Dalam kehidupan sehari-hari, komunikasi sering dipahami sebagai proses sederhana penyampaian pesan dari satu individu ke individu lain. Namun, dalam perspektif sosiologi komunikasi, komunikasi tidak pernah netral. Ia selalu terkait dengan relasi kuasa—siapa yang berbicara, siapa yang didengar, siapa yang menentukan makna, dan siapa yang harus menyesuaikan diri.
Kekuasaan dalam komunikasi tidak selalu hadir dalam bentuk perintah langsung atau paksaan yang terlihat. Ia justru sering bekerja secara halus melalui bahasa, simbol, norma, dan ekspektasi sosial yang tampak “biasa”. Dalam banyak situasi, individu tidak merasa sedang dikontrol, tetapi tetap menyesuaikan perilakunya sesuai dengan struktur yang ada.
Film sebagai produk budaya populer menyediakan ruang untuk membaca bagaimana kekuasaan bekerja—tidak hanya dalam bentuk dominasi, tetapi juga dalam bentuk penerimaan, internalisasi, hingga kemungkinan perubahan dan resistensi.



