Saya sering bertanya-tanya, ketika seseorang hari ini ingin belajar agama, kepada siapa ia sebenarnya berguru? Pertanyaan ini terdengar sederhana, tetapi di dalamnya tersembunyi perubahan besar. Dahulu, otoritas agama relatif jelas: kiai di pesantren, ustaz di masjid, ulama yang dikenal melalui sanad keilmuan yang panjang. Kini, seseorang bisa belajar melalui potonganContinue Reading

Saya sering merasa bahwa Generasi Z terlalu cepat diberi label. Mereka disebut generasi rapuh, generasi instan, generasi overthinking, generasi paling sadar mental health, generasi paling digital. Semua label itu mungkin mengandung sebagian kebenaran, tetapi juga berisiko menyederhanakan pengalaman hidup yang jauh lebih kompleks. Setiap generasi lahir dalam konteks sejarah tertentu.Continue Reading

Beberapa dekade terakhir, saya melihat satu perubahan yang menarik dalam lanskap keagamaan: dakwah semakin akrab dengan ruang-ruang kelas menengah urban. Ia hadir di kafe, di aula perkantoran, di kampus, di media sosial, bahkan dalam bentuk seminar motivasi. Bahasa yang digunakan lebih rapi, visualnya lebih bersih, dan temanya sering bersinggungan denganContinue Reading

Beberapa tahun terakhir, dua istilah semakin sering muncul dalam percakapan tentang kerja: burnout dan quiet quitting. Yang pertama menunjuk pada kelelahan emosional dan mental akibat tekanan kerja berkepanjangan. Yang kedua merujuk pada sikap bekerja secukupnya—tidak lebih, tidak kurang—tanpa ambisi melampaui deskripsi tugas. Keduanya sering dibicarakan dengan nada khawatir. Ada yangContinue Reading

Ada fase hidup ketika pertanyaan-pertanyaan besar tidak lagi terasa jauh. Tentang makna, tentang kematian, tentang apa yang tersisa ketika tubuh tidak lagi sekuat dulu. Fase itu sering kita sebut usia lanjut. Namun menjadi lansia bukan sekadar soal angka, melainkan tentang pergeseran pengalaman diri. Saya mulai memikirkan lansia bukan pertama-tama sebagaiContinue Reading

Saya semakin sering merasa bahwa dakwah dibicarakan terlalu cepat, sementara metodologinya jarang benar-benar dipikirkan. Kita sibuk bertanya apa yang harus disampaikan, tetapi jarang berhenti cukup lama untuk bertanya bagaimana cara kita memahami manusia yang kita ajak bicara. Metodologi dakwah sering dipahami sebagai teknik penyampaian: retorika, media, gaya bahasa. Padahal, sebelumContinue Reading

Page 5 of 6
1 2 3 4 5 6