Berbuka di Ruang Ketiga

Kemarin sore, suasana di UNISA terasa sedikit berbeda. Meja-meja disusun lebih rapat, takjil disiapkan dengan sederhana, dan wajah-wajah yang duduk bersama di lantai Masjid Walidah Dahlan tidak semuanya berasal dari latar yang sama. Ada mahasiswa Muslim yang berpuasa. Ada mahasiswa non-Muslim yang hadir untuk berbuka bersama. Kami tidak hanya berbagi makanan, tetapi juga berbagi cerita tentang puasa dalam tradisi masing-masing.

Di momen itu, saya merasakan sesuatu yang sulit dijelaskan. Bukan euforia, bukan pula seremoni. Lebih seperti ketenangan yang pelan—sebuah kesadaran bahwa di tengah perbedaan, ada ruang yang bisa kita huni bersama.

Saya teringat konsep “ruang ketiga.” Ruang yang bukan sepenuhnya wilayah satu identitas, dan bukan pula wilayah identitas yang lain. Ia adalah titik sentuh. Tempat di mana perbedaan tidak dihapus, tetapi dipertemukan tanpa saling meniadakan.

Di ruang itu, saya melihat mahasiswa bercerita tentang makna puasa dalam agamanya. Tentang menahan diri, tentang disiplin, tentang doa. Masing-masing dengan bahasa yang berbeda, tetapi dengan getar makna yang terasa mirip. Saya menyadari bahwa lapar bukan hanya pengalaman fisik. Ia bisa menjadi jalan refleksi lintas iman.

Yang paling menyentuh bukanlah argumen teologisnya. Bukan perbandingan ajaran. Melainkan cara mereka mendengarkan satu sama lain. Ada jeda ketika seseorang berbicara, dan yang lain tidak terburu-buru menyanggah. Ada rasa ingin tahu yang tulus, bukan untuk membantah, tetapi untuk memahami.

Dalam suasana itu, saya merasakan bahwa UNISA tidak hanya menjadi ruang akademik, tetapi ruang kemanusiaan. Kampus bukan sekadar tempat mentransfer ilmu, tetapi tempat membangun perjumpaan. Dan perjumpaan seperti ini terasa penting di zaman yang mudah memisahkan.

Sering kali, perbedaan agama dibicarakan dalam nada tegang. Seolah-olah ia selalu berpotensi menjadi jarak. Tetapi kemarin, saya melihat kemungkinan lain: bahwa perbedaan juga bisa menjadi jembatan. Bahwa berbuka bersama bisa menjadi bahasa yang lebih kuat daripada debat panjang.

Saya merenung, mungkin inilah wajah iman yang lebih dewasa. Iman yang tidak rapuh ketika mendengar tradisi lain. Iman yang tidak merasa terancam oleh dialog. Justru dalam perjumpaan itulah keyakinan menemukan kedalaman—karena ia diuji bukan oleh permusuhan, tetapi oleh keterbukaan.

Ruang ketiga yang kami alami kemarin bukan ruang tanpa identitas. Setiap orang tetap membawa keyakinannya masing-masing. Tetapi di sana, identitas tidak dipakai untuk membatasi, melainkan untuk memperkaya percakapan.

Ada momen ketika azan maghrib terdengar. Mahasiswa Muslim bersiap berbuka. Mahasiswa non-Muslim tetap duduk, tersenyum, ikut merasakan suasana sakral itu meski dengan cara yang berbeda. Tidak ada jarak yang canggung. Hanya kebersamaan yang sederhana.

Saya menyadari bahwa ruang ketiga tidak selalu besar dan formal. Ia bisa lahir dari meja berbuka yang sederhana. Dari dialog yang jujur. Dari keberanian untuk duduk bersama tanpa niat memenangkan apa pun.

Di tengah dunia yang sering terbelah oleh identitas, pengalaman kemarin terasa seperti napas segar. Ia mengingatkan saya bahwa titik temu selalu mungkin—asal kita bersedia hadir dengan hati yang terbuka.

Dan ketika malam semakin gelap dan acara selesai, saya pulang dengan satu kesadaran kecil: bahwa iman tidak selalu tumbuh dalam kesendirian. Kadang ia justru bertumbuh dalam perjumpaan.

Mungkin ruang ketiga bukan sekadar konsep. Ia adalah praktik kecil yang perlu terus dirawat. Sebab di sanalah agama-agama tidak hanya berdampingan, tetapi saling menyapa—sebagai manusia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *