Paskah: Dari Perspektif Seorang Muslim

Ada hari-hari tertentu yang tidak hanya dirayakan oleh satu komunitas, tetapi juga mengundang orang lain untuk berhenti sejenak dan merenung. Paskah adalah salah satunya. Ia lahir dari tradisi iman yang berbeda dengan saya, tetapi entah mengapa, selalu ada ruang untuk mendengarkan maknanya.

Sebagai seorang Muslim, saya tidak merayakan Paskah dalam pengertian teologisnya. Keyakinan saya tentang Nabi Isa berbeda dari yang diyakini oleh umat Kristen. Namun Al-Qur’an sendiri menyebut Isa sebagai sosok yang mulia, seorang rasul yang dekat dengan Tuhan, yang membawa pesan tentang kasih, kesucian, dan pengabdian.

“Sesungguhnya Al-Masih, Isa putra Maryam, adalah utusan Allah…”
(QS. An-Nisa: 171)

Ayat itu mengingatkan saya bahwa di balik perbedaan keyakinan, ada titik penghormatan yang sama: bahwa Isa adalah figur spiritual yang agung. Dan dari titik itu, saya mencoba melihat Paskah bukan sebagai wilayah yang harus dijauhkan, tetapi sebagai kisah yang bisa direnungkan dengan cara saya sendiri.

Paskah sering dipahami sebagai peristiwa pengorbanan dan harapan. Tentang penderitaan yang tidak sia-sia, tentang kehidupan yang tetap memiliki makna meski melalui jalan yang berat. Dan di situ, saya merasa ada sesuatu yang universal—sesuatu yang melampaui batas tradisi.

Dalam kehidupan sehari-hari, pengorbanan sering terdengar seperti kata besar. Tetapi ia hadir dalam bentuk yang sederhana: menahan ego, memberi tanpa dihitung, tetap berbuat baik meski tidak dibalas. Saya mulai melihat bahwa pesan tentang pengorbanan bukan hanya milik satu agama, tetapi bagian dari perjalanan manusia.

Sebagai Muslim, saya juga diajarkan bahwa ujian dan kesulitan adalah bagian dari kehidupan. Bahwa setiap beban memiliki makna, meski tidak selalu langsung terlihat.

“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”
(QS. Al-Insyirah: 6)

Ayat ini sering saya ingat ketika hidup terasa berat. Ia tidak menjanjikan bahwa kesulitan akan hilang seketika, tetapi memberi keyakinan bahwa harapan selalu menyertainya.

Paskah, dalam refleksi saya, menjadi pengingat tentang dua hal: luka dan harapan. Tentang bagaimana manusia menghadapi penderitaan, dan bagaimana ia tetap percaya bahwa kehidupan tidak berhenti di sana.

Saya juga melihat bahwa perayaan seperti ini membuka ruang perjumpaan. Bahwa kita bisa hidup berdampingan tanpa harus menyeragamkan keyakinan. Bahwa menghormati tidak berarti menyetujui, dan memahami tidak berarti kehilangan identitas.

Di dunia yang sering menegaskan perbedaan, mungkin kita perlu lebih sering mencari titik perenungan bersama. Bukan untuk mencampuradukkan ajaran, tetapi untuk menemukan nilai-nilai kemanusiaan yang bisa saling menguatkan.

Saya tidak melihat Paskah sebagai milik saya. Tetapi saya melihatnya sebagai momen untuk belajar—tentang kesabaran dalam menghadapi penderitaan, tentang keikhlasan dalam berkorban, dan tentang harapan yang tidak mudah padam.

Dan mungkin, di situlah iman menemukan kedewasaannya: ketika ia tetap teguh pada keyakinannya, tetapi tidak menutup diri dari hikmah yang bisa dipetik dari pengalaman orang lain.

Di tengah dunia yang penuh perbedaan, refleksi kecil seperti ini terasa penting—agar kita tidak hanya hidup berdampingan, tetapi juga saling memahami, meski dari jarak yang berbeda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *