Saya mulai menyadari sesuatu yang tidak selalu terlihat: bahwa apa yang saya yakini hari ini, pelan-pelan dibentuk oleh apa yang saya lihat setiap hari. Layar kecil di tangan saya tidak pernah benar-benar netral. Ia memilihkan apa yang muncul, menyusun apa yang saya baca, dan mengulang apa yang saya sukai. TanpaContinue Reading

Ada hari-hari tertentu yang tidak hanya dirayakan oleh satu komunitas, tetapi juga mengundang orang lain untuk berhenti sejenak dan merenung. Paskah adalah salah satunya. Ia lahir dari tradisi iman yang berbeda dengan saya, tetapi entah mengapa, selalu ada ruang untuk mendengarkan maknanya. Sebagai seorang Muslim, saya tidak merayakan Paskah dalamContinue Reading

Syawal datang dengan cara yang lebih sunyi. Jika Ramadlan terasa penuh dan Idul Fitri riuh dengan perjumpaan, maka Syawal hadir seperti ruang yang ditinggalkan—lebih lengang, lebih pelan, dan entah mengapa, lebih jujur. Takbir telah selesai. Tamu-tamu mulai berkurang. Meja makan kembali seperti biasa. Kehidupan perlahan kembali ke ritme semula. DanContinue Reading

Pagi Idul Fitri selalu datang dengan cara yang khas. Takbir yang semalam menggema kini perlahan mereda. Jalanan masih ramai, tetapi ada jenis keheningan yang berbeda—seperti jeda setelah sesuatu yang besar selesai. Saya sering berdiri di momen itu dengan perasaan yang sulit dijelaskan: antara lega dan kehilangan. Ramadlan telah pergi. KalimatContinue Reading

Sepuluh hari terakhir Ramadlan selalu terasa berbeda. Ada keheningan yang lebih dalam, sekaligus kegelisahan yang lebih nyata. Waktu seperti berjalan lebih cepat. Tiba-tiba saya sadar, bulan yang terasa panjang itu hampir selesai. Di fase ini, suasana berubah. Malam menjadi lebih hidup. Lampu masjid menyala lebih lama. Doa-doa terdengar lebih panjang.Continue Reading

Setiap tahun, menjelang akhir Ramadlan atau menjelang hari raya, kata mudik kembali terdengar di mana-mana. Terminal penuh, stasiun sesak, jalan-jalan panjang dipadati kendaraan. Orang-orang bergerak ke arah yang sama: pulang. Di balik hiruk-pikuk itu, saya sering merasa bahwa mudik bukan hanya soal perjalanan fisik. Ia adalah perjalanan batin yang sulitContinue Reading

Ada saat-saat ketika hidup terasa terlalu penuh. Penuh suara, penuh agenda, penuh percakapan yang belum selesai. Bahkan ketika tubuh berhenti, pikiran tetap berjalan. Dalam kepadatan seperti itu, saya sering bertanya: kapan terakhir kali saya benar-benar diam? I‘tikaf selalu saya pahami sebagai berdiam diri di masjid. Tinggal beberapa hari, menjauh dariContinue Reading

Page 1 of 4
1 2 3 4