Ada rasa yang selalu datang menjelang Ramadlan, bahkan sebelum hilal dicari atau pengumuman disampaikan. Ia bukan kegembiraan yang meledak-ledak, melainkan semacam getar halus di dalam dada. Seperti seseorang yang tahu akan bertemu tamu penting, tetapi belum sepenuhnya siap menyambutnya. Ada harap, ada rindu, dan ada kegelisahan kecil yang sulit dijelaskan.
Saya sering menyadari bahwa kegelisahan itu bukan tentang Ramadlan, melainkan tentang diri sendiri. Tentang apakah saya benar-benar siap menjalaninya, atau hanya sekadar mengulang rutinitas tahunan. Puasa, tarawih, sahur, berbuka—semuanya terasa akrab. Justru karena terlalu akrab, ada risiko bahwa Ramadlan hadir tanpa benar-benar saya sadari.
Menjelang Ramadlan, hidup biasanya terasa semakin penuh. Jadwal disesuaikan, target ibadah mulai disusun, rencana ini dan itu dibicarakan. Semua tampak seperti persiapan yang baik. Namun di sela-sela itu, saya bertanya pelan: apakah hatiku ikut dipersiapkan, atau hanya kegiatanku?
Ada bagian dari diri yang masih berisik. Pikiran yang mudah lelah, emosi yang cepat tersinggung, dan perhatian yang terpecah ke banyak arah. Saya menyadari bahwa Ramadlan sering saya sambut dengan semangat memperbaiki perilaku, tetapi jarang dengan keberanian untuk menata batin. Padahal, mungkin justru di sanalah pekerjaan paling sunyi menunggu.
Ramadlan selalu disebut sebagai bulan latihan. Namun latihan yang bagaimana? Bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi menahan dorongan untuk tergesa, untuk bereaksi berlebihan, untuk merasa paling benar. Puasa membuka ruang kosong—dan ruang kosong itu sering kali memperlihatkan apa saja yang selama ini kita isi tanpa sadar.
Menjelang Ramadlan, saya mulai merasakan kebutuhan untuk melambat. Bukan karena ingin tampil lebih religius, tetapi karena menyadari bahwa hidup saya terlalu cepat untuk benar-benar dirasakan. Terlalu banyak hal yang dikejar, terlalu sedikit yang disyukuri dengan sadar. Dalam kecepatan itu, iman pun kadang ikut tereduksi menjadi kewajiban.
Hubungan dengan Tuhan menjelang Ramadlan terasa seperti undangan untuk memperbaiki jarak. Bukan jarak yang hilang, tetapi jarak yang tertutup oleh kebisingan. Saya menyadari bahwa doa-doa saya sering dipenuhi kata-kata, tetapi miskin kehadiran.
Ramadlan seakan datang untuk mengingatkan: datanglah dengan hati, bukan hanya dengan suara.
Ada juga rasa takut yang jarang diakui. Takut Ramadlan berlalu begitu saja. Takut saya tetap sama, dengan kebiasaan lama yang hanya diganti jadwalnya. Takut bahwa kesungguhan hanya bertahan di awal, lalu memudar seiring hari-hari berjalan. Ketakutan itu tidak selalu buruk. Ia bisa menjadi tanda bahwa Ramadlan masih berarti.
Menyongsong Ramadlan, saya mulai memahami bahwa kesiapan tidak selalu berarti rencana yang sempurna. Kesiapan bisa berupa kejujuran pada diri sendiri: bahwa saya datang dengan kekurangan, dengan iman yang naik-turun, dengan hati yang belum sepenuhnya bersih. Dan mungkin, justru kejujuran itulah pintu awalnya.
Saya tidak ingin menyambut Ramadlan dengan beban harus menjadi lebih baik secara drastis. Saya ingin menyambutnya dengan kesediaan untuk belajar—pelan-pelan. Belajar menahan, belajar memberi ruang, belajar menerima diri apa adanya tanpa berhenti berharap. Ramadlan terasa lebih manusiawi ketika ia tidak dijadikan ajang pembuktian.
Ada keindahan dalam menyongsong, bukan sekadar memasuki. Menyongsong berarti menyiapkan diri dengan lembut, bukan memaksa. Memberi waktu bagi hati untuk menyesuaikan, bagi batin untuk merendah. Seperti menunggu fajar: kita tidak bisa mempercepatnya, hanya bisa bersiap agar tidak melewatkannya.
Saya belum tahu Ramadlan seperti apa yang akan saya jalani tahun ini. Apakah ia akan terasa berat, atau justru menenangkan. Apakah saya akan mampu menjaga niat, atau kembali terseok di tengah jalan. Tetapi setidaknya kini saya tahu satu hal: Ramadlan tidak datang untuk menuntut kesempurnaan, melainkan kehadiran.
Dan mungkin, menyongsong Ramadlan bukan tentang seberapa banyak yang akan kita lakukan, tetapi seberapa jujur kita datang. Datang dengan hati yang ingin ditata, dengan kelelahan yang diakui, dan dengan harap yang sederhana—agar bulan ini tidak hanya lewat di kalender, tetapi juga singgah, meski sebentar, di dalam diri.



