Muhammad Syamsuddin dan Berita Pagi Ini

Pagi belum benar-benar selesai ketika kabar itu masuk. Sebuah pesan singkat, tanpa banyak tanda baca, hanya satu kalimat yang membuat layar ponsel terasa lebih berat dari biasanya: Muhammad Syamsuddin wafat.

Beberapa detik setelah membacanya, dunia tidak langsung berubah. Notifikasi lain tetap berdenting. Percakapan grup tetap berjalan. Di luar, kendaraan masih melintas seperti biasa. Tetapi ada sesuatu yang pelan-pelan mengendap—sebuah nama yang tiba-tiba berpindah dari daftar kontak menjadi kenangan.

Muhammad Syamsuddin bukan nama yang asing bagi generasi yang pernah tumbuh di lingkungan Ikatan Pelajar Muhammadiyah. Ia pernah berdiri di depan forum-forum kecil, berbicara kepada pelajar dengan nada yang tidak menggurui. Ia tidak selalu menjadi yang paling lantang, tetapi kehadirannya meninggalkan arah.

Di masa-masa ketika ruang perkaderan masih dipenuhi papan tulis kapur dan kursi plastik yang disusun melingkar, Syamsuddin sering duduk di tengah, bukan di ujung. Ia mendengarkan lebih dulu sebelum berbicara. Ketika berbicara, kalimatnya tidak panjang. Tapi cukup untuk membuat peserta menatap ulang catatan mereka.

Ia bagian dari lanskap itu—lanskap perkaderan anak muda Muhammadiyah yang dibangun bukan hanya oleh modul dan materi, tetapi oleh wajah-wajah senior yang sabar. Ia tidak selalu terlihat di panggung besar, tetapi namanya sering disebut dalam percakapan kecil: “Dulu Mas Syamsuddin bilang begini…”

Waktu berjalan. Generasi berganti. Sebagian kader menjadi dosen, aktivis, pengelola amal usaha. Sebagian lagi menempuh jalan yang berbeda. Syamsuddin tetap bergerak di dalam orbit persyarikatan. Tidak selalu disorot, tetapi terus bekerja.

Kabar terakhir yang terdengar tentangnya bukan soal jabatan, melainkan penugasan. Ia diminta membantu menyehatkan beberapa amal usaha Muhammadiyah yang kurang maju. Tugas yang jarang terlihat gemerlap. Tugas yang lebih dekat dengan laporan keuangan yang tak seimbang, ruang-ruang kantor yang sepi, dan rapat-rapat panjang tentang keberlanjutan.

Ia datang ke tempat-tempat yang mungkin tidak ingin banyak orang datangi. Duduk bersama pengelola yang lelah. Mendengarkan keluhan tentang utang, tentang manajemen, tentang semangat yang menurun. Ia tidak membawa janji besar. Ia membawa kesediaan untuk tinggal lebih lama.

Orang-orang yang pernah bekerja bersamanya menyebutnya telaten. Ia tidak cepat menilai. Ia membuka berkas satu per satu. Ia bertanya pelan, mencari akar persoalan tanpa membuat siapa pun merasa dipermalukan. Di ruang-ruang yang terasa berat, ia mencoba menyalakan kembali sesuatu yang hampir padam.

Di antara semua itu, jarak dengan sebagian kawan lama mungkin terbentuk. Tidak semua orang bisa terus bersua. Tidak semua percakapan bisa dilanjutkan. Tetapi namanya tetap ada di ingatan—sebagai bagian dari masa ketika idealisme terasa segar, ketika forum pelajar dipenuhi semangat perubahan.

Kini, kabar itu memaksa semua orang berhenti sejenak.

Di rumah duka, orang-orang datang dengan wajah yang berbeda-beda. Ada yang pernah menjadi kader bimbingannya. Ada yang pernah berdebat dengannya. Ada yang mungkin terakhir bertemu bertahun-tahun lalu. Mereka berdiri dalam satu baris doa yang sama.

Di ruang itu, tidak ada lagi laporan keuangan. Tidak ada lagi forum kaderisasi. Hanya keluarga yang duduk lebih dekat, menahan duka yang paling dalam. Tangan-tangan yang menyalami satu per satu, menyampaikan kalimat yang sama dengan suara yang kadang bergetar.

Di luar rumah, langit berjalan seperti biasa. Awan bergerak pelan. Angin tidak berubah arah.

Syamsuddin telah menyelesaikan bagiannya.

Ia pernah menjadi senior bagi banyak orang—mungkin tanpa pernah benar-benar menyadari sejauh apa pengaruhnya. Ia pernah membentuk ruang-ruang diskusi yang kini sudah berubah rupa. Ia pernah berdiri di tengah anak-anak muda yang kini telah menjadi orang-orang dewasa dengan tanggung jawab masing-masing.

Beberapa warisan tidak berbentuk buku. Tidak pula berupa jabatan. Kadang ia hanya berupa cara berbicara yang tenang. Cara menata organisasi dengan sabar. Cara memperlakukan kader muda sebagai subjek, bukan objek.

Kabar wafatnya datang tiba-tiba, tetapi jejaknya tidak pernah benar-benar pergi.

Kini, yang tersisa adalah doa yang naik pelan-pelan dari banyak arah. Doa agar ia diberi husnul khatimah. Doa agar segala lelahnya dicatat sebagai amal. Doa agar keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan.

Di antara suara takbir yang mengiringi kepergiannya, ada kenangan tentang ruang-ruang kecil tempat ia pernah berdiri, berbicara kepada para pelajar tentang masa depan. Ruang itu mungkin telah berubah. Wajah-wajahnya telah berganti. Tetapi ada bagian yang tetap: semangat yang dulu ia jaga.

Pagi ini, setelah kabar diterima, hari berjalan lagi. Tetapi nama Muhammad Syamsuddin kini berpindah tempat—dari percakapan sehari-hari menjadi doa yang diulang pelan.

Dan di antara jeda-jeda itu, ada rasa kehilangan yang tidak banyak bicara, hanya diam, dan mengingat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *