerima. Bahwa ada ruang di mana saya perlu berhenti berusaha mengendalikan, dan mulai belajar mempercayakan.

Rasulullah pernah mengajarkan sebuah sikap yang terasa sederhana tetapi dalam:

“Ikatlah untamu, lalu bertawakkallah.”
(HR. Tirmidzi)

Hadits ini tidak memisahkan usaha dan tawakkal. Ia justru mempertemukan keduanya. Ada bagian yang harus saya lakukan—mengikat unta. Tetapi ada bagian yang harus saya lepaskan—hasilnya.

Saya menyadari bahwa mungkin selama ini saya terlalu fokus pada satu sisi: mengikat tanpa benar-benar melepas. Berusaha tanpa benar-benar percaya.

Padahal hidup membutuhkan keduanya. Qadar tidak menghilangkan kecemasan secara instan. Tetapi ia memberi tempat bagi kecemasan itu untuk tidak sepenuhnya menguasai. Ia mengingatkan bahwa meski saya tidak tahu segalanya, ada Yang mengetahui. Dan mungkin, percaya pada takdir bukan tentang menjadi tenang setiap saat. Ia tentang tetap berjalan meski tidak sepenuhnya tenang.

Saya belum sepenuhnya bebas dari kecemasan. Masih ada kekhawatiran yang datang, masih ada keinginan untuk memastikan. Tetapi kini saya mulai belajar satu hal kecil: bahwa tidak semua hal harus saya pegang erat.

Ada yang perlu saya lakukan dengan sungguh-sungguh. Dan ada yang perlu saya lepaskan dengan perlahan. Dan mungkin, di antara keduanya, hidup menemukan keseimbangannya—pelan, tidak sempurna, tetapi cukup untuk terus berjalan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *