Currated Spirituality: Ketika Ibadah Masuk ke Dalam Logika Kapitalisme

Ada satu perubahan halus yang tidak selalu kita sadari, tetapi pelan-pelan memengaruhi cara kita menjalani agama. Perubahan itu tidak datang dalam bentuk penolakan terhadap ibadah, justru sebaliknya—ia hadir dalam semangat yang tampak semakin tinggi. Kita ingin lebih rajin, lebih banyak, lebih maksimal. Namun di balik semangat itu, ada cara pandang yang diam-diam ikut berubah.

Saya mulai merasakannya ketika ibadah tidak lagi sekadar menjadi ruang perjumpaan, tetapi juga menjadi sesuatu yang perlu diukur. Berapa kali khatam, berapa rakaat tambahan, berapa banyak sedekah, berapa hari puasa sunnah. Angka-angka itu tidak salah, bahkan sering kali menjadi pemicu kebaikan. Tetapi ketika ia menjadi pusat, ada sesuatu yang bergeser tanpa terasa.

Ibadah yang dahulu terasa sebagai perjalanan batin, perlahan berubah menjadi pencapaian yang ingin diraih.

Mungkin ini tidak lepas dari cara dunia hari ini bekerja. Kita hidup dalam sistem yang menilai hampir segala sesuatu dengan ukuran produktivitas. Waktu dihitung, hasil dibandingkan, dan keberhasilan dirumuskan dalam angka. Logika itu begitu kuat, begitu meresap, hingga tanpa sadar ia ikut masuk ke dalam cara kita memandang hal-hal yang seharusnya lebih sunyi, termasuk relasi kita dengan Tuhan.

Dalam suasana seperti itu, bahkan ibadah bisa dikemas dengan cara yang tidak jauh dari bahasa pasar. Kita mulai melihat fenomena yang tampak biasa, tetapi menyimpan pertanyaan: paket qurban dengan kategori “gold”, “silver”, “bronze”; program sedekah dengan label tertentu; atau ajakan ibadah yang disertai perbandingan capaian.

Semua itu mungkin dimaksudkan untuk memudahkan, bahkan untuk menarik partisipasi. Tetapi di saat yang sama, ada kesan yang sulit diabaikan—seolah-olah ibadah perlahan dikonstruksikan seperti piala atau medali. Ada tingkatan, ada kelas, ada semacam hierarki yang tidak selalu kita sadari dampaknya.

Di titik ini, saya mulai bertanya dengan jujur pada diri sendiri: apakah saya sedang mendekat, atau hanya sedang naik level?

Pertanyaan itu terasa sunyi, tetapi penting. Karena tidak semua yang tampak meningkat benar-benar membawa kita lebih dekat. Ada kalanya kita terdorong untuk mencapai “yang lebih tinggi”, bukan karena kesadaran, tetapi karena perasaan ingin cukup, ingin terlihat, atau sekadar tidak ingin berada di bawah.

Padahal, dalam tradisi Islam sendiri, ukuran tidak selalu berada pada banyaknya atau besarnya. Ada sebuah hadis yang sederhana, tetapi terasa sangat dalam maknanya:

“Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang paling terus-menerus meskipun sedikit.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini seperti menggeser orientasi kita dari jumlah kepada keberlangsungan, dari intensitas sesaat kepada kesetiaan yang pelan. Ia tidak menolak amal besar, tetapi mengingatkan bahwa kedekatan dengan Tuhan tidak dibangun oleh lonjakan sesaat, melainkan oleh kehadiran yang terus dijaga.

Dalam logika kapitalisme, sesuatu yang kecil dan konsisten sering kali dianggap kurang berarti. Tetapi dalam pengalaman spiritual, justru di sanalah kedalaman tumbuh. Sesuatu yang dilakukan berulang-ulang, tanpa sorotan, tanpa perbandingan, sering kali lebih membentuk hati daripada sesuatu yang besar tetapi sesaat.

Saya juga mulai menyadari bahwa ketika ibadah terlalu didorong oleh logika target, ada risiko kehilangan rasa. Kita tetap membaca, tetapi tidak lagi mendengar. Kita tetap berdoa, tetapi tidak lagi merasakan. Kita tetap melakukan, tetapi tidak lagi hadir sepenuhnya di dalamnya.

Di situ, ibadah tetap berjalan secara lahir, tetapi maknanya menjadi samar. Al-Qur’an sendiri memberi peringatan yang sangat halus tentang kemungkinan ini:

“Maka celakalah orang-orang yang shalat, yaitu mereka yang lalai dari shalatnya.”
(QS. Al-Ma’un: 4–5)

Ayat ini tidak berbicara tentang orang yang meninggalkan ibadah, tetapi tentang mereka yang menjalankannya tanpa kehadiran yang utuh. Sebuah pengingat bahwa bahkan amal yang benar secara bentuk bisa kehilangan ruh jika tidak dijaga dengan kesadaran.

Refleksi ini tidak membuat saya ingin menolak semua bentuk pengorganisasian ibadah. Dunia memang membutuhkan sistem, dan manusia sering terbantu oleh struktur. Tetapi mungkin yang perlu dijaga adalah kesadaran di dalamnya—agar ibadah tidak kehilangan arah hanya karena kita terlalu sibuk mengukur.

Saya mulai mencoba kembali ke hal-hal yang lebih sederhana. Duduk lebih lama tanpa tergesa, membaca tanpa target yang menekan, memberi tanpa perlu dihitung. Tidak selalu mudah, tentu saja. Karena dunia di luar terus mendorong kita untuk lebih, lebih, dan lebih.

Tetapi mungkin, justru di tengah dorongan itu, kita perlu menjaga satu ruang yang tidak sepenuhnya tunduk pada logika tersebut. Sebuah ruang di mana ibadah tidak menjadi ajang perbandingan, tetapi pertemuan. Di mana yang dinilai bukan posisi, tetapi kehadiran. Di mana yang dicari bukan capaian, tetapi kedekatan. Dan mungkin, di situlah agama menemukan maknanya yang paling sunyi—ketika ia tidak lagi diperlakukan sebagai sesuatu yang harus dimenangkan, tetapi sebagai sesuatu yang ingin dijalani.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *