Ada fase hidup ketika pertanyaan-pertanyaan besar tidak lagi terasa jauh. Tentang makna, tentang kematian, tentang apa yang tersisa ketika tubuh tidak lagi sekuat dulu. Fase itu sering kita sebut usia lanjut. Namun menjadi lansia bukan sekadar soal angka, melainkan tentang pergeseran pengalaman diri.
Saya mulai memikirkan lansia bukan pertama-tama sebagai kategori demografis, tetapi sebagai pengalaman eksistensial. Apa artinya hidup ketika sebagian besar yang dulu mendefinisikan kita—pekerjaan, peran sosial, posisi dalam keluarga—perlahan memudar? Apa artinya waktu ketika masa depan tidak lagi terasa panjang, dan masa lalu menjadi lebih dominan dalam ingatan?
Pertanyaan-pertanyaan ini jarang dibicarakan secara terbuka. Kita lebih sering berbicara tentang kesehatan lansia, kesejahteraan, atau jaminan sosial. Semua itu penting, tetapi belum menyentuh inti kegelisahan yang lebih sunyi: bagaimana seseorang memaknai keberadaannya ketika dunia di sekitarnya berubah lebih cepat daripada dirinya.
Dalam masyarakat yang mengagungkan produktivitas, usia lanjut sering dipandang sebagai masa penurunan. Ketika seseorang pensiun, ia kehilangan bukan hanya pekerjaan, tetapi juga identitas yang melekat pada pekerjaan itu. Seorang guru bukan lagi “guru,” seorang pejabat bukan lagi “pejabat,” seorang pekerja bukan lagi “bagian dari sistem.” Ia kembali menjadi individu yang harus menegosiasikan ulang makna dirinya.
Masalahnya, kita jarang menyiapkan ruang untuk negosiasi itu. Kita menyiapkan tabungan pensiun, tetapi tidak selalu menyiapkan makna pensiun. Kita berbicara tentang aktivitas lansia, tetapi jarang tentang kesunyian lansia. Seolah-olah selama tubuh masih bergerak dan ekonomi masih terjamin, persoalan telah selesai.
Padahal, problem eksistensial lansia sering justru muncul ketika kebutuhan material relatif terpenuhi. Ketika hari-hari menjadi lebih sepi, ketika teman sebaya mulai satu per satu pergi, ketika tubuh mengingatkan bahwa waktu terbatas, pertanyaan tentang arti hidup menjadi lebih tajam.
Saya teringat bahwa dalam banyak tradisi filsafat, kesadaran akan kefanaan adalah pintu menuju kebijaksanaan. Namun dalam praktik sosial modern, kematian dan penuaan sering disingkirkan dari ruang publik. Kita menyembunyikan yang tua di balik institusi, atau setidaknya di balik narasi “aktif dan produktif.” Kita merayakan lansia yang tetap bugar, tetap bekerja, tetap energik—seolah menjadi tua tanpa tanda-tanda tua adalah ideal.
Tetapi tidak semua lansia bisa, atau ingin, mengikuti ideal itu. Banyak yang justru ingin berdamai dengan keterbatasan. Berdamai dengan tubuh yang melambat. Berdamai dengan kenangan yang lebih hidup daripada rencana. Di sini problem eksistensial bukan tentang kegagalan, melainkan tentang transisi.
Saya bertanya-tanya: apakah kita memberi ruang bagi lansia untuk menjalani transisi itu dengan tenang? Atau justru kita memaksakan standar kehidupan dewasa muda kepada mereka?
Dalam konteks keluarga, lansia sering diposisikan sebagai sumber nasihat dan kebijaksanaan. Itu gambaran yang indah, tetapi tidak selalu sesuai kenyataan. Tidak semua lansia merasa bijak. Tidak semua merasa didengar. Sebagian justru mengalami perasaan tak terlihat—hadir secara fisik, tetapi jarang dilibatkan dalam keputusan atau percakapan.
Perasaan tidak relevan mungkin menjadi salah satu problem eksistensial terbesar di usia lanjut. Ketika dunia teknologi bergerak cepat, ketika bahasa generasi muda berbeda, ketika ritme hidup berubah, lansia bisa merasa terasing di tengah keluarga sendiri. Bukan karena kurang dicintai, tetapi karena tidak lagi sepenuhnya dipahami.
Di titik ini, problem eksistensial lansia bukan semata soal individu, tetapi soal relasi antar-generasi. Apakah kita sungguh mendengarkan mereka sebagai subjek yang masih memiliki dunia batin yang kompleks? Atau kita lebih sering memperlakukan mereka sebagai objek perawatan?
