Dalam To Have or To Be, Erich Fromm mengajukan sebuah pembedaan yang tampak sederhana, tetapi menyentuh inti cara manusia hidup: antara memiliki (to have) dan menjadi (to be). Dua kata ini bukan sekadar pilihan bahasa, melainkan dua orientasi eksistensial yang membentuk bagaimana manusia memahami dirinya, orang lain, dan dunia.
Dalam orientasi “memiliki,” hidup dipahami sebagai akumulasi. Nilai seseorang diukur dari apa yang ia miliki: harta, status, pengetahuan, bahkan relasi. Segala sesuatu cenderung diposisikan sebagai objek yang bisa dikumpulkan, disimpan, dan dipertahankan. Dalam orientasi “menjadi,” hidup tidak lagi berpusat pada kepemilikan, tetapi pada pengalaman. Yang penting bukan apa yang dimiliki, tetapi bagaimana seseorang hadir, mengalami, dan berkembang.
Pembedaan ini terasa semakin relevan dalam dunia modern.
Masyarakat kontemporer secara tidak langsung mendorong orientasi “memiliki.” Sistem ekonomi, budaya konsumsi, dan bahkan cara kita mendefinisikan keberhasilan sering bertumpu pada akumulasi. Seseorang dianggap berhasil ketika ia memiliki lebih banyak—lebih banyak uang, lebih banyak pencapaian, lebih banyak pengakuan.
Orientasi ini tidak berhenti pada benda. Ia merambah ke ranah yang lebih halus. Pengetahuan pun bisa dipahami sebagai sesuatu yang dimiliki, bukan diproses. Relasi bisa dipahami sebagai sesuatu yang dikontrol, bukan dijalani. Bahkan pengalaman spiritual bisa berubah menjadi sesuatu yang “dikoleksi”—berapa banyak ibadah dilakukan, bukan bagaimana ibadah itu membentuk diri.
Dalam kondisi seperti ini, manusia perlahan menjadi terikat pada apa yang ia miliki. Kehilangan menjadi ancaman, perubahan menjadi kegelisahan, dan identitas menjadi rapuh karena bergantung pada sesuatu di luar dirinya.
Sebaliknya, orientasi “menjadi” menggeser pusat perhatian dari luar ke dalam. Hidup tidak lagi diukur dari akumulasi, tetapi dari kualitas pengalaman. Belajar bukan tentang memiliki pengetahuan, tetapi tentang proses memahami. Mencintai bukan tentang memiliki orang lain, tetapi tentang relasi yang hidup. Beribadah bukan tentang jumlah, tetapi tentang kehadiran.
Namun orientasi ini tidak selalu mudah. Ia tidak memberikan ukuran yang jelas. Ia tidak selalu terlihat oleh orang lain. Dalam dunia yang terbiasa dengan indikator yang terukur, “menjadi” sering tampak tidak cukup.
Padahal, mungkin justru di situlah kedalaman itu berada.
Dalam perspektif Islam, ketegangan antara “memiliki” dan “menjadi” dapat ditemukan dalam banyak ajaran. Salah satu peringatan yang cukup kuat terdapat dalam Al-Qur’an:
“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur.” (QS. At-Takatsur: 1–2)
Ayat ini tidak secara langsung menggunakan istilah “memiliki,” tetapi menggambarkan orientasi hidup yang berpusat pada akumulasi dan perbandingan. Kesibukan untuk memiliki lebih banyak membuat manusia kehilangan kesadaran tentang apa yang sebenarnya penting.
Dalam kerangka ini, kritik Fromm terhadap orientasi “memiliki” menemukan resonansi yang kuat. Bahwa masalahnya bukan pada kepemilikan itu sendiri, tetapi pada ketika kepemilikan menjadi pusat makna hidup.
Namun penting untuk tidak melihat kedua orientasi ini sebagai pilihan yang sepenuhnya terpisah. Manusia tetap membutuhkan sesuatu untuk dimiliki—rumah, alat, sumber daya. Masalahnya muncul ketika “memiliki” menggantikan “menjadi,” ketika akumulasi menggantikan pengalaman, dan ketika identitas bergantung sepenuhnya pada apa yang bisa hilang.
Dalam kehidupan sehari-hari, pergeseran ini sering tidak disadari. Seseorang mungkin bekerja keras untuk mencapai stabilitas, tetapi perlahan hidupnya diukur hanya dari capaian. Ia mungkin belajar banyak, tetapi pengetahuan menjadi sekadar angka. Ia mungkin menjalani ibadah, tetapi kehilangan kedalaman dalam melakukannya.
Di sinilah refleksi menjadi penting: apakah kita hidup untuk memiliki, atau untuk menjadi?
Menariknya, orientasi “menjadi” tidak berarti pasif. Ia bukan tentang meninggalkan dunia, tetapi tentang mengubah cara berada di dalam dunia. Seseorang tetap bekerja, tetapi tidak sepenuhnya diukur oleh hasil. Ia tetap memiliki sesuatu, tetapi tidak sepenuhnya terikat padanya. Ia tetap berinteraksi, tetapi tidak mengubah relasi menjadi kepemilikan.
Dalam arti ini, “menjadi” adalah bentuk kebebasan yang lebih dalam. Bukan kebebasan untuk memiliki lebih banyak, tetapi kebebasan dari ketergantungan pada kepemilikan itu sendiri.
Jika dibaca dalam konteks yang lebih luas, buku To Have or To Be bukan sekadar kritik sosial, tetapi juga undangan reflektif. Ia mengajak manusia untuk melihat kembali arah hidupnya, tanpa harus memberikan jawaban yang final.
Apakah hidup kita semakin penuh karena kita memiliki lebih banyak, atau justru semakin sempit karena kita terlalu terikat pada apa yang kita miliki? Apakah kita benar-benar mengalami hidup, atau hanya mengumpulkan tanda-tanda keberhasilan?
Pertanyaan-pertanyaan ini tidak selalu nyaman, tetapi mungkin perlu.
Essay ini tidak berusaha menolak dunia “memiliki” atau mengidealkan dunia “menjadi” secara mutlak. Ia lebih merupakan upaya untuk melihat bahwa di antara keduanya, terdapat pilihan-pilihan kecil yang membentuk arah hidup.
Dalam dunia yang terus mendorong akumulasi, mungkin ada nilai dalam kembali pada pengalaman. Dalam dunia yang mengukur segala sesuatu, mungkin ada ruang untuk hal-hal yang tidak terukur.
Dan mungkin, di situlah manusia menemukan dirinya—bukan dalam apa yang ia kumpulkan, tetapi dalam cara ia menjalani hidup yang tidak selalu bisa dimiliki.


