Ada sesuatu yang berjalan terus tanpa pernah benar-benar terasa suaranya: waktu. Ia tidak mengetuk pintu. Tidak meminta izin. Tidak berhenti meski manusia sedang bahagia, sedih, sibuk, atau terluka. Setiap hari terasa biasa, tetapi diam-diam ada yang terus berkurang. Bukan hanya kalender, bukan hanya angka usia, tetapi jatah hidup itu sendiri.
Mungkin karena itu, surat Al-‘Ashr terasa begitu sunyi sekaligus mengguncang. Allah bersumpah demi waktu, lalu segera menyatakan:
“Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian.” (QS. Al-‘Ashr: 2)
Kalimat itu pendek, tetapi seperti membuka kesadaran yang sering dihindari manusia. Bahwa hidup ini sebenarnya sedang bergerak menuju pengurangan. Setiap hari yang berlalu bukan hanya penambahan pengalaman, tetapi juga pengurangan kesempatan.
Anehnya, manusia sering merasa sedang “menghabiskan waktu”, padahal sebenarnya waktulah yang sedang menghabiskan manusia.
Ada hari-hari yang berlalu begitu cepat tanpa benar-benar diingat. Pagi menjadi malam, minggu menjadi bulan, tahun berganti tanpa terasa. Manusia sibuk mengejar banyak hal, tetapi jarang berhenti untuk bertanya: apa yang sebenarnya tersisa dari semua itu?
Di tengah ritme kehidupan yang terus bergerak, waktu terasa seperti sesuatu yang tak terbatas. Padahal diam-diam, hidup sedang dipendekkan sedikit demi sedikit.
Barangkali karena itulah Allah menyebut manusia berada dalam kerugian. Bukan karena manusia selalu gagal, tetapi karena waktu selalu menang. Tidak ada yang mampu menahannya. Tidak ada yang bisa meminta satu hari kembali.
Namun surat itu tidak berhenti pada kesedihan. Di tengah kesadaran bahwa hidup terus berkurang, ada pengecualian yang terasa sangat dalam:
“Kecuali orang-orang yang beriman, beramal saleh, dan saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.” (QS. Al-‘Ashr: 3)
Ayat ini seperti membuka jalan kecil di tengah arus waktu yang terus mengikis manusia. Bahwa ada hal-hal tertentu yang tidak sepenuhnya habis dimakan waktu.
Iman, misalnya. Ia mungkin tidak terlihat, tetapi memberi makna pada hidup yang singkat. Amal saleh pun demikian. Sebuah kebaikan kecil bisa hidup jauh lebih lama daripada usia pelakunya. Kata-kata yang menguatkan seseorang, bantuan yang mungkin dianggap sederhana, doa yang tidak diketahui siapa pun—semuanya bisa melampaui umur manusia itu sendiri.
Begitu juga kebenaran dan kesabaran. Dunia berubah, zaman berganti, manusia datang dan pergi, tetapi nilai-nilai itu tetap dicari. Seolah ada sesuatu dalam diri manusia yang tahu bahwa tanpa kebenaran dan kesabaran, hidup akan runtuh oleh waktunya sendiri.
Saya sering merasa bahwa manusia sebenarnya hidup di antara dua kesadaran yang saling bertabrakan. Di satu sisi, kita tahu hidup ini singkat. Di sisi lain, kita menjalani hari-hari seolah semuanya masih sangat panjang.
Mungkin karena itu, waktu baru terasa berharga ketika sesuatu mulai hilang. Ketika usia bertambah, ketika orang-orang yang dulu bersama mulai pergi satu per satu, ketika tubuh tidak lagi sekuat dulu. Di situ manusia mulai sadar bahwa waktu bukan sekadar latar kehidupan—ia adalah kehidupan itu sendiri.
Namun refleksi tentang waktu seharusnya tidak hanya melahirkan ketakutan. Ada sesuatu yang justru terasa menenangkan dalam surat pendek itu: bahwa hidup tidak diukur semata dari panjangnya, tetapi dari apa yang ditanam di dalamnya.
Seseorang bisa hidup sangat lama, tetapi berlalu begitu saja. Sementara yang lain hidup singkat, tetapi meninggalkan jejak yang terus hidup dalam hati manusia.
Barangkali itulah makna dari hal-hal yang melampaui waktu. Bahwa iman membuat hidup tidak berhenti pada tubuh. Amal saleh membuat keberadaan seseorang tetap terasa bahkan setelah ia tiada. Kebenaran menjaga manusia dari kehilangan arah. Dan kesabaran membuat manusia mampu bertahan di tengah kefanaan.
Di hadapan waktu, manusia memang rapuh. Tetapi mungkin manusia tidak sepenuhnya kalah, selama ada sesuatu di dalam dirinya yang tetap hidup melampaui usia.
Dan mungkin, di situlah letak harapan yang paling sunyi dari surat Al-‘Ashr: bahwa meski waktu terus mengambil bagian hidup manusia, masih ada hal-hal yang bisa membuat hidup tidak benar-benar habis.