Saya juga memikirkan hubungan lansia dengan waktu. Bagi generasi muda, waktu sering dipahami sebagai peluang. Bagi lansia, waktu bisa terasa sebagai kenangan atau sisa. Tetapi mungkin pembagian ini terlalu sederhana. Banyak lansia justru menemukan kebebasan baru: bebas dari ambisi, bebas dari tekanan karier, bebas untuk merenung.
Problem eksistensial muncul ketika kebebasan itu tidak menemukan wadah. Ketika refleksi tidak punya pendengar. Ketika pengalaman hidup yang panjang tidak lagi dianggap penting. Padahal, lansia membawa arsip pengalaman yang tidak bisa digantikan oleh data atau mesin.
Dalam masyarakat yang semakin digital, pengalaman sering kalah oleh informasi. Lansia mungkin kalah cepat dalam mengakses berita, tetapi mereka memiliki ingatan historis yang panjang. Pertanyaannya, apakah masyarakat masih menghargai jenis pengetahuan semacam itu?
Di tengah semua ini, iman sering menjadi ruang perenungan terakhir. Banyak lansia kembali mendekat pada dimensi spiritual, bukan semata karena takut mati, tetapi karena ingin memahami hidupnya sebagai satu kesatuan. Masa lalu, kesalahan, keberhasilan, kehilangan—semuanya dirajut ulang dalam kerangka makna.
Namun spiritualitas pun bisa menjadi problematis jika hanya ditawarkan sebagai pelipur lara tanpa dialog. Lansia tidak hanya membutuhkan penghiburan, tetapi juga pengakuan atas kompleksitas batinnya. Mereka mungkin memiliki keraguan, pertanyaan, bahkan kemarahan yang belum selesai.
Saya merasa bahwa berbicara tentang lansia sebagai subjek eksistensial berarti berani mengakui ambiguitas itu. Bahwa menjadi tua bukan hanya soal kebijaksanaan, tetapi juga soal kegamangan. Bahwa mendekati akhir bukan selalu berarti damai, tetapi bisa juga berarti bergulat.
Essay ini tidak hendak memberikan solusi psikologis atau kebijakan tertentu. Saya lebih ingin menahan diri dalam pertanyaan: bagaimana kita sebagai masyarakat melihat lansia? Apakah sebagai beban, sebagai simbol kebijaksanaan, atau sebagai manusia utuh yang sedang menjalani fase hidup dengan pertanyaan-pertanyaan paling mendasar?
Problem eksistensial lansia bukan hanya milik mereka. Ia adalah cermin masa depan kita sendiri. Cara kita memperlakukan yang menua hari ini adalah cara kita sedang menyiapkan tempat bagi diri kita kelak.
Mungkin yang paling dibutuhkan bukan program besar, tetapi perubahan sikap kecil: mendengarkan lebih lama, tidak tergesa-gesa menghibur, tidak cepat menyimpulkan bahwa semua baik-baik saja. Memberi ruang bagi lansia untuk berbicara tentang ketakutan, harapan, dan makna tanpa merasa merepotkan.
Saya mengakhiri tulisan ini tanpa kesimpulan tegas. Menjadi tua adalah perjalanan yang tidak pernah sepenuhnya bisa dipahami dari luar. Ia harus dijalani untuk dimengerti. Dan mungkin, justru dalam ketidakpastian itulah, kemanusiaan kita menemukan kedalamannya.




Menjadi tua adalah rihlah menuju kesunyian, suatu keadaan yang dirindukan tidak saja jiwa namun juga raga. Kesunyian bukanlah kesepian karena didalam sunyi selalu ada keramaian dimana suara dawai dalam orchestra yang biasanya tertimpa oleh superioritas sexophone, dentangnya mulai terdengar ritmis dan menguat. Dawai itulah silent molecule yang berdifusi masuk dalam setiap relung organel sel manusia memompa metabolisme memunculkan energi dan membangun sel baru. Dalam menua manusia kehilangan sesuatu dan saat yang sama menumbuhkan sesuatu yang lain yang lebih esensial. Dan mari bersyukur ketika kesunyian itu datang karena kata “ada” itu sering kali terlihat ketika sudah “tidak ada” ( Rowahu, Heidegger, 1889-1976)
menjadi toea adalah jalan sejarah
berpikir tetap muda adalah peluang