Ada langit yang sama menaungi kita semua. Tetapi di bawah langit itu, tidak semua orang tidur dengan tenang. Setiap kali saya mendengar nama Gaza, yang terbayang bukan peta, bukan garis batas, melainkan malam yang tidak pernah benar-benar sunyi. Malam yang dipecah suara ledakan, oleh ketakutan yang tak sempat disiapkan.
Saya duduk di ruang yang aman, membaca berita dari layar yang terang. Di saat yang sama, mungkin ada seseorang di Gaza yang memeluk anaknya lebih erat dari biasanya, bukan karena rindu, tetapi karena takut. Perbandingan itu terasa tidak nyaman. Ada jarak yang terlalu lebar antara kehidupan saya dan kehidupan mereka.
Kadang saya bertanya, bagaimana rasanya hidup dalam ketidakpastian yang terus-menerus? Bangun tanpa tahu apakah hari itu akan berjalan biasa atau berubah menjadi duka. Bagaimana rasanya membiasakan anak pada suara sirene, pada gemetar yang bukan karena dingin?
Nama Gaza telah terlalu sering disebut, hingga ada risiko ia menjadi biasa. Padahal tidak ada yang biasa dari kehilangan rumah. Tidak ada yang wajar dari anak-anak yang tumbuh di antara reruntuhan. Tidak ada yang normal dari ibu yang harus memilih antara tinggal atau mengungsi tanpa tahu ke mana.
Saya merasa kecil di hadapan tragedi sebesar itu. Apa arti simpati ketika realitasnya begitu keras? Apa arti doa ketika asap masih membubung? Pertanyaan-pertanyaan itu membuat saya diam lebih lama.
Namun mungkin justru dalam diam itulah saya perlu tinggal sejenak. Gaza bukan sekadar berita yang lewat. Ia adalah ujian bagi hati saya sendiri: apakah saya akan tetap peka, atau pelan-pelan membiarkan diri kebal? Apakah saya masih mampu merasakan duka orang lain sebagai sesuatu yang nyata?
Ada rasa tidak berdaya yang menyelinap. Tetapi di balik rasa itu, ada pilihan kecil: untuk tidak memalingkan wajah. Untuk tetap menyebut mereka dalam doa. Untuk menjaga percakapan tentang kemanusiaan tetap hidup, meski dunia terasa terpecah.
Saya juga merenungkan makna ketahanan. Orang-orang di Gaza sering digambarkan sebagai tangguh. Tetapi di balik ketangguhan itu, pasti ada lelah yang tidak pernah benar-benar selesai. Ketahanan bukan berarti tidak takut, melainkan tetap berdiri meski takut. Dan itu bukan hal kecil.
Dalam iman, saya belajar bahwa setiap air mata tidak pernah sia-sia. Bahwa tidak ada penderitaan yang luput dari penglihatan Tuhan. Keyakinan itu tidak menghapus rasa sakit, tetapi memberi ruang bagi harapan untuk tetap bernapas.
Ya Allah, lindungi mereka di Gaza. Tenangkan hati yang diliputi cemas. Peluk anak-anak yang kehilangan. Kuatkan mereka yang bertahan dalam gelap. Dan jangan biarkan hati kami menjadi keras karena terlalu sering menyaksikan luka.
Saya tidak tahu kapan kedamaian akan benar-benar menyentuh tanah itu. Tetapi saya ingin tetap percaya bahwa di bawah langit yang sama, doa-doa yang tulus masih bisa melintasi jarak. Dan mungkin, di antara reruntuhan dan ketidakpastian, masih ada cahaya kecil yang terus dijaga oleh mereka yang tidak menyerah.
Dan di sini, jauh dari sana, saya hanya bisa berusaha satu hal: agar hati saya tetap hidup, tetap merasa, dan tetap berharap.



