Sepuluh hari terakhir Ramadlan selalu terasa berbeda. Ada keheningan yang lebih dalam, sekaligus kegelisahan yang lebih nyata. Waktu seperti berjalan lebih cepat. Tiba-tiba saya sadar, bulan yang terasa panjang itu hampir selesai.
Di fase ini, suasana berubah. Malam menjadi lebih hidup. Lampu masjid menyala lebih lama. Doa-doa terdengar lebih panjang. Tetapi di dalam diri, ada perasaan yang campur aduk—antara ingin mengejar dan takut kehilangan.
Sepuluh hari terakhir sering dikaitkan dengan pembebasan. Pembebasan dari api, dari dosa, dari beban yang selama ini tidak terlihat. Tetapi saya merenung, pembebasan itu bukan hanya peristiwa metafisik. Ia mungkin juga pembebasan dari diri saya yang lama—yang mudah lalai, yang mudah marah, yang mudah lupa.
Ada sesuatu yang sunyi dalam malam-malam ini. Ketika sebagian orang terlelap, ada yang memilih duduk lebih lama. Dalam doa yang panjang, saya mulai merasakan bahwa Ramadlan tidak lagi tentang rutinitas, tetapi tentang kejujuran. Seberapa jauh saya sungguh-sungguh ingin berubah?
Di sepuluh hari terakhir, saya mulai merasakan rindu sebelum benar-benar berpisah. Rindu pada sahur yang sederhana. Rindu pada detik-detik menjelang berbuka. Rindu pada rasa lapar yang justru membuat hati lebih lembut. Anehnya, yang dulu terasa berat kini terasa ingin dipertahankan.
Saya menyadari bahwa Ramadlan bukan hanya tentang apa yang saya tinggalkan, tetapi tentang apa yang saya temukan. Dalam lapar, saya menemukan empati. Dalam lelah, saya menemukan ketahanan. Dalam malam yang panjang, saya menemukan sunyi yang jarang saya beri ruang.
Namun ada juga ketakutan kecil. Apakah setelah Ramadlan berlalu, saya akan kembali seperti sebelumnya? Apakah perubahan yang terasa pelan ini akan bertahan? Pertanyaan itu tidak mudah dijawab.
Sepuluh hari terakhir terasa seperti ujian konsistensi. Bukan lagi tentang semangat awal, tetapi tentang kesungguhan di akhir. Ketika tenaga mulai menurun, ketika tubuh mulai lelah, di situlah niat diuji.
Ada malam yang disebut lebih baik dari seribu bulan. Tetapi mungkin maknanya bukan hanya pada nilainya, melainkan pada kesediaan kita untuk benar-benar hadir. Untuk memohon dengan hati yang jujur. Untuk mengakui bahwa kita tidak selalu kuat tanpa pertolongan.
Di ujung Ramadlan, saya merasa seperti berdiri di ambang pintu. Di belakang saya, ada perjalanan satu bulan penuh. Di depan saya, ada hari-hari biasa yang menunggu. Pertanyaannya sederhana: apa yang akan saya bawa keluar dari sini?
Saya tidak ingin Ramadlan hanya menjadi kenangan tahunan. Saya ingin ia meninggalkan jejak—meski kecil—dalam cara saya berbicara, dalam cara saya bersikap, dalam cara saya memandang hidup.
Sepuluh hari terakhir ini bukan hanya tentang mengejar malam-malam mulia, tetapi tentang menata hati sebelum berpisah. Tentang mengucapkan terima kasih dalam diam. Tentang memohon agar apa yang telah dilatih tidak hilang begitu saja.
Dan ketika nanti takbir bergema, mungkin ada rasa haru yang sulit dijelaskan. Bukan hanya karena kemenangan, tetapi karena perpisahan.
Ramadlan akan pergi. Tetapi saya berharap, sedikit dari keheningan dan kelembutannya tetap tinggal.



