Busyro Muqoddas dan Sindiran yang Tak Pernah Kosong

Di banyak forum, suara itu datang pelan. Tidak meninggi. Tidak pula tergesa. Kalimatnya pendek, seperti biasa. Lalu di ujungnya, ada satu sindiran kecil—cukup untuk membuat ruangan hening beberapa detik sebelum akhirnya terdengar tawa tertahan.

Begitulah Busyro Muqoddas sering hadir.

Ia tidak perlu memukul meja untuk membuat orang memperhatikan. Kadang justru dengan nada datar dan logat khas Kauman, ia menyelipkan kritik yang lebih tajam daripada orasi panjang. Orang-orang yang mengenalnya tahu, ketika Busyro mulai berbicara pelan, biasanya ada sesuatu yang sedang dibedah.

Sebagai senior di Muhammadiyah, ia tidak membawa wibawa dengan jarak. Ia datang dengan gaya yang membumi—kadang disertai humor tipis yang terasa seperti obrolan di serambi masjid kampung. Tapi di balik itu, kalimat-kalimatnya jarang kosong.

Dalam sebuah diskusi tentang etika organisasi, misalnya, ia pernah berkata, “Kalau semua merasa paling benar, rapat ini bisa selesai sekarang. Tinggal saling mengamini saja.” Ruangan tertawa. Lalu hening. Pesan itu sampai tanpa perlu penjelasan tambahan.

Logat Kauman tak pernah hilang dari ucapannya. Kampung yang sempit gang-gangnya itu seperti ikut hidup dalam cara ia menyusun kalimat: langsung, sedikit menyenggol, tapi tidak pernah benar-benar menjatuhkan. Ia mengkritik tanpa harus menghardik.

Orang sering mengenalnya dari jabatan-jabatan publiknya—dari ruang-ruang hukum, dari posisi strategis di lembaga negara. Namun di ruang internal Muhammadiyah, Busyro tampak berbeda. Ia lebih seperti kakak yang gemar menggoda, tapi tak pernah melepas perhatian.

Ketika berbicara tentang integritas, ia tidak memulai dengan slogan besar. Ia justru bercerita tentang hal kecil: tentang amplop yang datang tanpa diminta, tentang keputusan yang terlihat remeh, tentang kebiasaan yang dibiarkan. Cerita-cerita itu tidak disampaikan sebagai kuliah. Ia membiarkan orang-orang di ruangan menyimpulkan sendiri.

Dalam forum yang lebih santai, Busyro sering duduk sedikit menyandar, tangan terlipat, mendengarkan dengan seksama. Ia jarang menyela. Tapi ketika akhirnya berbicara, kalimatnya seperti menyusun ulang percakapan yang sempat tercecer.

“Kita ini sering berani di mimbar, tapi ragu di ruang tertutup,” katanya suatu malam. Tidak ada nada tinggi. Tidak ada penekanan berlebihan. Hanya pernyataan yang dibiarkan mengendap.

Sebagai senior, ia tidak menuntut penghormatan. Ia mendapatkannya tanpa diminta. Barangkali karena konsistensinya yang lama, barangkali karena keberaniannya yang tidak dibuat-buat. Ia pernah berada di posisi yang tidak mudah. Pernah menjadi pusat sorotan. Tapi dalam percakapan kecil, ia tetap orang Kauman yang gemar menyelipkan humor di sela kritik.

Di sela-sela tawa, sering ada jeda panjang. Busyro membiarkan jeda itu. Ia tahu, dalam jeda, orang berpikir.

Ia tidak berbicara dengan gaya retorika yang meledak-ledak. Tidak pula menampilkan kemarahan yang dramatis. Ketika ia tidak setuju, ia cukup berkata, “Saya khawatir ini bukan soal benar-salah, tapi soal berani atau tidak.” Kalimat itu terdengar sederhana. Namun seringkali cukup untuk mengubah arah pembahasan.

Di lingkungan yang kadang terbiasa dengan bahasa normatif, Busyro membawa nada berbeda. Ia tidak alergi pada kritik, bahkan terhadap organisasi yang membesarkannya. Tapi kritiknya tidak lahir dari jarak. Ia justru terasa datang dari kedekatan yang lama.

Dalam forum kader muda, ia pernah menutup pembicaraan dengan satu kalimat ringan, “Jangan terlalu cepat jadi tokoh. Nikmati dulu jadi orang biasa.” Tawa kembali terdengar. Tapi beberapa wajah tampak menyimpan kalimat itu lebih lama.

Sebagai senior, ia tidak hanya hadir sebagai simbol. Ia hadir sebagai percakapan yang terus bergerak. Sindirannya yang lucu sering menjadi pintu masuk untuk membahas hal yang lebih serius. Humor itu bukan untuk mencairkan suasana semata, tetapi untuk menjaga agar kritik tetap bisa diterima.

Di luar forum, ia berjalan biasa saja. Menyapa orang dengan anggukan kecil. Sesekali berhenti untuk berbincang di sudut ruangan. Tidak ada jarak yang dibuat-buat. Tidak ada pengawalan wibawa.

Barangkali itulah yang membuatnya berbeda. Ia bisa keras dalam prinsip, tetapi lentur dalam cara. Ia bisa tajam dalam analisis, tetapi tetap hangat dalam pergaulan. Sindiran-sindirannya terasa seperti cermin kecil—tidak memecahkan, tapi cukup untuk membuat orang melihat diri sendiri.

Dan ketika ia berbicara, orang-orang Kauman seolah ikut hadir: gang sempit, serambi masjid, obrolan selepas maghrib. Ada tradisi lisan yang hidup dalam kalimat-kalimatnya. Tradisi yang tahu bagaimana menyampaikan kritik tanpa kehilangan rasa.

Di setiap forum yang ia tinggalkan, biasanya ada satu-dua kalimat yang terus diingat orang. Bukan karena kerasnya suara, melainkan karena tepatnya sasaran. Sindiran itu bekerja perlahan, tapi tidak pernah kosong.

Busyro Muqoddas mungkin dikenal sebagai figur publik dengan rekam jejak panjang. Tetapi di antara senior-senior Muhammadiyah, ia tetap lelaki Kauman yang berbicara pelan, menyindir dengan senyum tipis, dan meninggalkan ruangan tanpa perlu memastikan apakah semua orang sudah setuju.

Kalimatnya cukup dibiarkan beredar sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *