Loading...
Features

Di Ujung Meja Dapur, Pukul Sepuluh Malam

Pukul sepuluh malam, dapur rumah kontrakan itu masih menyala. Lampu neon menggantung rendah, memantulkan bayangan sendok dan panci di dinding yang mulai mengelupas. Rina berdiri di depan kompor, mengaduk sayur bening yang sudah hampir dingin. Api dikecilkan sejak setengah jam lalu, tapi panci belum dipindahkan.

Di ruang tengah, suara televisi terdengar pelan. Bukan karena volumenya kecil, melainkan karena pintu dapur setengah tertutup. Berita malam berjalan tanpa benar-benar ditonton. Rina tahu itu. Ia sudah hafal ritmenya.

Meja makan di sudut dapur hanya cukup untuk empat orang. Dua kursi kosong. Di atas meja, ada piring nasi yang belum disentuh, sendok masih terbalik rapi. Rina merapikan taplak meja yang sedikit bergeser, lalu duduk. Ia tidak langsung makan.

Ponsel di samping piringnya menyala. Sebuah pesan masuk dari grup kantor: “Besok rapat dimajukan jam 7.” Rina membacanya cepat, lalu menaruh ponsel kembali dengan layar menghadap ke bawah.

Sejak dua tahun terakhir, jam makan malam di rumah ini jarang tepat waktu. Kadang terlalu cepat, kadang terlalu larut. Anak sulungnya sering tertidur lebih dulu, buku tulis masih terbuka di samping bantal. Yang kecil biasanya makan sambil menonton, suapan berhenti ketika matanya terpaku pada layar.

Malam ini, rumah terasa lebih sunyi. Suaminya belum pulang. Tidak ada pesan, tidak ada telepon. Rina menengok jam dinding di dapur—jarumnya sedikit miring, tapi masih berjalan. Ia menghela napas pelan.

Di wastafel, piring-piring bekas sore hari belum dicuci. Rina bangkit, membuka keran. Air mengalir, mengenai logam sendok dengan bunyi beradu. Tangannya bergerak otomatis, membilas, menyabuni, membilas lagi. Bau sabun cuci piring bercampur dengan aroma sayur.

BACA JUGA:   Ali Imron dan Ruang Ketiga

Dari ruang tengah, suara berita berganti iklan. Musik ceria tiba-tiba terdengar kontras dengan suasana dapur. Rina mematikan televisi dari kejauhan dengan remote. Sunyi kembali.

Ia kembali duduk, mengambil sendok, lalu berhenti. Ponselnya bergetar lagi. Kali ini dari anaknya yang sedang menginap di rumah nenek: “Bu, besok aku ada presentasi.”

Rina tersenyum tipis. Ia membalas singkat: “Iya, semangat.” Setelah itu, ia menambahkan satu emotikon jempol. Ia ragu sejenak, lalu mengirimkannya.

Makanannya akhirnya disentuh. Suapan pertama terasa hambar, entah karena sayurnya atau karena pikirannya yang tidak sepenuhnya ada di meja itu. Ia makan perlahan, mengunyah sambil memandang jendela dapur yang gelap. Di luar, motor lewat sesekali, lampunya menyapu tirai tipis.

Sekitar setengah jam kemudian, pintu depan terbuka. Suara langkah kaki terdengar, disusul bunyi tas diletakkan di lantai. Suaminya masuk ke dapur, melepas sepatu di dekat pintu.

“Belum tidur?” tanyanya singkat.

Rina menggeleng. “Belum.”

Ia berdiri, mengambil piring kosong dari rak, menyendokkan nasi yang sudah mengeras di pinggir. Suaminya duduk tanpa berkata apa-apa, menatap ponselnya sebentar sebelum meletakkannya di meja.

Mereka makan dalam diam. Hanya suara sendok dan piring yang terdengar. Sesekali, kipas angin berdecit pelan.

“Besok aku pulang agak malam lagi,” kata suaminya, tanpa menoleh.

Rina mengangguk. “Iya.”

Tidak ada pertanyaan lanjutan. Tidak ada penjelasan. Rina berdiri lebih dulu, membawa piring kotor ke wastafel. Ia mencuci, mengeringkan, lalu menyusunnya kembali ke rak. Gerakannya rapi, teratur.

Setelah dapur bersih, Rina mematikan lampu. Ruangan itu kembali gelap, hanya menyisakan bau sabun dan sisa hangat dari kompor. Ia berjalan ke kamar, ponsel di tangan.

Sebelum tidur, ia membuka kalender di layar ponsel. Beberapa tanggal sudah penuh dengan tanda kecil: rapat, pembayaran, jadwal sekolah. Ia menatapnya sebentar, lalu mengunci layar.

BACA JUGA:   Muhammad Syamsuddin dan Berita Pagi Ini

Lampu kamar dipadamkan. Di luar, kota masih bergerak, notifikasi terus berdenting di tempat lain. Di rumah itu, dapur telah sunyi, menunggu pagi yang akan datang dengan ritmenya sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *