Jika Kita Tak Lagi Ingin Mati

Kematian barangkali adalah pengetahuan pertama yang benar-benar dimiliki manusia tentang masa depannya. Banyak hal dapat berubah: pekerjaan, tempat tinggal, keyakinan, kekayaan, bahkan orang-orang yang dicintai. Tetapi ada satu kepastian yang tidak pernah berhasil dinegosiasikan: kehidupan akan berakhir.

Anehnya, justru kepastian itulah yang paling sulit diterima.

Selama ribuan tahun manusia membangun berbagai cara untuk berdamai dengan kematian. Agama menjanjikan kehidupan setelahnya. Filsafat mencoba memberikan makna kepada kefanaan. Kebudayaan menciptakan ritual untuk mengantar mereka yang pergi. Makam, doa, tahlil, upacara, dan ingatan menjadi cara orang-orang yang masih hidup berhadapan dengan sesuatu yang tidak dapat mereka batalkan.

Tetapi sains modern membawa kemungkinan yang agak berbeda. Kematian tidak lagi hanya dipikirkan sebagai nasib eksistensial. Ia mulai diperlakukan sebagai persoalan biologis.

Jika manusia mati karena tubuh menua, dan penuaan terjadi karena serangkaian proses biologis tertentu, bukankah proses itu mungkin diperlambat? Jika sel kehilangan kemampuan memperbaiki dirinya, bukankah mekanisme perbaikannya dapat diperkuat? Jika organ rusak, mengapa tidak diganti? Jika penyakit yang dahulu mematikan kini dapat disembuhkan, mengapa penuaan sendiri harus diterima begitu saja?

Pertanyaan-pertanyaan semacam inilah yang menghidupkan Why We Die karya Venki Ramakrishnan. Buku itu berbicara tentang biologi penuaan, tetapi diam-diam membawa pembacanya kepada persoalan yang jauh lebih tua daripada biologi: mengapa manusia harus mati?


Ramakrishnan memulai dari sesuatu yang terdengar sederhana tetapi sebenarnya mengganggu: kematian akibat usia tua bukanlah sebuah peristiwa tunggal.

Tubuh tidak memiliki sebuah tombol yang tiba-tiba memerintahkan kehidupan untuk berhenti. Penuaan berlangsung melalui begitu banyak proses yang saling berhubungan. DNA mengalami kerusakan. Protein kehilangan kemampuan mempertahankan bentuk dan fungsinya. Mitokondria tidak lagi bekerja seefisien sebelumnya. Sel-sel tertentu berhenti membelah tetapi tidak mati, lalu menumpuk dan mengganggu jaringan di sekitarnya. Sistem kekebalan berubah. Kemampuan tubuh memperbaiki kerusakan perlahan menurun.

Dengan kata lain, manusia tidak tiba-tiba menjadi tua. Tubuh perlahan kehilangan kemampuannya untuk tetap muda.

Perbedaan itu penting. Sebab jika penuaan merupakan proses, maka secara teoritis proses itu dapat dipelajari. Dan apa yang dapat dipelajari biasanya mengundang keinginan berikutnya: mengendalikannya.

Dari sinilah lahir salah satu bidang sains paling menarik sekaligus paling kontroversial pada zaman ini: longevity science. Para ilmuwan mempelajari pembatasan kalori, telomer, sel senesen, perubahan epigenetik, cellular reprogramming, hingga berbagai senyawa yang mungkin memperpanjang healthspan—masa kehidupan ketika seseorang tetap sehat.

Di sekeliling sains itu tumbuh pula sebuah industri.

Ada suplemen, klinik anti-aging, tes biologis, diet umur panjang, perusahaan bioteknologi, investasi miliaran dolar, dan berbagai janji bahwa manusia mungkin segera hidup jauh lebih lama daripada yang pernah dibayangkan generasi sebelumnya.

Di titik inilah Ramakrishnan menarik untuk dibaca. Ia tidak menolak penelitian tentang penuaan. Sebaliknya, ia menjelaskan kemungkinan-kemungkinan biologisnya dengan serius. Tetapi ia juga menjaga jarak dari euforia yang mengelilinginya.

Ada perbedaan besar antara memperpanjang kehidupan sehat dan mengalahkan kematian. Perbedaan itu sering hilang ketika sains bertemu pasar.


Mungkin persoalan sebenarnya bukan bahwa manusia ingin hidup lebih lama. Keinginan itu sangat mudah dipahami.

Hampir tidak ada orang yang ingin meninggalkan dunia ketika masih ada seseorang yang ingin dipeluk, sebuah pekerjaan yang belum selesai, anak yang ingin dilihat tumbuh, buku yang belum dibaca, atau pagi yang masih ingin dinikmati.

Keinginan hidup bukan kelemahan manusia. Ia mungkin justru tanda bahwa kehidupan memiliki sesuatu yang sangat berharga.

Tetapi ada pergeseran halus ketika keinginan untuk hidup berubah menjadi ketidakmampuan menerima kematian. Pada titik itu, kematian tidak lagi dianggap sebagai batas kehidupan, tetapi sebagai kegagalan teknologi.

Bahasa kedokteran modern kadang tanpa sadar memperlihatkan cara berpikir ini. Kita “melawan” kanker. Kita “memerangi” penyakit. Kita “mengalahkan” penuaan. Kematian menjadi musuh terakhir yang harus ditaklukkan.

Tentu tidak ada yang salah dengan menyembuhkan penyakit. Membiarkan seseorang menderita atas nama penerimaan terhadap takdir bukanlah kebijaksanaan. Kedokteran justru lahir dari penolakan manusia untuk bersikap pasif terhadap penderitaan.

Namun pertanyaan lain tetap perlu diajukan: sampai di mana penyembuhan berakhir dan penolakan terhadap kefanaan dimulai?

Tidak ada garis yang mudah ditarik.


Tradisi Islam memasuki percakapan ini dari arah yang menarik.

Al-Qur’an tidak pernah menganggap keinginan hidup sebagai sesuatu yang aneh. Bahkan manusia digambarkan sangat mencintai kehidupan. Tetapi Al-Qur’an berulang kali mengganggu ilusi bahwa kehidupan dapat dimiliki tanpa batas.

Kullu nafsin dzā’iqatul maut. Setiap jiwa akan merasakan kematian.

Kalimat itu begitu sering didengar sehingga mudah kehilangan daya guncangnya. Ia berubah menjadi tulisan di kain duka, ucapan ketika seseorang meninggal, atau kutipan dalam ceramah tentang akhirat.

Padahal ada sesuatu yang radikal di dalamnya.

Kematian tidak disebut sebagai kecelakaan yang menimpa sebagian manusia. Ia melekat pada keberadaan manusia itu sendiri.

Yang menarik, Islam juga tidak mengajarkan penghinaan terhadap kehidupan. Umur panjang dapat menjadi karunia. Kesehatan harus dijaga. Penyakit perlu diobati. Nabi Muhammad sendiri menganjurkan ikhtiar pengobatan. Tubuh bukan sesuatu yang harus diabaikan demi kehidupan akhirat.

Maka ketegangannya bukan antara hidup dan mati. Ketegangannya terletak pada cara manusia memandang keduanya.

Islam tidak meminta manusia mencari kematian, tetapi juga tidak membiarkan manusia menganggap kehidupan sebagai milik yang dapat dipertahankan selamanya.

Barangkali di sinilah percakapan dengan longevity science menjadi menarik.


Bayangkan suatu hari sains benar-benar berhasil memperpanjang kehidupan manusia secara drastis. Bukan seratus tahun, tetapi dua ratus tahun. Atau tiga ratus. Apa yang akan terjadi?

Pertanyaan pertama mungkin terdengar biologis: apakah tubuh mampu bertahan selama itu? Tetapi pertanyaan berikutnya segera menjadi sosial.

Siapa yang dapat membeli umur panjang?

Jika teknologi anti-penuaan mahal, kehidupan panjang mungkin menjadi privilese kelas. Orang kaya tidak hanya memiliki rumah lebih baik, pendidikan lebih baik, dan layanan kesehatan lebih baik. Mereka mungkin juga memiliki sesuatu yang selama ini relatif demokratis: lebih banyak waktu hidup.

Ketimpangan kemudian tidak lagi hanya diukur dengan kekayaan, tetapi dengan tahun.

Ada orang yang mampu membeli tambahan puluhan tahun kehidupan, sementara orang lain masih meninggal karena penyakit yang sebenarnya dapat dicegah.

Di sana, persoalan longevity berubah dari pertanyaan sains menjadi pertanyaan keadilan. Dan pertanyaan berikutnya bahkan lebih rumit.

Jika manusia hidup dua ratus tahun, kapan sebuah generasi memberikan ruang kepada generasi berikutnya?

Apa yang terjadi pada kepemimpinan, kepemilikan, pekerjaan, dan kekuasaan ketika orang-orang yang telah memilikinya selama puluhan tahun tidak pernah benar-benar pergi?

Kematian, betapapun menyakitkan, ternyata juga memiliki fungsi sosial yang jarang dibicarakan: ia menciptakan pergantian.

Orang tua pergi. Anak-anak mengambil tempat. Pemimpin berganti. Kekayaan berpindah. Ide-ide lama kehilangan pemiliknya. Generasi baru mendapatkan kesempatan untuk membangun dunia yang berbeda.

Tanpa kematian, mungkin bukan hanya kehidupan yang menjadi panjang. Kekuasaan juga.


Tetapi ada pertanyaan yang lebih personal daripada semua itu. Jika manusia mempunyai waktu yang hampir tidak terbatas, apakah kehidupan tetap terasa berharga? Banyak hal menjadi berharga justru karena terbatas.

Pertemuan berarti karena akan ada perpisahan. Masa kecil anak terasa mengharukan karena tidak dapat diulang. Sebuah sore bersama orang tua terasa penting karena diam-diam diketahui bahwa jumlah sore semacam itu tidak tak terbatas. Bahkan keputusan memperoleh maknanya karena manusia tidak memiliki cukup waktu untuk memilih semuanya.

Memilih satu jalan berarti meninggalkan jalan lain. Kefanaan membuat pilihan menjadi serius. Barangkali itulah sebabnya Al-Qur’an tidak hanya berbicara tentang kematian, tetapi juga tentang waktu.

Wal-‘ashr. Demi masa.

Innal insāna lafī khusr. Manusia berada dalam kerugian.

Ayat itu dapat dibaca sebagai pernyataan eksistensial yang sangat dalam. Manusia merugi bukan pertama-tama karena miskin, gagal, atau kehilangan sesuatu. Manusia merugi karena setiap detik yang dimiliki segera berubah menjadi sesuatu yang tidak lagi dimiliki.

Umur bukan hanya bertambah. Ia juga berkurang.

Ulang tahun karena itu memiliki paradoks yang menarik. Seseorang berkata, “umurku bertambah satu tahun.” Tetapi dari sudut lain, jatah kehidupan justru berkurang satu tahun.

Mungkin manusia tidak sedang berjalan menuju usia yang lebih panjang. Manusia sedang menghabiskan waktu yang diberikan kepadanya.


Di sinilah pertanyaan tentang Why We Die perlahan berubah menjadi pertanyaan lain. Bukan lagi: mengapa kita mati? Tetapi: mengapa kita ingin hidup begitu lama?

Tidak ada satu jawaban. Ada cinta. Ada ketakutan. Ada rasa ingin tahu. Ada tanggung jawab. Ada keinginan melihat masa depan. Ada pula mungkin ketidakmampuan menerima bahwa suatu hari dunia akan berjalan tanpa kehadiran kita.

Yang terakhir ini mungkin yang paling sulit dibicarakan. Kematian bukan hanya kehilangan dunia. Kematian adalah menerima bahwa dunia tidak membutuhkan kita untuk terus berjalan.

Matahari tetap terbit. Orang-orang tetap bekerja. Anak-anak tumbuh. Kota tetap ramai. Pesan-pesan baru masuk ke telepon orang lain. Buku-buku baru diterbitkan. Perdebatan terus berlangsung. Kita tidak ada di dalamnya.

Barangkali itulah salah satu luka narsistik terbesar yang diberikan kematian kepada manusia: kesadaran bahwa kehidupan jauh lebih besar daripada dirinya. Dan mungkin karena itulah impian tentang keabadian begitu menggoda.


Sains tidak perlu dihentikan karena pertanyaan-pertanyaan semacam ini. Penelitian tentang penuaan dapat mengurangi penderitaan yang luar biasa. Jika seseorang dapat hidup delapan puluh tahun tanpa harus menghabiskan dua puluh tahun terakhirnya dengan penyakit degeneratif, itu adalah pencapaian kemanusiaan yang layak diperjuangkan.

Mungkin tujuan yang lebih menarik bukan immortality, tetapi healthspan. Bukan bagaimana manusia tidak pernah mati, tetapi bagaimana manusia dapat hidup dengan baik sebelum mati.

Perbedaan kecil dalam kalimat itu membawa perbedaan besar dalam cara memandang kehidupan. Yang pertama menjadikan kematian sebagai musuh. Yang kedua menerima kematian sebagai batas, sambil berusaha membuat kehidupan sebelum batas itu lebih manusiawi. Di antara keduanya terdapat wilayah yang masih akan terus diperdebatkan oleh biologi, kedokteran, filsafat, agama, ekonomi, dan mungkin generasi-generasi setelah kita.


Pada akhirnya, Why We Die mungkin menarik justru karena tidak ada jawaban ilmiah yang sepenuhnya dapat menjawab pertanyaan dalam judulnya. Biologi dapat menjelaskan bagaimana sel menua. Genetika dapat menjelaskan mekanisme kerusakan. Evolusi dapat membantu memahami mengapa seleksi alam tidak membuat organisme hidup selamanya. Kedokteran mungkin menemukan cara memperlambat sebagian proses tersebut.

Tetapi “mengapa kita harus mati” akhirnya bukan hanya pertanyaan tentang sel. Ia adalah pertanyaan tentang apa arti hidup karena kehidupan memiliki akhir.

Mungkin suatu hari manusia dapat hidup jauh lebih lama. Barangkali seratus dua puluh tahun menjadi biasa. Mungkin beberapa penyakit yang hari ini dianggap bagian alami dari penuaan dapat dicegah. Bahkan tidak mustahil batas-batas biologis yang sekarang dianggap tetap akan bergeser.

Tetapi ada satu pertanyaan yang mungkin tetap tinggal setelah semua laboratorium selesai bekerja: Jika akhirnya diberikan lebih banyak waktu, untuk apakah waktu itu digunakan? Sebab mungkin persoalan manusia selama ini bukan terutama karena umur terlalu pendek. Bisa jadi persoalannya justru karena manusia sering hidup seolah-olah tidak akan pernah mati.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *