Mengapa Beragama Hari Ini Berbeda? Membaca Charles Taylor di Zaman Modern

Dalam A Secular Age, Charles Taylor tidak sekadar bertanya mengapa agama menurun atau bertahan, tetapi mengajukan pertanyaan yang lebih mendasar: apa yang sebenarnya berubah dalam cara manusia beriman?

Pertanyaan ini penting, karena sering kali kita mengira bahwa perubahan agama hanya soal jumlah—lebih banyak atau lebih sedikit orang beragama. Padahal yang berubah bukan hanya kuantitas, tetapi kualitas pengalaman beragama itu sendiri. Cara manusia memahami Tuhan, dunia, dan dirinya telah mengalami pergeseran yang tidak selalu disadari.

Taylor menyebut bahwa dunia modern bukan dunia tanpa agama, tetapi dunia di mana beriman menjadi salah satu kemungkinan di antara banyak kemungkinan lain.


Dalam masyarakat pra-modern, beriman bukanlah pilihan dalam arti yang kita pahami hari ini. Ia lebih merupakan kondisi default. Dunia dipahami sebagai sesuatu yang secara inheren terbuka pada yang transenden. Kehidupan sehari-hari, alam, dan komunitas terjalin dengan makna religius.

Dalam kondisi seperti itu, sulit membayangkan hidup tanpa Tuhan. Bukan karena semua orang memiliki iman yang sama kuat, tetapi karena kerangka berpikir yang tersedia hampir tidak menyediakan alternatif.

Namun dunia modern berbeda. Ia membuka ruang bagi berbagai cara memahami realitas—ilmiah, sekuler, individual, bahkan skeptis. Tuhan tidak lagi menjadi satu-satunya horizon makna. Ia menjadi salah satu pilihan di antara banyak kemungkinan.

Di sinilah perubahan itu terjadi.


Taylor menggambarkan bahwa manusia modern hidup dalam apa yang ia sebut sebagai “immanent frame”—kerangka dunia yang dapat dijelaskan tanpa harus merujuk pada yang transenden. Dalam kerangka ini, kehidupan bisa dipahami secara penuh melalui hukum alam, rasionalitas, dan pengalaman manusia itu sendiri.

Ini tidak berarti bahwa Tuhan tidak ada, tetapi bahwa keberadaan Tuhan tidak lagi dianggap sebagai penjelasan yang otomatis diperlukan. Seseorang bisa hidup sepenuhnya dalam dunia ini tanpa harus merujuk pada sesuatu di luar dunia.

Akibatnya, beriman menjadi sebuah pilihan yang sadar—bukan sesuatu yang diwarisi tanpa pertanyaan.


Dalam kondisi ini, pengalaman beragama berubah. Iman tidak lagi berdiri di atas kepastian sosial, tetapi sering berada dalam ketegangan. Seseorang bisa beriman, tetapi sekaligus menyadari bahwa ia hidup di antara berbagai pandangan lain yang berbeda.

Keraguan menjadi bagian dari iman, bukan sekadar ancaman terhadapnya. Pilihan menjadi lebih personal, tetapi juga lebih rentan.

Di sini, beragama tidak lagi hanya tentang mengikuti tradisi, tetapi juga tentang menegosiasikan makna.


Namun perubahan ini tidak sepenuhnya negatif. Dalam beberapa hal, ia justru membuka ruang bagi bentuk religiositas yang lebih reflektif. Ketika iman tidak lagi otomatis, ia menuntut pemahaman yang lebih dalam. Ketika tidak ada jaminan sosial, komitmen menjadi lebih personal.

Seseorang tidak hanya beriman karena lingkungan, tetapi karena ia memilih untuk beriman.

Namun pilihan ini juga membawa beban. Tanpa kerangka yang stabil, manusia harus terus mencari, mempertanyakan, dan menegaskan kembali posisinya. Iman menjadi perjalanan yang tidak selalu pasti.


Dalam perspektif Islam, kesadaran tentang pilihan ini sebenarnya tidak sepenuhnya asing. Al-Qur’an menyatakan:

“Dan katakanlah: kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barang siapa yang ingin beriman, hendaklah ia beriman, dan barang siapa yang ingin kafir, biarlah ia kafir.” (QS. Al-Kahfi: 29)

Ayat ini menunjukkan bahwa iman memiliki dimensi pilihan. Ia tidak dipaksakan, tetapi dihadirkan sebagai kemungkinan yang harus direspons. Dalam konteks modern, ayat ini menjadi semakin relevan, karena manusia hidup dalam dunia di mana berbagai pilihan tersedia secara terbuka.

Namun perbedaannya, dalam perspektif ini, pilihan tidak berarti relativisme penuh. Kebenaran tetap diakui, tetapi manusia diberi ruang untuk meresponsnya.


Menariknya, Taylor juga menunjukkan bahwa dunia sekuler tidak sepenuhnya bebas dari kebutuhan akan makna. Bahkan ketika agama melemah secara institusional, pencarian makna tetap ada—dalam bentuk spiritualitas baru, pencarian diri, atau upaya memahami tujuan hidup.

Ini menunjukkan bahwa kebutuhan akan makna tidak hilang. Ia hanya berubah bentuk.

Dalam konteks ini, agama tidak selalu hilang, tetapi bertransformasi.


Jika demikian, maka beragama hari ini memang berbeda. Bukan karena agama kehilangan relevansi, tetapi karena kondisi di mana agama dijalani telah berubah. Manusia tidak lagi hidup dalam dunia yang sepenuhnya ditentukan oleh satu kerangka makna. Ia hidup di antara berbagai kemungkinan, dan harus memilih di antaranya.

Dalam kondisi ini, iman menjadi lebih sadar, tetapi juga lebih kompleks.


Essay ini tidak berusaha menyimpulkan apakah perubahan ini lebih baik atau lebih buruk. Ia lebih merupakan ajakan untuk memahami bahwa cara manusia beriman tidak berdiri di luar sejarah. Ia dipengaruhi oleh kondisi sosial, budaya, dan intelektual yang terus berubah.

Membaca Charles Taylor membantu kita melihat bahwa beragama hari ini bukan sekadar melanjutkan tradisi, tetapi juga menghadapi dunia yang berbeda. Dunia di mana iman bukan lagi satu-satunya kemungkinan, tetapi tetap menjadi salah satu cara memahami kehidupan.

Dan mungkin, di situlah tantangan sekaligus peluangnya: bahwa di tengah banyaknya pilihan, manusia tetap mencari—bukan hanya apa yang benar, tetapi bagaimana ia hidup dengan apa yang ia yakini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *