Ada kalanya kamu memberi terlalu cepat. Waktu, perhatian, tenaga—semuanya mengalir begitu saja, karena kamu tidak ingin mengecewakan siapa pun. Kamu terbiasa mengatakan “iya”, bahkan sebelum sempat bertanya pada diri sendiri apakah kamu sanggup.
Memberi memang terdengar mulia. Tapi memberi tanpa batas sering berakhir melelahkan. Bukan karena orang lain selalu salah, melainkan karena kamu lupa bahwa dirimu juga punya kebutuhan yang sah. Pelan-pelan, kamu mulai merasa kosong, lalu heran mengapa keikhlasan terasa berat.
Mungkin yang perlu kamu ingat: memberi bukan soal seberapa banyak yang kamu keluarkan, melainkan seberapa jujur kamu pada kemampuanmu. Ada hari ketika kamu bisa hadir penuh. Ada hari ketika kamu hanya sanggup sedikit. Keduanya sama-sama manusiawi.
Menetapkan batas bukan berarti pelit. Itu cara menjaga agar yang kamu beri tetap bermakna. Batas membantu niat baik tidak berubah menjadi beban. Ia membuatmu memberi dengan sadar, bukan karena takut dianggap kurang peduli.
Kamu juga berhak menunda. Berhak berkata, “tidak sekarang,” atau “aku perlu waktu.” Orang yang tepat akan mengerti. Dan kalau pun ada yang tidak, itu tidak otomatis membuatmu bersalah. Tidak semua kekecewaan perlu kamu tanggung.
Catatan ini bukan ajakan untuk menarik diri. Kamu tetap boleh murah hati. Hanya saja, cobalah memberi dari ruang yang cukup, bukan dari sisa-sisa. Dengan begitu, yang kamu beri tidak hanya sampai ke orang lain, tapi juga kembali ke dirimu sendiri.
Kadang, menjaga diri adalah cara paling sunyi untuk tetap bisa berbagi.

