Ada kalimat yang pernah saya dengar dan diam-diam mengganggu: orang bodoh sama dengan orang jahat. Kalimat itu terdengar keras, bahkan tidak adil. Kebodohan sering kita pahami sebagai keterbatasan, bukan niat buruk. Tetapi semakin saya memikirkannya, semakin saya menyadari bahwa persoalannya mungkin tidak sesederhana benar atau salah.
Saya mulai bertanya pada diri sendiri: apakah setiap ketidaktahuan benar-benar netral? Ataukah ada bentuk ketidaktahuan yang kita pelihara dengan sengaja—karena lebih nyaman tidak tahu daripada harus berubah?
Ada banyak kesalahan dalam hidup yang lahir bukan dari kebencian, melainkan dari tidak mau belajar. Ucapan yang melukai karena kita tidak pernah mencoba memahami. Keputusan yang merugikan karena kita tidak merasa perlu mencari informasi. Sikap acuh karena merasa itu bukan urusan kita. Dalam bentuk-bentuk itu, kebodohan tidak lagi polos. Ia menjadi sikap.
Saya menyadari bahwa kebodohan yang paling berbahaya bukanlah tidak tahu, tetapi tidak mau tahu. Ada perbedaan besar antara keterbatasan dan keengganan. Setiap manusia memiliki keterbatasan. Tetapi ketika kita menutup diri dari pengetahuan yang bisa membuat kita lebih adil, di sanalah ketidaktahuan mulai menyerupai kejahatan kecil—yang mungkin tidak kita sadari.
Saya teringat momen-momen ketika saya bereaksi cepat terhadap sesuatu yang belum sepenuhnya saya pahami. Mengomentari tanpa membaca utuh. Menilai tanpa mendengar dua sisi. Dalam situasi itu, saya tidak sedang berniat jahat. Tetapi akibatnya tetap bisa melukai. Dan luka tidak selalu peduli pada niat.
Iman sering kali berbicara tentang tanggung jawab. Bahwa setiap pilihan, termasuk pilihan untuk tidak belajar, memiliki konsekuensi. Jika pengetahuan hari ini mudah diakses, apakah kita masih bisa bersembunyi di balik alasan “tidak tahu”? Pertanyaan itu terasa tidak nyaman, tetapi jujur.
Namun saya juga belajar untuk tidak terlalu cepat menghakimi. Ada orang-orang yang tumbuh dalam ruang yang sempit, dengan akses yang terbatas. Ada yang tidak pernah diajari cara berpikir kritis, tidak pernah diberi kesempatan untuk bertanya. Dalam kondisi seperti itu, kebodohan lebih mirip warisan daripada pilihan. Dan warisan semacam itu membutuhkan empati, bukan cercaan.
Refleksi ini membuat saya berhenti pada diri sendiri lebih dulu. Di mana saya memilih untuk tidak tahu? Di mana saya menolak informasi karena mengganggu kenyamanan saya? Di mana saya membiarkan prasangka hidup tanpa saya uji? Mungkin di sanalah saya perlu lebih waspada.
Saya mulai memahami bahwa pengetahuan bukan hanya soal kecerdasan, tetapi soal kerendahan hati. Mengakui bahwa saya bisa salah. Mengakui bahwa saya belum cukup mengerti. Dan bersedia memperbaiki diri ketika diberi tahu. Tanpa kerendahan hati, pengetahuan bisa menjadi kesombongan. Tetapi tanpa pengetahuan, kebaikan bisa menjadi naif.
Apakah orang bodoh sama dengan orang jahat? Saya tidak sepenuhnya setuju. Tetapi saya juga tidak bisa menutup mata bahwa ketidaktahuan yang disengaja dapat melahirkan dampak yang sama menyakitkannya dengan niat buruk. Mungkin yang lebih tepat adalah ini: kebodohan yang dibiarkan tumbuh tanpa usaha untuk belajar dapat berubah menjadi ketidakadilan.
Dalam hubungan dengan Tuhan, saya merasa ada panggilan halus untuk terus belajar—bukan agar terlihat pintar, tetapi agar tidak melukai tanpa sadar. Agar keputusan saya lebih bijak, agar kata-kata saya lebih berhati-hati. Belajar menjadi bagian dari tanggung jawab moral.
Saya belum sepenuhnya bebas dari ketidaktahuan. Masih banyak hal yang belum saya pahami. Tetapi setidaknya saya bisa memilih untuk tidak tinggal diam di dalamnya. Memilih untuk bertanya, untuk membaca, untuk mendengar. Bukan karena takut dicap bodoh, tetapi karena tidak ingin tanpa sadar menjadi sumber luka.
Mungkin refleksi ini bukan tentang memberi label pada orang lain. Ia lebih seperti cermin kecil yang saya arahkan pada diri sendiri. Bahwa menjadi manusia berarti terus belajar—dan bahwa setiap kesempatan untuk tahu adalah kesempatan untuk menjadi sedikit lebih baik.
Dan barangkali, di situlah garis halus antara kebodohan dan kejahatan bisa dijaga: pada kesediaan untuk tidak berhenti mencari terang, meski pelan.



