Tauhid Hari Ini

Ada begitu banyak hal yang ingin kita sembah hari ini, meski kita tidak pernah menyebutnya demikian. Angka-angka di layar, pengakuan yang datang dalam bentuk notifikasi, reputasi yang dibangun dari persepsi. Dunia terasa penuh dengan pusat-pusat kecil yang meminta perhatian, waktu, dan energi kita. Dan tanpa sadar, hati menjadi terbagi.

Di tengah kehidupan seperti ini, saya sering bertanya: apa arti tauhid hari ini? Apakah ia hanya keyakinan teologis yang saya ucapkan dalam kalimat syahadat, atau sesuatu yang lebih sunyi dan lebih sulit dijaga?

Tauhid berarti mengesakan. Tetapi dalam pengalaman sehari-hari, saya sering hidup dalam yang banyak. Banyak kekhawatiran, banyak keinginan, banyak ketakutan. Setiap hari ada sesuatu yang terasa begitu penting, seolah hidup saya bergantung padanya. Karier, citra, keamanan finansial, opini orang lain. Semua itu bukan Tuhan, tetapi kadang saya memperlakukannya seolah-olah ia penentu segalanya.

Saya menyadari bahwa tauhid bukan hanya soal menolak berhala dalam bentuk fisik. Ia juga tentang mengenali “berhala-berhala halus” dalam batin. Ketika rasa takut kehilangan pekerjaan lebih besar daripada rasa percaya kepada Tuhan. Ketika penilaian manusia lebih menentukan daripada suara nurani. Ketika saya lebih gelisah karena kehilangan validasi daripada kehilangan kejujuran.

Era kontemporer menawarkan begitu banyak pusat perhatian. Algoritma tahu apa yang saya suka, apa yang saya cari, apa yang saya takuti. Dunia digital bekerja tanpa lelah untuk menarik hati saya ke sana dan ke sini. Di tengah arus itu, tauhid terasa seperti latihan memusatkan kembali—mengembalikan hati yang tercerai-berai pada satu titik.

Saya sering merasa bahwa tauhid hari ini bukan tentang debat teologi, tetapi tentang konsistensi batin. Tentang ke mana saya mengarahkan kecemasan. Tentang siapa yang saya jadikan sandaran ketika rencana gagal. Tentang apa yang paling saya takuti kehilangan.

Ada hari-hari ketika saya sadar betapa mudahnya hati berpindah. Satu berita bisa mengubah suasana hati. Satu komentar bisa meruntuhkan ketenangan. Satu perbandingan bisa mengguncang rasa cukup. Dalam momen-momen seperti itu, tauhid terasa jauh—bukan karena saya meragukannya, tetapi karena saya tidak benar-benar menempatkannya di pusat.

Mungkin tauhid di era ini lebih dekat pada upaya merapikan prioritas. Mengingatkan diri bahwa tidak semua yang mendesak itu utama. Bahwa tidak semua yang ramai itu penting. Dan bahwa pusat hidup saya tidak boleh bergeser terlalu jauh hanya karena dunia berteriak lebih keras.

Saya belajar bahwa mengesakan Tuhan juga berarti membebaskan diri dari ketergantungan yang berlebihan pada hal-hal yang fana. Bukan berarti tidak bekerja keras, bukan berarti tidak peduli pada dunia. Tetapi menyadari bahwa semua itu bukan sumber akhir ketenangan.

Ketika hati kembali pada satu, ada rasa ringan yang sulit dijelaskan. Masalah tetap ada, tantangan tetap nyata. Tetapi posisinya berubah. Ia tidak lagi menjadi pusat, melainkan bagian dari perjalanan. Dan dalam posisi itu, saya merasa lebih utuh.

Saya belum selalu berhasil menjaga tauhid dalam makna yang mendalam. Masih ada saat-saat ketika kekhawatiran mengambil alih. Masih ada momen ketika ego terasa lebih besar daripada kepercayaan. Tetapi kesadaran bahwa hati bisa kembali—bahwa pusat itu selalu tersedia—memberi saya harapan kecil.

Mungkin tauhid di era kontemporer bukan tentang membuktikan sesuatu kepada orang lain. Ia lebih seperti perjalanan batin yang terus diulang: memeriksa apa yang sedang saya agungkan, apa yang sedang saya takuti, dan apa yang benar-benar saya yakini sebagai sandaran.

Di tengah dunia yang menawarkan banyak pusat, tauhid mengajak saya untuk kembali pada satu. Bukan dengan suara keras, tetapi dengan ketenangan yang pelan. Dan mungkin, di situlah kebebasan yang paling sunyi itu lahir—ketika hati tidak lagi terpecah, dan hidup menemukan pusatnya kembali.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *