Ada tempat-tempat yang tidak pernah saya datangi, tetapi terasa dekat di dada. Palestina adalah salah satunya. Saya mengenalnya dari berita, dari foto-foto reruntuhan, dari wajah anak-anak yang menatap kamera dengan campuran takut dan tegar. Jarak geografisnya jauh, tetapi entah mengapa ia sering hadir dalam doa-doa yang pelan.
Setiap kali kabar baru datang, ada rasa yang sulit dijelaskan. Sedih, tentu. Marah, mungkin. Tetapi juga perasaan tidak berdaya yang menggantung. Apa yang bisa saya lakukan dari sini? Apakah doa cukup? Apakah simpati berarti sesuatu ketika bom tetap jatuh dan sirene tetap berbunyi?
Saya menyadari bahwa tragedi yang terus berulang bisa membuat hati lelah. Terlalu banyak gambar, terlalu banyak angka korban, terlalu sering berita yang sama dengan tanggal berbeda. Ada risiko kita menjadi terbiasa. Dan mungkin yang paling menakutkan bukan hanya kekerasannya, tetapi kemungkinan bahwa kita berhenti merasa.
Dalam sunyi seperti itu, saya mencoba menahan diri untuk tidak mengeraskan hati. Palestina bukan sekadar isu politik atau perdebatan ideologis. Ia adalah manusia—ibu yang kehilangan anak, anak yang kehilangan rumah, ayah yang tak tahu harus membawa keluarganya ke mana. Di balik semua narasi besar, ada kehidupan yang hancur dalam ukuran yang sangat pribadi.
Sebagai orang beriman, nama Palestina juga menyentuh ruang spiritual. Ia terhubung dengan sejarah, dengan kisah-kisah yang dulu saya dengar sejak kecil. Tetapi semakin dewasa, saya mulai melihatnya bukan hanya sebagai simbol kesucian, melainkan sebagai cermin kemanusiaan. Seberapa jauh saya mampu merasakan luka orang lain yang tidak saya kenal?
Ada saat-saat ketika saya merasa doa terasa terlalu kecil dibandingkan skala penderitaan. Namun di sisi lain, doa adalah cara saya menolak untuk apatis. Ia adalah pengakuan bahwa saya peduli, bahwa saya tidak ingin menormalisasi ketidakadilan.
Palestina juga membuat saya merenung tentang keadilan. Tentang bagaimana dunia bisa begitu timpang. Tentang suara siapa yang didengar, dan suara siapa yang tenggelam. Pertanyaan-pertanyaan itu tidak selalu menemukan jawaban, tetapi mereka menuntut saya untuk tidak menutup mata.
Saya tidak ingin refleksi ini menjadi teriakan. Dunia sudah terlalu bising. Yang ingin saya jaga justru kelembutan hati—agar setiap kabar duka tidak hanya lewat sebagai informasi, tetapi sebagai pengingat bahwa kita terhubung oleh kemanusiaan yang sama.
Barangkali yang bisa saya lakukan adalah menjaga nurani tetap hidup. Tidak membiarkan penderitaan menjadi tontonan. Tidak membiarkan jarak menjadi alasan untuk tidak peduli. Dan jika memang yang bisa saya beri hari ini hanyalah doa, maka biarlah doa itu lahir dari hati yang sungguh-sungguh.
Ya Allah, lindungi mereka yang tak berdaya. Tenangkan hati ibu-ibu yang kehilangan. Jaga anak-anak yang tumbuh di bawah bayang-bayang ketakutan. Berikan keadilan di tempat yang terasa terlalu lama sunyi darinya. Dan jangan biarkan hati kami menjadi keras karena terlalu sering menyaksikan luka.
Saya tidak tahu kapan kedamaian akan benar-benar datang. Tetapi saya tahu, selama masih ada yang berdoa, masih ada yang peduli, dan masih ada yang menolak lupa, harapan belum sepenuhnya padam.
Dan mungkin, di tengah semua ketidakpastian itu, yang bisa saya lakukan adalah tetap menjaga satu hal: agar kemanusiaan di dalam diri saya tidak ikut runtuh bersama reruntuhan yang jauh di sana.



