Di lereng Gunung Merbabu, pagi sering datang bersama kabut yang turun perlahan dari punggung gunung. Rumah-rumah berdiri berjauhan, ladang sayur terbentang di sela jalan kecil, dan suara ayam bersahut dengan deru motor tua yang mulai bergerak ke pasar. Di tempat seperti itu, kehidupan berjalan tanpa banyak sorotan. Riyanto lahir danContinue Reading

Di beberapa masa dalam sejarah, ada orang-orang yang memilih berbicara ketika banyak orang memilih menunggu. Bukan karena mereka tidak tahu risiko, tetapi karena diam terasa lebih berat daripada suara yang keluar. Di Indonesia akhir 1990-an, suara itu sering datang dari Amien Rais. Ia bukan tipe pembicara yang menimbang kalimat terlaluContinue Reading

Di ruang kuliah itu, papan tulis tidak pernah benar-benar bersih. Ada sisa garis dari pertemuan sebelumnya—panah yang menghubungkan satu istilah dengan istilah lain, lingkaran yang mengitari kata “agama”, tanda tanya kecil di sudut kanan atas. Ketika M. Amin Abdullah masuk, ia tidak langsung menghapusnya. Ia menatapnya sejenak, seperti sedang membacaContinue Reading

Lamongan tidak pernah tergesa. Pagi datang dengan udara asin yang tipis, sawah terbentang tanpa banyak suara, dan jalanan kecil yang menyimpan langkah orang-orang yang berangkat tanpa sorotan. Di kota seperti itu, nama besar jarang diumumkan. Ia tumbuh pelan, mengikuti musim. Di antara tanah pesisir dan tradisi santri yang kuat, SyafiqContinue Reading

Pagi belum benar-benar selesai ketika kabar itu masuk. Sebuah pesan singkat, tanpa banyak tanda baca, hanya satu kalimat yang membuat layar ponsel terasa lebih berat dari biasanya: Muhammad Syamsuddin wafat. Beberapa detik setelah membacanya, dunia tidak langsung berubah. Notifikasi lain tetap berdenting. Percakapan grup tetap berjalan. Di luar, kendaraan masihContinue Reading

Di banyak forum, suara itu datang pelan. Tidak meninggi. Tidak pula tergesa. Kalimatnya pendek, seperti biasa. Lalu di ujungnya, ada satu sindiran kecil—cukup untuk membuat ruangan hening beberapa detik sebelum akhirnya terdengar tawa tertahan. Begitulah Busyro Muqoddas sering hadir. Ia tidak perlu memukul meja untuk membuat orang memperhatikan. Kadang justruContinue Reading

Pagi di rumah itu berjalan pelan. Tidak ada tanda-tanda kesibukan besar, tidak ada jadwal yang ditempel di dinding. Cahaya masuk dari jendela, jatuh miring ke rak buku yang sudah lama penuh. Buku-buku itu tidak tersusun berdasarkan tema besar atau warna sampul. Sebagian miring, sebagian ditumpuk, sebagian lain tampak sering disentuh—halamannyaContinue Reading

Page 1 of 2
1 2