Komunikasi dan Praktik Sosial Sehari-Hari

Komunikasi tidak hanya berlangsung dalam media massa, ruang publik, konflik politik, atau teknologi digital. Komunikasi juga hidup dalam praktik sosial sehari-hari: cara orang menyapa, bercanda, meminta tolong, memberi nasihat, menegur, diam, menunggu giliran bicara, mengirim pesan, memakai emoji, atau menyesuaikan bahasa dengan lawan bicara. Hal-hal yang tampak biasa ini sebenarnya menyimpan makna sosial yang penting.

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia terus-menerus mengikuti aturan komunikasi yang sering tidak tertulis. Kita tahu kapan harus berbicara formal, kapan boleh bercanda, kapan harus diam, kapan perlu meminta maaf, dan bagaimana menyampaikan kritik agar tidak mempermalukan orang lain. Aturan-aturan ini tidak selalu diajarkan secara langsung, tetapi dipelajari melalui keluarga, sekolah, kampus, organisasi, tempat kerja, komunitas, dan pergaulan.

Praktik komunikasi sehari-hari juga menunjukkan adanya identitas, kedekatan, jarak sosial, dan relasi kuasa. Cara mahasiswa berbicara kepada dosen berbeda dari cara berbicara kepada teman dekat. Cara anak menjawab orang tua berbeda dari cara ia berbicara di grup teman sebaya. Cara seseorang tampil dalam rapat berbeda dari caranya berbicara di ruang santai. Perbedaan ini menunjukkan bahwa komunikasi selalu menyesuaikan diri dengan situasi sosial.

Tema ini mengajak mahasiswa melihat bahwa kehidupan sehari-hari bukan sesuatu yang sederhana. Grup WhatsApp keluarga, rapat organisasi, percakapan di kantin, komentar media sosial, sapaan di kampus, antrean, humor, gosip, dan pesan singkat dapat dibaca sebagai praktik sosial. Di dalamnya ada aturan, kebiasaan, peran, simbol, emosi, hierarki, dan strategi menjaga hubungan.

Dalam perkuliahan ini, mahasiswa akan diperkenalkan pada beberapa teori penting. Practice theory membantu memahami masyarakat sebagai rangkaian tindakan berulang yang bermakna. Teori dramaturgi Erving Goffman menjelaskan bagaimana manusia mengelola kesan dalam kehidupan sosial. Etnometodologi Harold Garfinkel memperlihatkan aturan diam-diam dalam interaksi. Konsep habitus Pierre Bourdieu membantu membaca kebiasaan sosial yang terasa alami, sedangkan interaksionisme simbolik menjelaskan bagaimana makna dibentuk dalam hubungan sehari-hari.

Melalui tema ini, mahasiswa diharapkan mampu membaca kehidupan sehari-hari secara sosiologis. Mahasiswa diajak bertanya: aturan tak tertulis apa yang bekerja dalam percakapan ini? Siapa yang boleh bicara dan siapa yang diam? Bahasa apa yang dianggap sopan? Kesan apa yang sedang dikelola? Makna apa yang dinegosiasikan? Relasi sosial apa yang sedang dibentuk atau dipertahankan?

Dengan demikian, komunikasi sehari-hari bukan sekadar kebiasaan biasa. Ia adalah tempat masyarakat diproduksi ulang setiap hari. Melalui sapaan, pesan, gestur, candaan, diam, dan percakapan kecil, manusia membangun kedekatan, menjaga jarak, memperkuat identitas, menjalankan kuasa, dan merawat keteraturan sosial. Sosiologi komunikasi membantu kita melihat bahwa yang tampak sederhana dalam kehidupan sehari-hari sebenarnya penuh makna.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *