Abdul Munir Mulkhan dan Kesetiaan pada Pertanyaan

Pagi di rumah itu berjalan pelan. Tidak ada tanda-tanda kesibukan besar, tidak ada jadwal yang ditempel di dinding. Cahaya masuk dari jendela, jatuh miring ke rak buku yang sudah lama penuh. Buku-buku itu tidak tersusun berdasarkan tema besar atau warna sampul. Sebagian miring, sebagian ditumpuk, sebagian lain tampak sering disentuh—halamannya menguning, sudutnya terlipat.

Di antara buku-buku itu, Abdul Munir Mulkhan menjalani hari dengan ritme yang tidak tergesa. Usianya kini tidak muda lagi. Langkahnya mungkin tidak secepat dulu, tetapi cara ia memandang dunia masih sama: tenang, ingin tahu, dan penuh jarak kritis terhadap kepastian-kepastian yang terlalu rapi.

Ia dikenal banyak orang sebagai intelektual, guru, penulis. Tetapi di rumah, ia lebih sering hadir sebagai seseorang yang membaca pelan, menulis seperlunya, dan menyimpan banyak jeda. Pena bergerak, lalu berhenti. Ia menatap halaman kosong lebih lama daripada kalimat yang jadi.

Bagi mereka yang pernah membaca tulisannya, gaya itu terasa akrab. Munir Mulkhan tidak datang dengan suara keras. Ia tidak memukul meja dengan tesis besar. Ia mengajak pembaca duduk, memperhatikan detail yang sering dilewati: cara orang beriman di pinggir, bahasa doa yang tidak sempurna, praktik keagamaan yang tidak selalu sejalan dengan buku teks.

Dalam riset sosial, ia tidak mencari masyarakat sebagai objek yang harus disimpulkan. Ia lebih tertarik pada manusia sebagai subjek yang sedang berjuang memahami hidupnya sendiri. Ia mendengar sebelum menilai. Ia mencatat sebelum menyusun konsep. Ia tahu bahwa realitas sering lebih rumit daripada teori terbaik.

Di banyak tulisan, Munir Mulkhan tidak menempatkan dirinya sebagai hakim. Ia hadir sebagai pengamat yang terlibat—cukup dekat untuk merasakan, cukup jauh untuk tidak larut. Islam, baginya, bukan hanya sistem ajaran, tetapi pengalaman manusia yang penuh lapisan: luka, harap, kebiasaan, dan kontradiksi.

Kini, di usia senja, dunia di sekitarnya berubah cepat. Media sosial bergerak tanpa henti. Diskursus menjadi singkat, kadang kasar. Banyak hal ingin segera disimpulkan. Di tengah itu, Munir Mulkhan tetap setia pada cara lama: berpikir pelan, menulis dengan jeda, membiarkan pertanyaan hidup lebih lama dari jawabannya.

Orang-orang yang datang menemuinya sering membawa kegelisahan. Tentang riset. Tentang agama. Tentang posisi intelektual di tengah tarik-menarik kekuasaan dan pasar. Munir Mulkhan mendengarkan. Kadang ia menjawab. Kadang ia justru balik bertanya. Tidak semua orang pulang dengan jawaban, tetapi hampir semua pulang dengan sesuatu yang mengganjal—dan itu justru berharga.

Sebagai peneliti sosial, ia tidak percaya pada jarak dingin. Ia juga tidak tenggelam dalam romantisme. Ia tahu bahwa keberpihakan adalah pilihan, tetapi pilihan itu harus dibayar dengan kejujuran intelektual. Ia mengingatkan, tanpa menggurui, bahwa riset bukan soal siapa yang paling lantang, melainkan siapa yang paling setia pada kenyataan.

Di meja kerjanya, kertas-kertas lama bercampur dengan catatan baru. Tidak semuanya akan menjadi buku. Tidak semuanya perlu dipublikasikan. Sebagian cukup menjadi jejak berpikir—tanda bahwa seseorang pernah mencoba memahami dunia dengan serius.

Sore hari, suara adzan dari kejauhan masuk melalui jendela. Munir Mulkhan berhenti membaca. Ia menutup buku pelan. Tidak ada gestur besar. Hanya jeda kecil yang penuh makna. Seperti banyak hal dalam hidupnya, momen itu berlangsung sederhana.

Kini, banyak murid dan pembaca yang menyadari satu hal: pengaruh Munir Mulkhan tidak terletak pada doktrin yang diwariskan, melainkan pada cara bertanya yang ia contohkan. Cara melihat masyarakat tanpa merendahkan. Cara membaca agama tanpa mengeras. Cara menjadi intelektual tanpa kehilangan empati.

Usia membuat tubuhnya menua, tetapi pertanyaannya tetap muda. Ia masih ingin tahu bagaimana agama dijalani hari ini. Bagaimana kaum kecil memberi makna pada hidupnya. Bagaimana ilmu sosial tetap relevan di tengah perubahan cepat.

Di rumah itu, buku-buku masih terbuka. Pertanyaan-pertanyaan masih bernafas. Dan di antara halaman yang tidak selalu selesai, ada harapan yang tidak pernah dinyatakan keras-keras: semoga waktu memberinya kesehatan, agar pikiran yang jernih itu tetap bisa menemani banyak orang—meski hanya lewat tulisan, meski hanya lewat satu pertanyaan yang tak pernah selesai.

Dan mungkin, di situlah warisan terpentingnya tinggal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *