Kita Tidak Memilih Menjadi Diri Kita: Membaca Determined dan kegelisahan tentang kehendak bebas

Ada sesuatu yang menenteramkan dalam keyakinan bahwa manusia adalah pengarang kehidupannya sendiri. Keberhasilan dapat dipandang sebagai buah kerja keras, kegagalan sebagai akibat pilihan yang keliru, kebajikan sebagai kemenangan kehendak atas godaan, dan kejahatan sebagai keputusan sadar untuk melanggar batas moral. Dengan kerangka semacam ini, dunia memperoleh keteraturan etiknya: setiap orang pada akhirnya mendapatkan konsekuensi dari apa yang dipilihnya.

Robert M. Sapolsky mengganggu ketenteraman itu melalui Determined: A Science of Life Without Free Will. Ia tidak sekadar mempertanyakan apakah kebebasan manusia memiliki batas. Argumennya jauh lebih radikal: apa yang disebut kehendak bebas mungkin merupakan cara manusia memberi nama kepada proses yang sebab-sebabnya tidak sepenuhnya disadari. Sebuah keputusan tidak muncul dari ruang kosong di dalam diri yang steril dari masa lalu. Ia merupakan ujung sementara dari sejarah biologis dan sosial yang panjang.

Seseorang yang kehilangan kendali dalam sebuah pertengkaran, misalnya, tidak dapat dipahami hanya dari beberapa detik ketika kemarahan meledak. Keadaan otaknya pada detik tersebut berhubungan dengan proses neurobiologis beberapa menit sebelumnya; proses itu dipengaruhi kondisi hormonal, kualitas tidur, stres, dan pengalaman sebelumnya. Respons terhadap stres dibentuk pula oleh perkembangan otak selama bertahun-tahun, pengalaman masa kecil, keadaan keluarga, nutrisi, bahkan lingkungan prenatal. Lebih jauh lagi terdapat genetika, kebudayaan, struktur sosial, dan sejarah evolusi yang membentuk organisme manusia jauh sebelum individu tersebut mengenal gagasan tentang pilihan.

Sapolsky membawa pembacanya mundur melalui rantai sebab itu hingga konsep tentang seorang ā€œakuā€ yang berdiri secara independen dan memilih di luar segala penyebab menjadi semakin sulit dipertahankan. Manusia tidak memilih gennya, tidak menentukan keadaan rahim tempat tubuhnya pertama kali berkembang, tidak memilih orang tua, kelas sosial, bahasa pertama, lingkungan masa kecil, atau berbagai peristiwa yang kelak membentuk struktur emosionalnya. Bahkan perangkat biologis yang dipakai seseorang untuk mengambil keputusan—otaknya—bukanlah sesuatu yang pernah dipilihnya.

Namun seluruh tata moral masyarakat dibangun seolah-olah pada suatu titik manusia berhasil membebaskan dirinya dari sejarah tersebut dan menjadi subjek yang sepenuhnya otonom.

Di situlah Determined menjadi lebih dari sebuah buku tentang neurosains.

Persoalan kehendak bebas sebenarnya setua upaya manusia memahami dirinya sendiri. Agama membicarakannya sebagai ketegangan antara takdir dan ikhtiar; filsafat mengenalnya melalui perdebatan determinisme dan kebebasan; hukum mengandaikannya ketika membedakan tindakan yang disengaja dari tindakan yang terjadi di luar kendali. Modernitas kemudian menempatkan individu semakin kuat sebagai pusat pertanggungjawaban. Manusia dianggap sebagai subjek rasional yang memilih, dan karena memilih, ia layak menerima ganjaran ataupun hukuman.

Sapolsky memasuki perdebatan lama tersebut melalui biologi.

Yang membuat argumennya mengganggu bukan semata-mata klaim bahwa otak memengaruhi perilaku. Hal itu sudah tidak terlalu kontroversial. Kesulitan muncul ketika prinsip tersebut diterapkan secara konsisten. Masyarakat relatif mudah menerima bahwa tumor otak, cedera neurologis, atau gangguan tertentu dapat mengubah perilaku seseorang. Dalam keadaan demikian, penilaian moral biasanya melunak karena muncul penjelasan biologis: tindakan tersebut tidak lagi sepenuhnya dipandang sebagai ekspresi karakter.

Tetapi mengapa belas kasih kausal semacam itu berhenti pada penyakit yang terlihat jelas?

Perkembangan korteks prefrontal juga dipengaruhi masa kanak-kanak. Kemampuan mengendalikan impuls tidak terpisah dari pengalaman sosial. Stres kronis meninggalkan konsekuensi biologis. Kemiskinan bukan sekadar jumlah uang yang dimiliki seseorang, tetapi lingkungan yang dapat memengaruhi nutrisi, rasa aman, kualitas pendidikan, paparan kekerasan, dan perkembangan kognitif. Trauma bukan hanya ingatan buruk; ia dapat menjadi bagian dari cara tubuh merespons dunia bertahun-tahun setelah peristiwa yang menyebabkannya berakhir.

Dengan demikian, batas antara ā€œbiologiā€ dan ā€œlingkunganā€ menjadi semakin kabur. Lingkungan memasuki tubuh; pengalaman menjadi biologi. Apa yang terjadi di luar diri perlahan ikut membentuk sesuatu yang kemudian disebut ā€œdiriā€.

Pada titik itulah persoalan moral menjadi rumit. Seseorang tetap melakukan tindakannya. Akibatnya tetap nyata. Korban tetap dapat terluka. Tetapi keyakinan bahwa pelaku pada suatu saat dapat sepenuhnya melepaskan diri dari seluruh sejarah pembentuk dirinya menjadi jauh lebih sulit dipertahankan.

Memahami sebab tentu tidak identik dengan menghapus akibat. Namun pemahaman tentang sebab dapat mengubah cara masyarakat memaknai hukuman.

Salah satu implikasi paling radikal dari Determined terletak pada persoalan penghukuman. Sistem hukum modern masih menyimpan gagasan retributif: seseorang yang dengan bebas memilih melakukan kejahatan pantas menerima penderitaan tertentu sebagai balasan. Sapolsky mempertanyakan fondasi moral dari gagasan tersebut.

Masyarakat tetap harus melindungi dirinya dari orang yang membahayakan orang lain. Pencegahan, rehabilitasi, pembatasan, dan dalam keadaan tertentu pemisahan seseorang dari masyarakat tetap dapat dibenarkan. Namun semua itu tidak harus didasarkan pada keyakinan bahwa penderitaan pelaku memiliki nilai moral pada dirinya sendiri. Jika tindakan merupakan hasil dari jaringan sebab, respons sosial semestinya diarahkan kepada pencegahan kerusakan berikutnya dan perubahan kondisi yang memungkinkan perilaku tersebut terjadi.

Perubahan kecil dalam cara berpikir ini membawa konsekuensi yang luas. Penjara tidak lagi terutama menjadi tempat pembalasan, melainkan instrumen perlindungan dan rehabilitasi. Kecanduan tidak semata-mata dibaca sebagai kegagalan kemauan. Perilaku destruktif tidak otomatis diterjemahkan sebagai kerusakan karakter. Pertanyaan moral bergeser dari ā€œseberapa jahat orang ini?ā€ menuju ā€œrangkaian keadaan apa yang menghasilkan perilaku ini, dan apa yang dapat dilakukan agar ia tidak terulang?ā€

Pergeseran tersebut tidak menghilangkan tanggung jawab sosial. Ia justru memindahkan perhatian dari pembalasan menuju sebab.

Barangkali di sinilah determinisme Sapolsky menemukan sisi humanistiknya yang paling kuat. Paradoksnya, pandangan yang tampak mereduksi manusia menjadi biologi justru dapat menghasilkan tuntutan untuk memperlakukan manusia dengan lebih sedikit kebencian.

