Saya sering merasa bahwa tauhid terlalu sering dibicarakan sebagai konsep yang agung, tetapi jauh. Ia diajarkan sebagai fondasi iman, sebagai inti ajaran Islam, sebagai kalimat pertama yang diucapkan dan terakhir yang diharapkan. Namun dalam keseharian, terutama bagi anak-anak muda, tauhid kadang terdengar abstrak. Seolah ia hanya milik ruang teologi, bukan ruang kehidupan.
Padahal, jika tauhid benar-benar menjadi inti, seharusnya ia paling terasa dalam hal-hal kecil: dalam cara seseorang mengambil keputusan, dalam cara ia menilai diri, dalam cara ia menghadapi tekanan hidup.
Di sinilah saya mendapatkan inspirasi dari Pengajian Ramadlan 1447 Hijriyah yang diselenggarakan Pimpinan Pusat Muhammadiyah tentang apa yang disebut sebagai tauhid fungsional—bukan tauhid sebagai teori metafisik, tetapi tauhid sebagai orientasi hidup yang bekerja.
Tauhid, dalam makna paling dasar, adalah pengesaan Tuhan. Tetapi jika ia berhenti pada pengakuan lisan, ia menjadi deklarasi tanpa daya. Tauhid fungsional mencoba bertanya: jika hanya Allah yang absolut, maka apa konsekuensinya bagi cara kita memandang dunia?
Anak-anak muda hari ini hidup dalam dunia yang penuh “tuhan-tuhan kecil.” Popularitas bisa menjadi tuhan. Follower bisa menjadi ukuran harga diri. Standar kecantikan bisa menjadi penguasa batin. Uang, prestasi, validasi sosial—semuanya berpotensi menjadi pusat orientasi.
Tauhid fungsional bukan sekadar mengatakan “Allah itu satu,” tetapi menanyakan: apa yang sebenarnya menguasai hatimu? Siapa atau apa yang menentukan nilai dirimu?
Jika tauhid berarti hanya Allah yang layak menjadi pusat, maka segala yang lain menjadi relatif. Prestasi penting, tetapi tidak absolut. Popularitas menyenangkan, tetapi tidak menentukan makna. Kegagalan menyakitkan, tetapi tidak menghancurkan identitas.
Dalam konteks ini, tauhid menjadi pembebasan. Ia membebaskan dari ketergantungan berlebihan pada penilaian manusia. Ia membebaskan dari kecemasan yang lahir karena ingin selalu diakui. Ia membebaskan dari ketakutan kehilangan citra.
Anak-anak muda sering berbicara tentang overthinking, anxiety, dan tekanan sosial. Sebagian dari tekanan itu lahir karena pusat orientasi terlalu banyak. Terlalu banyak yang ingin dipuaskan. Terlalu banyak standar yang ingin dicapai.
Tauhid fungsional menyederhanakan pusat itu. Jika orientasi utama adalah keridhaan Allah, maka standar menjadi lebih jernih. Bukan berarti hidup menjadi mudah, tetapi menjadi lebih terarah.
Namun tauhid fungsional bukan sekadar soal batin. Ia juga menyentuh etika sosial. Jika hanya Allah yang berhak disembah, maka tidak ada manusia yang layak diperlakukan sebagai tuhan. Tidak ada kekuasaan yang boleh absolut. Tidak ada sistem yang boleh menindas tanpa kritik.
Di sini tauhid menjadi sumber keberanian. Ia menolak kultus individu. Ia menolak kepatuhan buta. Ia mengajarkan bahwa ketaatan kepada manusia selalu berada dalam batas nilai.
Bagi generasi muda yang kritis terhadap otoritas, tauhid fungsional bisa menjadi jembatan: iman tidak berarti mematikan nalar, tetapi menempatkan nalar dalam orientasi yang benar.
Saya juga melihat tauhid fungsional sebagai latihan konsistensi. Banyak anak muda merasa terpecah antara identitas religius dan identitas sosial. Di masjid mereka berbeda, di kampus berbeda, di media sosial berbeda.
Jika tauhid benar-benar fungsional, ia justru menyatukan. Ia mengajarkan integritas. Bahwa tidak ada ruang yang benar-benar terpisah dari kesadaran ilahiah. Bahwa kerja, belajar, berkarya—semuanya bisa menjadi ibadah jika orientasinya jelas.
Namun tentu saja, ini bukan perkara sederhana. Dunia modern membagi peran dengan tegas. Profesionalisme sering dianggap netral nilai. Media sosial sering mendorong performa, bukan kejujuran.
Tauhid fungsional bukan tentang menjadi sempurna, tetapi tentang terus mengingat pusat. Tentang bertanya ulang: mengapa saya melakukan ini? Untuk siapa sebenarnya saya berjuang?
Ada sisi lain yang menurut saya penting: tauhid sebagai penguat ketahanan diri. Ketika seseorang merasa gagal, ia tidak sepenuhnya runtuh, karena harga dirinya tidak ditopang oleh satu capaian saja. Ketika seseorang berhasil, ia tidak sepenuhnya mabuk, karena ia tahu keberhasilan itu bukan miliknya sendiri.
Dalam bahasa yang lebih sederhana: tauhid fungsional membantu menjaga keseimbangan emosi.
Bagi generasi yang hidup dalam ekstrem—antara viral dan terlupakan, antara sukses dan insecure—keseimbangan ini menjadi penting.
Namun saya tidak ingin menjadikan tauhid fungsional sebagai slogan motivasi. Ia bukan trik psikologis. Ia tetap berakar pada kesadaran spiritual yang dalam. Tanpa kesadaran itu, tauhid mudah direduksi menjadi afirmasi kosong.
Pertanyaannya bukan apakah anak muda mampu memahami tauhid, tetapi apakah kita mampu menjelaskannya dalam bahasa kehidupan mereka. Bahasa tentang tekanan karier, tentang relasi, tentang digital identity, tentang kecemasan masa depan.
Mungkin tauhid perlu dibicarakan bukan hanya dalam forum teologi, tetapi dalam percakapan tentang overthinking, tentang self-worth, tentang burnout.
Saya mengakhiri tulisan ini dengan satu refleksi: tauhid bukan hanya pernyataan iman, tetapi orientasi eksistensial. Ia bekerja ketika seseorang merasa kecil di hadapan dunia yang besar. Ia bekerja ketika seseorang tergoda menjadikan sesuatu selain Allah sebagai pusat hidup.
Tauhid fungsional mungkin bukan istilah yang baku, tetapi ia mengingatkan bahwa iman harus hidup dalam keseharian. Dalam cara kita memilih, dalam cara kita menilai diri, dalam cara kita memperlakukan orang lain.
Dan mungkin, bagi anak-anak muda yang sedang mencari arah di tengah dunia yang bising, tauhid bukan sekadar doktrin yang harus dihafal—melainkan kompas yang bisa digunakan.
Bukan untuk menutup semua pertanyaan, tetapi untuk memastikan bahwa di tengah banyak pusat yang bersaing, hati tetap tahu ke mana ia kembali.



