Ali Imron dan Ruang Ketiga

Ali Imron selalu datang dengan buku yang tidak sedang dibicarakan siapa pun. Kadang buku itu tentang kesehatan masyarakat, kadang tentang sosiologi pengetahuan, kadang tentang sesuatu yang tak langsung terbaca dari sampulnya. Ia meletakkannya di meja tanpa pengumuman, seperti benda yang kebetulan ikut terbawa. Percakapan lalu dimulai dari hal lain, dan buku itu baru disentuh ketika topik sudah bergerak jauh.Ia berbicara pelan, tidak tergesa. Ketika orang lain berusaha cepat sampai pada kesimpulan, Ali justru berhenti di tengah jalan, mengajak kembali ke pertanyaan awal. Tangannya sering bergerak kecil, seperti menimbang kata-kata di udara. Ia jarang memotong, lebih sering menunggu celah yang tepat.

Pertama kali bertemu dengannya, kesan yang muncul bukan “dosen ilmu kesehatan.” Tidak ada aura laboratorium, tidak ada kebiasaan berbicara dalam angka dan grafik. Yang tampak justru kegemaran mengurai cerita—tentang kelas, tentang mahasiswa, tentang kebijakan kampus, tentang fenomena sosial yang tampaknya remeh tapi menyimpan lapisan makna.Ali Imron mengajar di sebuah kampus yang mayoritas penghuninya perempuan. Di koridor, suara langkahnya sering tenggelam oleh percakapan para mahasiswi. Ia berjalan di antara warna jilbab yang beragam, poster-poster kesehatan reproduksi, dan pengumuman kegiatan organisasi perempuan. Ia tidak menonjol, tapi juga tidak tersisih. Ia berada di sana, sebagai bagian dari ritme harian.

Di ruang dosen, Ali lebih sering duduk dengan pintu terbuka. Laptopnya menyala, tapi tidak selalu digunakan untuk mengetik. Kadang hanya terbuka satu halaman artikel yang belum selesai dibaca. Kadang layar itu mati, digantikan catatan kecil di buku tulis. Ketika ada mahasiswa mengetuk, ia menoleh dengan ekspresi yang sama: hadir sepenuhnya.

Diskusi dengannya jarang lurus. Satu pertanyaan bisa bercabang ke mana-mana. Dari kesehatan masyarakat, tiba-tiba berbelok ke politik pengetahuan. Dari kurikulum, melompat ke relasi kuasa di ruang kelas. Dari pengalaman lapangan, masuk ke soal bahasa dan representasi. Ali tidak merasa perlu memberi penanda bahwa ia sedang “mengajar.” Ia lebih seperti mengajak berjalan bersama.

Meski latar belakang formalnya ilmu kesehatan, cara berpikir Ali sering terasa sosial. Ia tertarik pada bagaimana kebijakan diterjemahkan di tingkat bawah, bagaimana angka-angka statistik berubah menjadi pengalaman tubuh, bagaimana istilah ilmiah memengaruhi cara seseorang memandang dirinya sendiri. Ia tidak menolak sains, tapi juga tidak memutlakkan.“Yang menarik bukan hanya datanya,” katanya suatu sore, “tapi siapa yang tidak masuk ke data itu.”

Kalimat itu tidak diucapkan sebagai pernyataan besar. Lebih seperti catatan sambil lalu, tapi cukup untuk membuat percakapan berhenti sejenak.Sebagai dosen laki-laki di lingkungan yang didominasi perempuan, Ali jarang menempatkan dirinya sebagai pusat. Ia lebih sering menjadi pendengar. Dalam rapat, ia mencatat. Dalam diskusi kelas, ia memberi ruang. Ia peka pada dinamika yang kadang tak tertulis: siapa yang lebih sering berbicara, siapa yang diam, siapa yang idenya diambil alih tanpa disebutkan.

