Ada satu kecenderungan yang semakin terasa di zaman ini, tetapi tidak selalu mudah dikenali. Kita mulai mendekati agama dengan cara yang mirip ketika kita memilih apa yang ingin kita lihat di layar: yang sesuai, yang menenangkan, yang tidak mengganggu.
Awalnya hal itu terasa wajar. Setiap orang tentu lebih mudah menerima sesuatu yang dekat dengan dirinya. Kita cenderung memilih ceramah yang membuat hati tenang, mengikuti pemikiran yang terasa sejalan, dan menyimpan kutipan-kutipan yang memberi rasa damai. Namun semakin lama, saya mulai menyadari bahwa di balik kenyamanan itu, ada sesuatu yang perlahan berubah.
Agama tidak lagi sepenuhnya kita terima sebagai sebuah keseluruhan, tetapi mulai kita dekati sebagai sesuatu yang bisa dipilih.
Saya melihatnya pertama-tama dalam diri sendiri. Ada ayat-ayat yang mudah saya dekati karena ia memberi harapan, memberi rasa diterima, dan menghadirkan ketenangan. Tetapi ada pula ayat-ayat yang saya baca dengan lebih cepat, bahkan tanpa saya sadari saya lewati begitu saja. Ayat-ayat yang berbicara tentang tanggung jawab, tentang batas, tentang perubahan diri, terasa lebih berat untuk saya hadapi.
Di situ muncul pertanyaan yang pelan tetapi cukup dalam: apakah saya sedang mendekati Tuhan, atau sedang membentuk pengalaman beragama yang sesuai dengan kenyamanan saya sendiri?
Dunia digital memperkuat kecenderungan ini dengan cara yang hampir tidak terasa. Algoritma bekerja diam-diam, menyajikan apa yang kita sukai dan menghindarkan kita dari apa yang membuat kita tidak nyaman. Kita pun hidup dalam ruang yang terasa selaras dengan diri kita, termasuk dalam hal spiritualitas. Kita mendengar lebih banyak tentang rahmat, tetapi tidak selalu tentang tanggung jawab. Kita akrab dengan bahasa cinta Tuhan, tetapi tidak selalu dengan tuntutan untuk berubah.
Dalam ruang yang seperti itu, iman bisa terasa damai, tetapi mungkin juga menjadi sempit.
Al-Qur’an sendiri tidak pernah berbicara dalam satu nada saja. Ia menghadirkan harapan sekaligus peringatan, kelembutan sekaligus ketegasan. Ia tidak membiarkan manusia tinggal hanya dalam satu sisi pengalaman. Dalam salah satu ayatnya, ada sebuah pertanyaan yang terasa sederhana, tetapi menggugah:
“Apakah kamu beriman kepada sebagian Kitab dan mengingkari sebagian yang lain?”
(QS. Al-Baqarah: 85)
Ayat ini tidak datang dengan nada menghakimi, tetapi seperti cermin yang mengajak kita melihat diri sendiri. Sejauh mana kita benar-benar menerima ajaran sebagai sesuatu yang utuh, dan sejauh mana kita hanya mengambil bagian yang sesuai dengan keinginan kita?
Saya mulai memahami bahwa spiritualitas yang terlalu terkurasi memiliki risiko yang halus. Ia membuat kita merasa dekat, tetapi tidak selalu mendorong kita untuk bertumbuh. Ia memberi ketenangan, tetapi tidak selalu menghadirkan kejujuran. Padahal dalam pengalaman iman, kedekatan dengan Tuhan tidak selalu lahir dari kenyamanan. Ada saat-saat ketika justru kegelisahan membawa kita lebih dekat, karena ia memaksa kita untuk melihat diri dengan lebih jernih.
Agama, dalam pengertian yang lebih dalam, bukan hanya tempat untuk merasa baik, tetapi juga ruang untuk menjadi lebih baik. Dan menjadi lebih baik tidak selalu terasa ringan. Ada bagian-bagian dalam diri yang perlu dihadapi, kebiasaan yang perlu diubah, dan cara pandang yang perlu diperluas.
Refleksi ini tidak membuat saya ingin menolak sisi lembut dari agama. Saya tetap membutuhkan ayat-ayat yang menenangkan dan doa-doa yang menguatkan. Tetapi saya mulai menyadari bahwa saya juga perlu memberi ruang bagi bagian-bagian yang menantang. Bukan untuk membuat hidup lebih berat, tetapi agar iman tidak berhenti pada kenyamanan.
Di tengah dunia yang memungkinkan kita memilih hampir segala sesuatu, mungkin yang perlu dijaga adalah keberanian untuk tidak selalu memilih yang paling mudah diterima. Untuk tetap membuka diri pada hal-hal yang membuat kita berpikir, bahkan ketika itu tidak sepenuhnya nyaman.
Karena mungkin, dalam perjalanan menuju Tuhan, yang membentuk kita bukan hanya apa yang menenangkan, tetapi juga apa yang menggugah.
Dan di situlah spiritualitas berhenti menjadi sesuatu yang kita susun sesuai keinginan, dan mulai menjadi sesuatu yang benar-benar membentuk diri kita—pelan, tetapi mendalam.


