Di ruang kuliah itu, papan tulis tidak pernah benar-benar bersih. Ada sisa garis dari pertemuan sebelumnya—panah yang menghubungkan satu istilah dengan istilah lain, lingkaran yang mengitari kata “agama”, tanda tanya kecil di sudut kanan atas. Ketika M. Amin Abdullah masuk, ia tidak langsung menghapusnya. Ia menatapnya sejenak, seperti sedang membaca ulang percakapan yang belum selesai.
Ia berbicara dengan tempo yang terukur. Tidak cepat, tidak pula lambat. Kalimat-kalimatnya disusun rapi, seolah setiap kata telah ditimbang lebih dulu. Di hadapannya, mahasiswa mencatat, sebagian mencoba mengikuti panah-panah konseptual yang terus bertambah di papan tulis.
Di kampus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, namanya lekat dengan perubahan besar: transformasi cara memandang ilmu. Tetapi dalam keseharian, perubahan itu tidak selalu tampak dramatis. Ia hadir dalam diskusi panjang tentang kurikulum, dalam rapat-rapat yang menghubungkan fakultas agama dengan fakultas sains, dalam perdebatan tentang batas-batas disiplin.
Amin Abdullah tidak berbicara tentang integrasi ilmu sebagai slogan. Ia menggambarnya. Satu lingkaran untuk ilmu agama. Satu lingkaran untuk ilmu sosial. Satu lingkaran untuk ilmu alam. Garis-garis penghubung ditarik di antaranya. “Tidak ada yang berdiri sendiri,” katanya suatu siang, sambil mengetuk papan dengan spidol.
Di ruang kerjanya, buku-buku filsafat berdampingan dengan kitab-kitab tafsir. Ada nama-nama Barat dan Timur, klasik dan kontemporer. Ia membaca keduanya tanpa merasa perlu memilih salah satu. Di mejanya, kertas-kertas dengan catatan kecil menumpuk. Sebagian berupa skema, sebagian lagi hanya kata-kata yang dilingkari.
Dalam forum publik, ia sering menjadi rujukan ketika wacana agama mengeras. Suaranya tidak tinggi, tetapi tegas. Ia mengingatkan bahwa teks tidak hidup di ruang hampa. Ia menyebut sejarah, konteks, perubahan sosial. Ia mengajak pendengar untuk melihat lebih luas dari sekadar satu ayat atau satu hadis.
Namun, di sela-sela forum besar itu, ia tetap seorang dosen yang menikmati percakapan kecil. Mahasiswa datang dengan kebingungan tentang metodologi, tentang tema skripsi, tentang cara membaca teks klasik dengan lensa kontemporer. Ia mendengarkan dengan sabar, lalu menggambar lagi—panah kecil, lingkaran tambahan.
“Coba lihat dari sisi lain,” ucapnya, sambil menambahkan satu garis yang menghubungkan dua konsep yang sebelumnya terpisah.
Ia tidak menawarkan jawaban final. Ia lebih sering menawarkan cara melihat.
Perubahan IAIN menjadi UIN bukan hanya perubahan nama. Di baliknya ada pergeseran cara berpikir. Ruang-ruang yang dulu terpisah mulai berdialog. Diskusi tentang sains dan agama tidak lagi berlangsung dengan nada saling menegasikan. Amin Abdullah berada di tengah proses itu—bukan sebagai tokoh tunggal, tetapi sebagai penggerak gagasan.
Di ruang seminar, ketika mikrofon diserahkan kepadanya, ia berdiri dengan tenang. Ia tidak memulai dengan retorika. Ia memulai dengan pertanyaan. “Mengapa kita masih memisahkan yang sebenarnya bisa berbicara satu sama lain?” Pertanyaan itu dibiarkan menggantung beberapa detik sebelum ia melanjutkan.
Di luar ruang akademik, namanya sering disebut dalam perdebatan tentang pluralisme, dialog antaragama, dan etika global. Ia tidak menolak kompleksitas. Ia justru memeliharanya. Ia tahu bahwa jawaban sederhana seringkali tidak cukup untuk dunia yang rumit.
Sore hari, ketika kampus mulai lengang, ruang kerjanya kadang masih menyala. Ia duduk sendiri, membuka buku, menulis catatan kecil. Tidak ada tepuk tangan di sana. Tidak ada audiens besar. Hanya seorang cendekiawan yang masih menimbang relasi-relasi ilmu di atas kertas.
Bagi sebagian orang, integrasi–interkoneksi terdengar seperti istilah konseptual. Tetapi di tangannya, ia menjadi kebiasaan berpikir. Kebiasaan untuk tidak memisahkan terlalu cepat. Kebiasaan untuk menahan diri dari kesimpulan tergesa.
Di papan tulis yang tidak pernah benar-benar bersih itu, garis-garis terus bertambah. Lingkaran-lingkaran bersinggungan. Beberapa panah mungkin kelak dihapus, diganti dengan arah baru. Jembatan yang ia bangun tidak pernah selesai sepenuhnya.
Dan mungkin memang tidak perlu selesai.
Di antara buku-buku yang terus terbuka dan percakapan yang terus berjalan, Amin Abdullah tetap berada di sana—menarik garis, menambahkan panah, dan membiarkan ilmu saling menyapa tanpa harus saling meniadakan.