Ia tidak selalu setuju, dan tidak selalu menyembunyikan ketidaksetujuannya. Tapi cara menyampaikannya tidak keras. Ia mengajukan pertanyaan, bukan sanggahan. Ia membongkar asumsi, bukan orangnya. Percakapan dengannya terasa seperti ruangan yang jendelanya dibuka—angin masuk, tapi tidak mengacak-acak.Di luar kelas, Ali menyukai diskusi yang tidak terjadwal. Di warung kopi dekat kampus, ia duduk dengan secangkir kopi yang dibiarkan mendingin. Topik bisa berawal dari berita hari itu, lalu melebar ke hal-hal yang lebih jauh. Ia menikmati ketika percakapan tidak selesai, ketika pertanyaan dibiarkan menggantung.“

Tidak semua hal harus ditutup,” katanya sekali waktu. “Ada yang justru penting karena tetap terbuka.”Mahasiswi-mahasiswinya sering menyebut Ali sebagai dosen yang “beda.” Bukan karena metode mengajarnya spektakuler, tapi karena mereka merasa dilibatkan. Ia tidak datang membawa jawaban jadi. Ia datang membawa rasa ingin tahu, dan menganggap rasa ingin tahu mahasiswa sebagai sesuatu yang sah.

Di kelas, ia kerap mengaitkan materi kesehatan dengan konteks sosial. Tentang tubuh yang tidak berdiri sendiri. Tentang penyakit yang tidak hanya biologis. Tentang kebijakan yang punya dampak berbeda tergantung siapa yang menjalaninya. Ia tidak menuliskannya sebagai teori besar, tapi sebagai cerita-cerita kecil dari lapangan.

Ali jarang memamerkan latar belakang keilmuannya. Baru setelah beberapa kali diskusi, orang tahu bahwa sebagian fondasi berpikirnya berasal dari ilmu sosial. Itu pun tidak ia sebutkan sebagai identitas, melainkan sebagai kebiasaan membaca. Ia membaca lintas disiplin, dan tidak merasa perlu meminta izin untuk itu.

Sore hari, ketika kampus mulai lengang, Ali masih sering terlihat di ruangannya. Lampu meja menyala. Kertas-kertas berserakan. Ia menutup laptop, menatap jendela, lalu menulis sesuatu di buku catatan. Tidak ada yang tahu apakah itu untuk artikel, bahan ajar, atau sekadar pikiran yang belum ingin disimpan di layar.

Percakapan dengannya tidak selalu nyaman. Kadang ia menantang cara berpikir yang sudah mapan. Kadang ia mempersoalkan hal-hal yang dianggap selesai. Tapi ketidaknyamanan itu tidak membuat orang ingin pergi. Justru sebaliknya, membuat orang ingin duduk lebih lama.

Sebagai kawan, Ali adalah tipe yang tidak mendominasi, tapi selalu meninggalkan jejak. Setelah diskusi selesai, ada kalimatnya yang tertinggal. Ada pertanyaannya yang terus berputar. Ada sudut pandangnya yang menggeser posisi berdiri.Ia pulang dari kampus dengan tas yang tidak terlalu penuh. Buku-bukunya tertata seadanya. Di parkiran, ia menyapa satpam, mengangguk singkat. Tidak ada seremoni. Tidak ada penutup resmi.

Percakapan dengannya, seperti banyak hal lain dalam hidup, tidak pernah benar-benar selesai. Ia hanya berhenti sementara, menunggu waktu lain untuk dibuka kembali—di kelas, di warung kopi, atau di sela kesibukan yang tiba-tiba menyediakan ruang. Dan mungkin di situlah Ali Imron berada: di ruang-ruang antara, tempat pikiran bisa bergerak bebas tanpa harus segera diberi nama.

1 Comment

  1. Tulisan ini mengingatkan bahwa pendidikan bukan hanya soal transfer pengetahuan, tapi tentang menciptakan ruang antara—tempat berpikir tidak dipaksa cepat, dan makna tumbuh dari dialog.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *