Ada satu hal dalam kehidupan beragama yang selalu terasa sulit dijelaskan secara tuntas: mengapa seseorang bisa berubah, sementara yang lain tetap sama?
Pertanyaan itu tidak selalu muncul dalam diskusi besar. Kadang ia hadir dalam pengamatan yang sederhana. Seseorang yang dulu jauh dari agama, tiba-tiba menjadi sangat dekat. Ada yang lama mencari, tetapi belum menemukan arah. Ada pula yang tampak begitu dekat dengan kebaikan, tetapi pelan-pelan menjauh tanpa alasan yang jelas.
Di situ saya mulai merasakan bahwa hidayah bukan sekadar hasil usaha, tetapi juga sesuatu yang memiliki sisi misteri.
Sebagai manusia, kita terbiasa berpikir dalam pola sebab-akibat. Jika seseorang belajar, ia akan tahu. Jika seseorang berusaha, ia akan berhasil. Pola ini masuk akal dalam banyak hal. Tetapi ketika berbicara tentang hidayah, pola itu tidak selalu bekerja dengan cara yang sama.
Ada orang yang tumbuh dalam lingkungan religius, tetapi tetap merasa jauh. Ada yang tidak pernah mendapatkan pendidikan agama secara formal, tetapi justru menemukan kedekatan yang dalam. Ada yang mendengar nasihat berkali-kali tanpa perubahan, tetapi suatu hari berubah hanya karena satu pengalaman kecil.
Di situ, saya merasa bahwa ada sesuatu yang tidak sepenuhnya bisa kita kendalikan. Al-Qur’an menyentuh hal ini dengan cara yang sangat halus:
“Sesungguhnya engkau tidak dapat memberi hidayah kepada siapa yang engkau cintai, tetapi Allah memberi hidayah kepada siapa yang Dia kehendaki.”
(QS. Al-Qashash: 56)
Ayat ini sering dibaca, tetapi maknanya terasa semakin dalam ketika kita mengalaminya. Bahkan seorang nabi tidak memiliki kuasa penuh atas hidayah orang yang paling ia cintai. Ada batas dalam usaha manusia, dan di luar batas itu, ada wilayah yang menjadi rahasia Tuhan.
Kesadaran ini membawa dua perasaan sekaligus. Di satu sisi, ia bisa membuat kita merasa kecil—karena ternyata tidak semua hal bisa kita usahakan hingga berhasil. Tetapi di sisi lain, ia juga menghadirkan ketenangan—bahwa kita tidak sepenuhnya memikul beban perubahan itu sendirian.
Saya mulai melihat bahwa hidayah bukan sesuatu yang bisa dipaksakan, baik kepada diri sendiri maupun kepada orang lain. Kita bisa mengingatkan, mendampingi, memberi contoh, tetapi kita tidak bisa memastikan hasilnya. Ada ruang yang tidak bisa kita jangkau.
Kadang hal ini terasa tidak adil. Mengapa seseorang begitu mudah menemukan jalan, sementara yang lain harus bergulat begitu lama? Mengapa ada yang diberi kejelasan, sementara yang lain masih berjalan dalam keraguan?
Pertanyaan-pertanyaan itu tidak selalu memiliki jawaban yang memuaskan. Tetapi mungkin memang bukan itu yang ingin diberikan. Mungkin yang ingin ditumbuhkan adalah kerendahan hati—bahwa kita tidak sepenuhnya memahami cara kerja Tuhan.
Di titik ini, saya juga mulai melihat diri sendiri. Jika hari ini saya merasa dekat dengan iman, apakah itu semata-mata hasil usaha saya? Ataukah ada bagian yang tidak saya sadari, yang diberikan tanpa saya minta?
Kesadaran itu membuat saya lebih berhati-hati dalam menilai orang lain. Karena apa yang tampak di permukaan tidak selalu mencerminkan perjalanan batin seseorang. Ada proses yang tidak terlihat, ada pergulatan yang tidak terdengar.
Saya juga belajar bahwa meski hidayah memiliki sisi misteri, manusia tetap diminta untuk berusaha. Al-Qur’an tetap mengajak untuk berpikir, untuk mencari, untuk mendekat. Usaha tidak dihilangkan, tetapi hasilnya tidak sepenuhnya ditentukan oleh usaha itu sendiri.
Mungkin hidayah berada di antara keduanya—antara ikhtiar manusia dan kehendak Tuhan. Kita berjalan sejauh yang kita mampu, dan di titik tertentu, sesuatu terbuka dengan cara yang tidak selalu bisa dijelaskan.
Dalam kehidupan sehari-hari, ini membuat saya melihat iman dengan cara yang lebih lembut. Tidak terlalu cepat merasa berhasil, tetapi juga tidak terlalu cepat putus asa. Karena jalan setiap orang berbeda, dan waktunya pun tidak selalu sama.
Saya tidak tahu kapan dan bagaimana hidayah datang dalam hidup seseorang. Tetapi saya mulai percaya bahwa ia sering hadir dalam cara yang tidak kita duga. Dalam percakapan kecil, dalam peristiwa sederhana, dalam momen sunyi yang tiba-tiba terasa berbeda.
Dan mungkin, yang bisa kita lakukan hanyalah menjaga diri tetap terbuka. Tetap berjalan, tetap mencari, tetap berharap—tanpa merasa bahwa kita sepenuhnya mengendalikan arah.
Karena pada akhirnya, hidayah bukan hanya sesuatu yang dicari, tetapi juga sesuatu yang diterima. Dan di situlah ia menjadi misteri yang tidak melemahkan iman, tetapi justru membuatnya lebih rendah hati.


