Tauhid Rahmatiyah

Beberapa waktu terakhir, saya sering memikirkan kembali apa arti tauhid dalam hidup saya. Selama ini, tauhid terasa seperti sesuatu yang sangat kokoh di kepala—keyakinan tentang satu Tuhan, tentang tidak ada yang setara dengan-Nya. Ia jelas, tegas, dan tidak ambigu. Tetapi dalam kehidupan sehari-hari, saya mulai bertanya: apakah tauhid itu benar-benar mengalir sampai ke sikap saya terhadap orang lain?

Saya menyadari bahwa mudah sekali mengucapkan keesaan Tuhan, tetapi tidak selalu mudah menghadirkan kasih dalam perjumpaan. Saya bisa sangat yakin pada kebenaran yang saya pahami, tetapi tetap keras dalam berbicara. Saya bisa merasa sedang membela agama, tetapi lupa menjaga hati orang lain. Di titik itu, saya mulai bertanya pelan: di mana rahmat dalam tauhid saya?

Tauhid Rahmatiyah—sebagaimana sering saya dengar diperkenalkan oleh Hamim Ilyas—mengingatkan bahwa mengesakan Tuhan seharusnya membuat hati lebih lembut, bukan lebih tajam. Jika Tuhan yang saya yakini adalah Maha Pengasih dan Maha Penyayang, mengapa saya begitu mudah menghakimi?

Refleksi ini tidak membuat saya meragukan keyakinan, tetapi justru menggesernya sedikit lebih dalam. Bahwa tauhid bukan hanya tentang siapa yang saya sembah, tetapi bagaimana saya memperlakukan para hamba Tuhan—sesama manusia. Mengakui satu Tuhan berarti menolak menjadikan ego, amarah, atau kebencian sebagai pusat.

Saya melihat betapa mudahnya kita terpecah hari ini—oleh pilihan politik, oleh perbedaan mazhab, oleh identitas sosial. Dalam suasana seperti itu, tauhid sering dikibarkan sebagai panji pembeda. Tetapi jarang saya melihatnya sebagai jembatan yang melembutkan. Padahal, jika Tuhan satu, bukankah sumber kemanusiaan kita juga satu?

Ada saat-saat ketika saya merasa paling benar, dan di situlah saya paling sulit berempati. Seolah-olah keyakinan memberi saya hak untuk mengabaikan perasaan orang lain. Dalam kejujuran yang pahit, saya harus mengakui bahwa di sana tauhid saya belum sepenuhnya menjadi rahmat.

Tauhid Rahmatiyah mengajak saya untuk memeriksa ulang pusat hati. Apakah saya benar-benar menempatkan Tuhan sebagai satu-satunya yang absolut, atau diam-diam saya menjadikan diri saya sebagai ukuran segala sesuatu? Ketika saya tersinggung, ketika saya marah, ketika saya merasa direndahkan—siapa yang sebenarnya sedang saya bela?

Mungkin mengesakan Tuhan juga berarti merelakan diri untuk tidak selalu menjadi pusat. Merelakan ego untuk turun sedikit, agar kasih bisa naik sedikit. Rahmat bukan berarti menyetujui semua hal, tetapi berarti tidak kehilangan kemanusiaan dalam perbedaan.

Saya mulai memahami bahwa tauhid yang hidup tidak selalu terdengar keras. Ia justru bekerja pelan, dalam kesabaran kecil, dalam kemampuan menahan reaksi, dalam keberanian untuk mendengar sebelum menilai. Ia hadir ketika saya memilih untuk tidak membalas dengan nada yang sama. Ketika saya mencoba melihat manusia sebelum melihat label.

Dalam relasi dengan Tuhan, tauhid rahmatiyah terasa seperti ajakan untuk meniru sifat-Nya dalam kadar yang mungkin. Bukan menjadi sempurna, tetapi menjadi lebih lembut. Bukan menjadi lemah, tetapi menjadi tidak mudah melukai.

Saya belum selalu berhasil. Masih ada amarah yang muncul, masih ada penilaian yang tergesa. Tetapi setidaknya saya mulai sadar bahwa mengesakan Tuhan tidak boleh berhenti di lisan. Ia harus terlihat dalam cara saya memandang dunia.

Mungkin pada akhirnya, tauhid rahmatiyah bukan konsep yang rumit. Ia hanya pertanyaan sederhana yang perlu saya ulang setiap hari: jika Tuhan adalah sumber rahmat, apakah kehadiran saya hari ini membawa sedikit rahmat bagi sekitar?

Dan di tengah dunia yang sering terasa keras, mungkin tauhid menemukan maknanya yang paling sunyi—bukan ketika ia diperdebatkan, tetapi ketika ia membuat hati menjadi lebih manusiawi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *