Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sering dipahami melalui kategori-kategori sederhana seperti laki-laki dan perempuan, kaya dan miskin, kota dan desa, mayoritas dan minoritas. Namun realitas sosial sesungguhnya jauh lebih kompleks daripada pembagian-pembagian tersebut. Setiap orang hidup dalam persimpangan berbagai identitas sosial yang saling memengaruhi pengalaman hidupnya. Karena itu, dua orang perempuan belum tentu mengalami dunia yang sama, sebagaimana dua orang laki-laki juga dapat menghadapi realitas sosial yang sangat berbeda.
Seorang mahasiswi dari keluarga mapan di kota besar tentu memiliki pengalaman pendidikan yang berbeda dibanding mahasiswi desa dengan keterbatasan ekonomi dan akses internet. Seorang perempuan pekerja informal menghadapi tantangan yang berbeda dibanding perempuan profesional kelas menengah. Bahkan dalam program yang tampak “terbuka untuk semua”, sering terdapat kelompok tertentu yang lebih mudah memperoleh akses, lebih didengar, lebih diuntungkan, atau justru lebih rentan tertinggal.
Pendekatan interseksional lahir dari kesadaran bahwa ketidakadilan sosial tidak pernah berdiri sendiri. Gender beririsan dengan kelas sosial, agama, usia, pendidikan, budaya, wilayah geografis, teknologi, dan berbagai faktor lain yang membentuk pengalaman manusia. Oleh karena itu, memahami masyarakat tidak cukup hanya membandingkan laki-laki dan perempuan secara sederhana. Kita perlu melihat bagaimana berbagai identitas sosial saling bertemu dan menghasilkan pengalaman yang berbeda-beda.
Perkuliahan ini mengajak mahasiswa memahami intersectionality sebagai alat membaca kompleksitas kehidupan sosial kontemporer. Melalui pendekatan ini, mahasiswa tidak hanya belajar teori, tetapi juga belajar mengenali bentuk-bentuk ketimpangan yang sering tersembunyi di balik kebijakan, program, organisasi, media digital, pendidikan, maupun kehidupan sehari-hari. Dengan cara itu, analisis sosial menjadi lebih sensitif, manusiawi, dan mampu memahami keragaman pengalaman manusia secara lebih mendalam.
Dalam praktiknya, pendekatan interseksional juga sangat relevan di era digital saat ini. Ketimpangan tidak hanya muncul dalam bentuk ekonomi atau gender semata, tetapi juga dalam akses teknologi, visibilitas media sosial, kemampuan digital, hingga algoritma yang membentuk siapa yang terlihat dan siapa yang tersisih. Karena itu, kemampuan melakukan analisis interseksional menjadi keterampilan penting bagi mahasiswa untuk memahami masyarakat modern yang semakin kompleks dan berlapis.


