Ada dorongan yang sulit ditahan ketika kamu melihat sesuatu: keinginan untuk segera berpendapat. Kamu ingin cepat menilai, cepat menyimpulkan, cepat menunjukkan posisi. Seolah-olah diam terlalu lama berarti tidak paham, atau lebih buruk, dianggap tidak peduli.
Di ruang yang bergerak cepat, opini memang terasa seperti kewajiban. Semua orang bicara, dan kamu tidak ingin tertinggal. Tapi tidak semua hal benar-benar kamu pahami pada saat pertama melihatnya. Ada konteks yang belum kamu tahu, ada sisi yang belum muncul, ada cerita yang belum lengkap.
Terlalu cepat beropini sering membuatmu merasa yakin, padahal yang kamu pegang masih potongan. Dan ketika keyakinan itu terlanjur kamu bagikan, ia sulit ditarik kembali. Kata-kata yang sudah keluar akan berjalan sendiri, bahkan ketika kamu mulai ragu.
Tidak semua hal menuntut pendapatmu saat itu juga. Ada yang lebih baik ditunda, dipikirkan, atau bahkan dilewatkan. Kamu tidak kehilangan apa pun dengan menunggu. Justru kamu memberi dirimu kesempatan untuk melihat lebih utuh.
Beropini bukan tentang seberapa cepat kamu bicara, tapi seberapa jernih kamu memahami. Kadang, kedewasaan terlihat dari keberanian untuk berkata: “aku belum tahu.”
Di tengah banyaknya suara, tidak tergesa-gesa adalah bentuk ketenangan yang jarang, tapi berharga.