Namun konsekuensi Determined akan terlalu mudah diterima apabila hanya diarahkan kepada mereka yang gagal. Argumen Sapolsky menjadi jauh lebih tidak nyaman ketika diterapkan kepada keberhasilan.

Masyarakat modern dibangun di atas mitologi meritokrasi. Mereka yang berada di puncak dianggap telah sampai ke sana karena kecerdasan, disiplin, keberanian mengambil risiko, dan kerja keras. Tentu semua kualitas tersebut memiliki peran. Persoalannya adalah bahwa kualitas-kualitas itu sendiri memiliki sejarah.

Kemampuan menunda kepuasan, misalnya, tidak semata-mata lahir dari keputusan moral untuk menjadi disiplin. Ia berkaitan dengan perkembangan kognitif, rasa aman, pola pengasuhan, lingkungan sosial, dan berbagai faktor biologis. Kemampuan bekerja dalam jangka panjang juga membutuhkan tubuh yang relatif sehat, kapasitas mental tertentu, kesempatan, dan kondisi yang memungkinkan kerja keras menghasilkan sesuatu.

Dua orang dapat bekerja sama kerasnya dan memperoleh hasil yang sangat berbeda karena memulai dari titik yang berbeda. Bahkan kemampuan untuk bekerja keras tidak didistribusikan kepada manusia dalam kondisi yang identik.

Dengan demikian, self-made man menjadi konsep yang problematis. Tidak ada manusia yang benar-benar membuat dirinya sendiri. Setiap keberhasilan berdiri di atas sesuatu yang telah ada sebelumnya: keluarga, guru, kesehatan, jaringan sosial, kesempatan historis, institusi, bahkan keberuntungan berada di tempat tertentu pada waktu tertentu.

Kesadaran semacam ini tidak harus meniadakan prestasi. Seorang ilmuwan tetap melakukan penelitian, seorang pengusaha tetap membangun perusahaan, seorang mahasiswa tetap belajar. Tetapi prestasi kehilangan sebagian alasan untuk berubah menjadi superioritas moral.

Meritokrasi mungkin berguna sebagai mekanisme distribusi penghargaan. Ia menjadi berbahaya ketika keberhasilan ekonomi diterjemahkan menjadi bukti bahwa seseorang secara moral lebih layak daripada mereka yang gagal.

Jika keberhasilan memiliki sejarah, kesombongan pun kehilangan sebagian landasannya.

Dalam masyarakat religius, persoalan ini memasuki wilayah yang bahkan lebih rumit. Tradisi Islam telah berabad-abad memperdebatkan hubungan antara kehendak Tuhan dan tindakan manusia. Qadariyah menekankan kapasitas manusia; Jabariyah bergerak ke arah yang jauh lebih deterministik; Mu’tazilah mempertahankan kebebasan manusia sebagai prasyarat bagi keadilan Tuhan; sementara tradisi Asy’ariyah mengembangkan konsep kasb untuk menjelaskan hubungan antara penciptaan tindakan oleh Tuhan dan perolehan tindakan oleh manusia.

Sapolsky tentu tidak sedang menghidupkan kembali perdebatan kalam. Determinismenya tidak memerlukan Tuhan. Tetapi struktur pertanyaannya memiliki gema yang menarik. Teologi bertanya bagaimana manusia dapat bertanggung jawab jika Tuhan berkuasa atas segala sesuatu; Sapolsky bertanya bagaimana manusia dapat dianggap sebagai penyebab pertama tindakannya jika setiap keputusan merupakan konsekuensi dari sebab yang mendahuluinya.

Perbedaannya mendasar, tetapi kegelisahannya berdekatan.

Tradisi keagamaan kemudian menghadapi persoalan tambahan. Banyak penilaian moral sehari-hari sebenarnya bertumpu pada asumsi tentang kapasitas manusia yang dianggap relatif sama. Orang miskin dinasihati agar bekerja lebih keras, pecandu diminta memperkuat iman, anak yang kesulitan belajar disebut kurang tekun, orang yang gagal mengendalikan emosi dianggap kurang matang secara spiritual.

