Saya mulai menyadari sesuatu yang tidak selalu terlihat: bahwa apa yang saya yakini hari ini, pelan-pelan dibentuk oleh apa yang saya lihat setiap hari.
Layar kecil di tangan saya tidak pernah benar-benar netral. Ia memilihkan apa yang muncul, menyusun apa yang saya baca, dan mengulang apa yang saya sukai. Tanpa saya sadari, dunia saya menjadi semakin sempit—bukan karena saya membatasi diri, tetapi karena saya dipandu untuk melihat yang itu-itu saja.
Di situ, saya mulai bertanya: apakah iman saya benar-benar lahir dari pencarian, atau hanya dari paparan?
Algoritma bekerja dengan sederhana—ia memberi lebih banyak dari apa yang kita tonton. Jika saya sering melihat konten tertentu, ia akan menguatkannya. Jika saya menyukai satu jenis pandangan, ia akan menutup kemungkinan pandangan lain. Pelan-pelan, saya merasa benar—bukan karena saya sudah mencari dengan jujur, tetapi karena saya tidak lagi melihat alternatif.
Dalam suasana seperti itu, iman bisa terasa kuat, tetapi sebenarnya rapuh. Ia tidak diuji oleh perbedaan, tidak diperkaya oleh dialog, tidak diperdalam oleh pertanyaan. Ia hanya diperkuat oleh pengulangan.
Saya mulai merasa bahwa tantangan beriman hari ini bukan hanya tentang keraguan, tetapi juga tentang ilusi kepastian. Ketika semua yang saya lihat seolah mendukung apa yang saya yakini, saya berhenti bertanya. Dan ketika saya berhenti bertanya, saya mungkin juga berhenti bertumbuh.
Al-Qur’an pernah mengingatkan dengan cara yang sangat halus:
“Maka berilah kabar gembira kepada hamba-hamba-Ku, yaitu mereka yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti yang terbaik di antaranya.”
(QS. Az-Zumar: 17–18)
Ayat ini terasa sangat relevan. Ia tidak memuji mereka yang hanya mendengar satu suara, tetapi mereka yang mendengar banyak, lalu memilih dengan kesadaran. Ada proses, ada penilaian, ada kejujuran dalam mencari.
Tetapi di era algoritma, mendengar banyak suara menjadi semakin sulit. Kita hidup dalam ruang gema—echo chamber—di mana suara kita dipantulkan kembali, seolah-olah itulah seluruh dunia.
Saya mulai menyadari bahwa menjaga iman hari ini juga berarti menjaga cara saya mengonsumsi dunia. Apa yang saya lihat, siapa yang saya dengar, bagaimana saya merespons—semuanya membentuk batin saya.
Ada kalanya saya merasa lelah dengan arus informasi yang tidak berhenti. Setiap hari ada pendapat baru, perdebatan baru, klaim kebenaran yang disampaikan dengan sangat yakin. Dalam kebisingan itu, iman bisa berubah menjadi reaksi cepat—bukan refleksi yang dalam.
Saya belajar untuk berhenti sejenak. Tidak semua yang muncul di layar harus segera saya tanggapi. Tidak semua yang viral harus saya percayai. Dan tidak semua yang terasa benar benar-benar berasal dari pencarian yang jujur.
Iman, dalam pengertian ini, menjadi latihan kesadaran. Kesadaran untuk tidak sepenuhnya menyerahkan diri pada arus. Kesadaran untuk tetap mencari, meski lebih sulit. Kesadaran untuk membuka diri pada kemungkinan bahwa saya belum sepenuhnya mengerti.
Saya juga mulai melihat bahwa iman yang matang tidak takut pada perbedaan. Ia tidak runtuh hanya karena bertemu pandangan lain. Justru dalam perjumpaan itulah ia menemukan kedalaman.
Algoritma mungkin membentuk apa yang saya lihat. Tetapi ia tidak harus menentukan apa yang saya yakini.
Di titik itu, saya merasa perlu kembali pada sesuatu yang lebih sunyi—pada ruang di mana saya bisa berpikir tanpa gangguan, membaca tanpa distraksi, dan berdoa tanpa notifikasi.
Karena mungkin, di tengah dunia yang terus berbicara, iman justru tumbuh dalam keheningan.
Saya belum sepenuhnya lepas dari pengaruh algoritma. Masih sering terseret, masih sering bereaksi. Tetapi setidaknya saya mulai sadar bahwa iman bukan hanya soal apa yang saya yakini, tetapi juga bagaimana saya sampai pada keyakinan itu.
Dan di zaman seperti ini, menjaga iman mungkin bukan hanya tentang memperkuat keyakinan, tetapi juga tentang menjaga kejernihan cara kita melihat dunia.



