Ketika membaca Sapiens karya Yuval Noah Harari, yang terasa menonjol bukan hanya narasi sejarahnya, tetapi cara ia mengajukan pertanyaan tentang manusia. Buku ini tidak sekadar menceritakan bagaimana Homo sapiens berkembang dari makhluk sederhana menjadi spesies dominan, tetapi juga mempertanyakan apa yang sebenarnya membuat manusia menjadi “manusia.”
Salah satu gagasan sentral dalam Sapiens adalah bahwa keunggulan manusia bukan semata-mata pada kekuatan fisik atau kecerdasan individual, melainkan pada kemampuan untuk menciptakan dan mempercayai cerita bersama. Harari menyebutnya sebagai “realitas yang dibayangkan”—konsep-konsep seperti negara, uang, hukum, bahkan hak asasi manusia, yang tidak memiliki keberadaan fisik, tetapi diakui secara kolektif.
Dari sini, muncul satu pemahaman menarik: dunia manusia tidak hanya dibangun oleh apa yang nyata secara material, tetapi juga oleh apa yang diyakini secara bersama.
Dalam kerangka ini, sejarah manusia menjadi sejarah tentang bagaimana cerita-cerita itu terbentuk, berkembang, dan berubah. Revolusi kognitif, menurut Harari, adalah titik penting ketika manusia mulai mampu berbahasa secara kompleks dan membangun narasi yang melampaui pengalaman langsung. Melalui bahasa, manusia tidak hanya berbagi informasi, tetapi juga membangun makna.
Kemampuan ini memungkinkan kerja sama dalam skala besar. Manusia bisa bekerja sama bukan karena saling mengenal secara personal, tetapi karena percaya pada sistem yang sama. Uang, misalnya, tidak memiliki nilai intrinsik, tetapi menjadi bermakna karena disepakati. Negara tidak terlihat secara fisik, tetapi memiliki kekuatan karena diakui.
Di sinilah imajinasi kolektif menjadi kekuatan sosial.
Namun gagasan ini juga membuka pertanyaan yang tidak sederhana. Jika banyak struktur sosial manusia bergantung pada cerita yang disepakati, maka sejauh mana manusia hidup dalam realitas, dan sejauh mana ia hidup dalam konstruksi?
Harari tidak selalu memberi jawaban normatif. Ia lebih banyak mengajak pembaca untuk melihat bahwa banyak hal yang kita anggap “alami” sebenarnya adalah hasil konstruksi historis. Agama, dalam perspektifnya, termasuk dalam kategori ini—sebagai sistem kepercayaan yang memberi makna dan keteraturan pada kehidupan manusia.
Pandangan ini tentu memancing diskusi yang lebih luas, terutama ketika dibaca dari perspektif keagamaan.
Dalam Islam, misalnya, realitas tidak dipahami semata-mata sebagai konstruksi manusia. Ada dimensi wahyu yang menjadi sumber makna yang tidak bergantung pada kesepakatan sosial. Al-Qur’an tidak hanya berbicara tentang kehidupan manusia, tetapi juga tentang asal-usul dan tujuan keberadaannya.
“Dan tidaklah Kami ciptakan langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya dengan sia-sia.” (QS. Sad: 27)
Ayat ini menegaskan bahwa keberadaan manusia dan alam semesta memiliki tujuan yang melampaui konstruksi sosial. Jika dalam Sapiens manusia dilihat sebagai pencipta makna melalui cerita, dalam perspektif wahyu, manusia juga berada dalam kerangka makna yang lebih besar yang tidak sepenuhnya ia ciptakan sendiri.
Di titik ini, muncul dialog yang menarik: antara manusia sebagai makhluk yang membangun cerita, dan manusia sebagai makhluk yang menerima makna.
Namun mungkin kedua perspektif ini tidak harus selalu dilihat sebagai oposisi yang kaku. Gagasan Harari tentang imajinasi kolektif membantu memahami bagaimana manusia membangun struktur sosial. Ia menjelaskan mengapa institusi bisa bertahan, mengapa sistem ekonomi bekerja, dan mengapa identitas sosial terbentuk.
Di sisi lain, perspektif keagamaan mengingatkan bahwa tidak semua makna bersifat relatif. Ada nilai yang tidak hanya bergantung pada kesepakatan, tetapi memiliki dasar yang lebih dalam.
Dengan demikian, manusia tidak hanya hidup dalam cerita yang ia buat, tetapi juga dalam horizon makna yang lebih luas.
Hal lain yang menarik dari Sapiens adalah cara buku ini melihat kemajuan. Harari tidak secara otomatis menganggap perkembangan teknologi dan peradaban sebagai kemajuan dalam arti kebahagiaan. Ia mempertanyakan apakah manusia modern benar-benar lebih bahagia daripada manusia purba.
Pertanyaan ini terasa relevan. Kemajuan material tidak selalu sejalan dengan ketenangan batin. Dunia menjadi lebih kompleks, tetapi tidak selalu lebih sederhana untuk dijalani.
Dalam konteks ini, muncul satu refleksi: bahwa kemampuan manusia untuk membangun dunia tidak selalu diiringi dengan kemampuan untuk memahami dirinya sendiri.
Jika demikian, maka membaca Sapiens bukan hanya membaca sejarah, tetapi juga membaca cermin. Ia mengajak kita melihat bahwa banyak hal dalam hidup adalah hasil konstruksi, tetapi juga mengingatkan bahwa konstruksi itu memiliki dampak nyata.
Sementara itu, perspektif keagamaan mengajak manusia untuk tidak berhenti pada konstruksi, tetapi juga mencari makna yang lebih dalam. Bahwa hidup bukan hanya tentang apa yang kita bangun, tetapi juga tentang bagaimana kita memaknai apa yang telah ada.
Essay ini tidak berusaha menyimpulkan apakah manusia sepenuhnya hidup dalam realitas objektif atau dalam cerita yang dibangun bersama. Ia lebih merupakan ajakan untuk melihat bahwa kehidupan manusia berada di antara keduanya.
Manusia membangun dunia melalui imajinasi, tetapi juga mencari makna yang melampaui imajinasi itu. Ia menciptakan sistem, tetapi juga mempertanyakan tujuan dari sistem tersebut.
Dan mungkin, di situlah letak dinamika manusia: tidak hanya sebagai pencipta cerita, tetapi juga sebagai pencari makna dalam cerita yang ia jalani.