Padahal kemampuan untuk menjadi sabar, tekun, disiplin, bahkan mampu menunda kesenangan tidak tumbuh dalam ruang hampa.

Di sinilah neurosains tidak harus diposisikan sebagai lawan agama. Ia dapat berfungsi sebagai gangguan terhadap kesombongan moral: sebuah pengingat bahwa manusia sering mengetahui terlalu sedikit tentang sejarah orang lain untuk begitu cepat memutuskan kualitas moralnya.

Barangkali konsekuensi terdalam dari Determined bukan terletak pada benar atau salahnya Sapolsky mengenai kehendak bebas. Banyak filsuf dan ilmuwan tetap mempertahankan berbagai bentuk kompatibilisme—gagasan bahwa kebebasan tertentu masih dapat bermakna meskipun dunia memiliki hubungan sebab-akibat. Perdebatan tersebut tidak selesai hanya karena neurosains semakin mampu menjelaskan otak.

Yang lebih penting adalah perubahan perspektif yang ditawarkan determinisme terhadap cara manusia memandang ketimpangan.

Jika seseorang lahir dalam kemiskinan, tumbuh dengan kekerasan, memperoleh pendidikan buruk, mengalami malnutrisi, hidup di lingkungan dengan peluang ekonomi terbatas, kemudian membuat serangkaian keputusan buruk, sangat mudah mengatakan bahwa ia harus bertanggung jawab atas kehidupannya. Pernyataan itu tidak sepenuhnya salah. Namun ia menghapus sejarah yang membuat beberapa pilihan jauh lebih mudah bagi sebagian orang dan jauh lebih sulit bagi yang lain.

Sebaliknya, mereka yang lahir dengan modal sosial, kesehatan, pendidikan, dan rasa aman sering mengalami privilese sebagai sesuatu yang tidak terlihat. Keuntungan yang hadir sejak awal kehidupan terasa seperti keadaan alamiah. Ketika kemudian berhasil, hasil akhirnya mudah dibaca sebagai bukti kualitas personal.

Determinisme mengganggu ilusi tersebut.

Ia memaksa keberhasilan melihat ke belakang dan kegagalan dilihat lebih jauh ke belakang.

Dari sini muncul sebuah etika yang menarik: bukan etika tanpa tanggung jawab, tetapi etika tanpa kesombongan yang berlebihan; bukan masyarakat yang membiarkan segala tindakan, tetapi masyarakat yang lebih tertarik memperbaiki sebab daripada menikmati penghukuman.

Mungkin manusia tetap membutuhkan gagasan tentang pilihan. Kehidupan sosial sulit dibayangkan tanpa bahasa keputusan, tanggung jawab, janji, dan konsekuensi. Bahkan Sapolsky sendiri harus hidup seolah-olah keputusan memiliki arti: menulis buku, memilih argumen, menanggapi kritik, dan mengajak masyarakat mengubah cara memperlakukan manusia.

Namun Determined meninggalkan retakan pada keyakinan lama bahwa manusia sepenuhnya memiliki dirinya sendiri.

Di balik setiap keputusan terdapat sejarah yang tidak dipilih. Di balik setiap karakter terdapat perjumpaan antara tubuh dan dunia. Di balik setiap keberhasilan terdapat kondisi yang mendahuluinya. Dan di balik banyak kegagalan terdapat sebab-sebab yang jauh lebih tua daripada saat seseorang akhirnya melakukan kesalahan.

Mungkin kehendak bebas memang ada. Mungkin Sapolsky terlalu jauh ketika meniadakannya sama sekali. Perdebatan itu dapat terus berlangsung.

Tetapi ada pertanyaan yang tetap bertahan bahkan jika determinismenya kelak terbukti terlalu radikal: berapa banyak dari diri yang selama ini dianggap sebagai prestasi pribadi sesungguhnya merupakan pemberian keadaan?

Pertanyaan itu tidak hanya mengusik cara memahami kebebasan.

Ia juga mengusik alasan manusia merasa berhak menghakimi manusia lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *