Riyanto dan Jalan Pulang ke Lereng Merbabu

Di lereng Gunung Merbabu, pagi sering datang bersama kabut yang turun perlahan dari punggung gunung. Rumah-rumah berdiri berjauhan, ladang sayur terbentang di sela jalan kecil, dan suara ayam bersahut dengan deru motor tua yang mulai bergerak ke pasar.

Di tempat seperti itu, kehidupan berjalan tanpa banyak sorotan.

Riyanto lahir dan tumbuh di salah satu desa di lereng gunung itu. Wilayah yang dulu dikenal dengan tradisi kejawen yang kuat, dengan kehidupan kampung yang berjalan mengikuti kebiasaan lama. Ternak babi bukan hal yang aneh di sana. Ritual-ritual lokal masih hidup dalam perbincangan sehari-hari.

Masa remaja Riyanto tidak jauh dari cerita yang sering ditemukan di banyak desa. Malam-malam panjang bersama teman-teman, gelas yang berpindah tangan, angka-angka ramalan yang dibicarakan dengan penuh harap, dan kenakalan yang terasa biasa bagi anak-anak muda yang belum menemukan arah.

Orang tuanya melihat perubahan itu dengan gelisah. Di rumah yang sederhana, percakapan tentang masa depan sering berakhir dengan keheningan. Hingga suatu hari keputusan diambil: Riyanto dikirim ke pesantren.

Perjalanan itu seperti memindahkan seseorang dari satu dunia ke dunia lain.

Di pesantren, hari dimulai dengan suara adzan sebelum fajar. Kitab-kitab dibuka selepas subuh. Bacaan Al-Qur’an dilantunkan berulang-ulang hingga lidah terbiasa dengan makhraj yang benar. Riyanto yang dulu terbiasa dengan malam tanpa aturan, kini menjalani hari dengan jadwal yang teratur.

Awalnya tidak mudah. Tetapi sesuatu mulai berubah pelan-pelan.

Ia belajar mengaji dari awal. Huruf demi huruf. Tajwid demi tajwid. Suara yang dulu keras karena tawa dan teriakan, kini dilatih untuk mengikuti irama tilawah. Ia menemukan kesenangan baru dalam memperbaiki bacaan.

Namun dunia Riyanto tidak berhenti di sana.

Di sela waktu belajar agama, ia mulai tertarik pada dunia yang sama sekali berbeda: komputer. Dari layar kecil dan jaringan internet yang kadang putus-sambung, ia belajar banyak hal sendiri. Dunia digital membuka ruang baru baginya. Ia membaca forum-forum teknologi, mempelajari sistem, dan pelan-pelan memahami bahasa yang dipakai para peretas.

Bagi sebagian orang, dua dunia itu tampak berjauhan—ilmu agama dan keterampilan hacking. Tetapi bagi Riyanto, keduanya berjalan berdampingan.

Beberapa tahun kemudian, ia melanjutkan kuliah di bidang agama. Kampus membawanya ke lingkungan baru, dengan pergaulan yang lebih luas. Ia bertemu banyak orang dengan latar belakang berbeda. Diskusi tentang kitab bisa berlanjut pada percakapan tentang teknologi, masyarakat, dan masa depan anak-anak muda di desa.

Di sela-sela itu, ia mulai pulang ke kampungnya dengan cara yang berbeda.

Di desa yang dulu menjadi tempat kenakalan remajanya, ia mengajak anak-anak muda berkumpul. Tidak selalu dengan ceramah panjang. Kadang hanya dengan membaca Al-Qur’an bersama. Kadang dengan obrolan santai tentang hidup.

Pelan-pelan, beberapa dari mereka mulai ikut shalat berjamaah. Sebagian belajar membaca Al-Qur’an. Riyanto tidak memaksa. Ia hanya membuka ruang.

Di kampung itu, ia juga memulai sesuatu yang sederhana: pembelajaran Al-Qur’an untuk anak-anak. Dari beberapa santri pertama, jumlahnya bertambah. Rumah-rumah warga mulai mengirimkan anak-anak mereka. Suara bacaan Al-Qur’an terdengar setiap sore.

Kini, jumlah santri yang belajar di sana sudah ratusan.

Di Yogyakarta, Riyanto sering terlihat berdiri di depan mihrab sebagai imam. Bacaan Al-Qur’annya tenang dan fasih. Nada suaranya tidak berlebihan, tetapi jelas. Orang-orang di belakangnya mengikuti dengan khusyuk.

Beberapa jamaah mungkin tidak tahu cerita masa lalunya. Mereka hanya mendengar bacaan yang rapi dan merdu. Namun bagi mereka yang mengenalnya lebih dekat, perjalanan itu terasa lebih panjang dari sekadar suara di ruang masjid.

Dalam kehidupan pribadinya, Riyanto menikah dengan seorang perempuan hafizhah Al-Qur’an. Di rumah kecil mereka, mushaf sering terbuka di meja. Suara tilawah kadang terdengar bersahut-sahutan. Kini mereka juga memiliki seorang anak yang tumbuh di antara suara itu.

Sesekali, Riyanto masih kembali ke lereng Merbabu. Jalan yang dulu ia lalui sebagai remaja masih sama. Ladang-ladang masih terbentang. Tetapi suasana di kampung itu perlahan berubah.

Sore hari, ketika matahari turun di balik gunung, suara anak-anak mengaji terdengar dari rumah kecil tempat mereka belajar. Huruf-huruf Arab dilafalkan dengan terbata-bata, lalu diulang lagi.

Riyanto duduk di depan mereka, membetulkan bacaan satu per satu.

Kabut dari gunung turun perlahan, menutup sebagian desa. Di antara kabut itu, suara Al-Qur’an terus mengalir—pelan, tetapi jelas—seperti jalan panjang yang akhirnya menemukan arah pulang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *