Jam dinding di sudut masjid menunjuk angka 04.12. Lampu-lampu belum sepenuhnya padam ketika Sardi menurunkan sandalnya dari rak kayu paling bawah. Gerakannya pelan, seperti tak ingin mengganggu kesunyian yang tersisa setelah jamaah subuh beranjak pulang. Tangannya meraih sapu lidi yang disandarkan di tiang serambi. Ia mulai menyapu, dari sudut kiri ke kanan, mengikuti pola yang sama setiap hari.
Udara pagi masih basah. Bau karpet yang lembap bercampur dengan aroma kopi dari warung kecil di seberang jalan. Sardi berhenti sejenak, memijat pergelangan tangan kirinya. Di saku celana, ponsel jadulnya bergetar pelan. Ia tidak langsung mengambilnya.
Masjid ini berdiri di tepi jalan utama kota, diapit toko fotokopi dan bengkel motor. Sejak lima tahun lalu, Sardi menjadi penjaga kebersihannya. Tak ada papan nama yang mencantumkan namanya. Jamaah lebih sering memanggilnya “Pak” atau kadang sekadar mengangguk ketika berpapasan.
Pukul enam pagi, halaman masjid mulai ramai. Anak-anak berseragam putih biru melintas cepat, tas mereka terayun ke depan. Seorang ibu berhenti sejenak, membetulkan jilbab sambil menggenggam ponsel. Jempolnya bergerak lincah di layar, matanya sesekali melirik jam.
Sardi memindahkan sandal yang tercecer. Ia hafal kebiasaan para jamaah tanpa perlu bertanya. Sandal jepit hitam di sudut kanan hampir selalu milik bapak tua yang datang paling awal. Sepatu olahraga dengan tali oranye biasanya ditinggal pemuda yang shalat sambil menenteng botol minum.
Di sela kesibukan itu, ponsel di sakunya kembali bergetar. Kali ini lebih lama. Sardi menghela napas, lalu merogoh saku. Sebuah pesan singkat masuk dari anaknya: “Pak, uang SPP belum.”
Ia menatap layar beberapa detik, lalu menguncinya kembali. Sapu lidi kembali bergerak.
Siang hari, masjid terasa lebih lengang. Hanya suara kipas angin dan sesekali klakson dari jalan. Sardi duduk di bangku panjang dekat tempat wudhu, membuka bekal nasi yang dibungkus daun pisang. Lauknya tempe goreng dan sambal. Ia makan pelan, sambil memandang halaman yang mulai panas.
Di bangku seberang, dua mahasiswa duduk berdampingan. Mereka tidak berbicara. Masing-masing menunduk pada layar ponsel. Sesekali terdengar tawa kecil, entah dari video apa yang mereka tonton. Sardi melirik sekilas, lalu kembali pada nasinya.
Sejak masjid memasang Wi-Fi gratis, bangku-bangku ini jarang kosong. Ada yang datang untuk berteduh, ada yang menunggu waktu, ada pula yang sekadar mencari colokan. Sardi tahu itu. Ia sering diminta menunjukkan stopkontak yang masih berfungsi.
“Pak, yang dekat mimbar bisa dipakai?” tanya seorang remaja sore itu.
Sardi mengangguk, lalu berjalan mendahului. Langkahnya sedikit pincang. Ia pernah terpeleset saat membersihkan selokan, tapi tak pernah memeriksakannya ke dokter. “Nanti saja,” begitu katanya setiap kali ada yang menyarankan.
Sore menjelang maghrib, masjid kembali hidup. Karpet dirapikan, sajadah digelar. Sardi menyemprotkan pewangi ruangan. Bau melati menyebar, bercampur dengan udara senja.
Seorang lelaki paruh baya datang tergesa, masih mengenakan jas. Ia berhenti di depan tempat wudhu, menghela napas panjang. Ponselnya tak lepas dari tangan. Sardi berdiri tak jauh, menunggu giliran mengambil ember.
“Pak, Wi-Fi-nya kok lambat ya?” tanya lelaki itu tanpa menoleh.
Sardi tersenyum tipis. “Kadang memang begitu, Pak.”
Lelaki itu mengangguk singkat, lalu kembali pada layarnya.
Malam hari, setelah isya, masjid perlahan sepi. Lampu sebagian dimatikan. Sardi duduk di serambi, menyalakan rokok kretek. Asapnya mengepul pelan, tersapu angin malam. Ia membuka ponsel, membaca ulang pesan dari anaknya. Jari-jarinya kasar, kuku-kukunya hitam oleh debu.
Ia membalas singkat: “Besok Bapak usahakan.”
Tak lama, pesan lain masuk. Kali ini dari grup keluarga. Foto cucunya muncul di layar, tersenyum sambil memegang buku gambar. Sardi memperbesar foto itu, matanya menyipit. Ada perasaan hangat yang sulit dijelaskan.
Di kejauhan, suara adzan dari masjid lain bersahut-sahutan. Kota tak pernah benar-benar tidur. Notifikasi terus berdenting, entah dari mana.
Sardi mematikan rokoknya, berdiri, dan mengunci pintu samping masjid. Kunci berderit pelan. Ia memastikan semua lampu padam sebelum melangkah keluar.
Di jalan, lampu motor melintas cepat. Sardi berjalan menyusuri trotoar, tas kecil di pundaknya. Ponselnya kembali bergetar, tapi kali ini ia tidak membukanya. Langkahnya mantap, menyatu dengan malam yang bergerak pelan.

