Ada satu kata yang sering kita ucapkan, tetapi jarang kita renungkan secara mendalam: akhlaq. Ia terdengar sederhana, bahkan klasik. Kita mengajarkannya kepada anak-anak, menyebutnya dalam khutbah, menuliskannya dalam visi lembaga. Namun justru karena terlalu sering disebut, ia mudah menjadi slogan. Saya mulai bertanya: apa sebenarnya akhlaq itu? Apakah ia sekadarContinue Reading

Saya sering merasa bahwa kata ideologi hari ini terdengar berat, bahkan mencurigakan. Ia diasosiasikan dengan kekakuan, polarisasi, atau fanatisme. Sebaliknya, kata pragmatisme terdengar lebih luwes, lebih realistis, lebih membumi. Dalam banyak percakapan publik, sikap pragmatis sering dipuji sebagai tanda kedewasaan: tidak terlalu ideologis, tidak terlalu kaku, yang penting bisa bekerjaContinue Reading

Saya sering bertanya dalam diam: apa arti menjadi kader Muhammadiyah hari ini? Pertanyaan ini terdengar sederhana, tetapi ia membawa kita pada lapisan yang lebih dalam—tentang identitas, tentang komitmen, tentang arah gerakan di tengah dunia yang berubah cepat. Perkaderan selama ini dipahami sebagai jantung gerakan. Ia bukan sekadar proses administratif, bukanContinue Reading

Saya sering merasa bahwa tauhid terlalu sering dibicarakan sebagai konsep yang agung, tetapi jauh. Ia diajarkan sebagai fondasi iman, sebagai inti ajaran Islam, sebagai kalimat pertama yang diucapkan dan terakhir yang diharapkan. Namun dalam keseharian, terutama bagi anak-anak muda, tauhid kadang terdengar abstrak. Seolah ia hanya milik ruang teologi, bukanContinue Reading

Ada satu jenis kesunyian yang jarang dibicarakan secara terbuka: kesunyian laki-laki. Ia tidak selalu terlihat dalam statistik, tidak selalu terucap dalam forum, dan sering tersembunyi di balik ekspresi datar yang dianggap wajar. Kita terbiasa melihat laki-laki sebagai figur yang kuat, rasional, dan stabil. Namun di balik citra itu, ada kegamanganContinue Reading

Saya sering bertanya-tanya, ketika seseorang hari ini ingin belajar agama, kepada siapa ia sebenarnya berguru? Pertanyaan ini terdengar sederhana, tetapi di dalamnya tersembunyi perubahan besar. Dahulu, otoritas agama relatif jelas: kiai di pesantren, ustaz di masjid, ulama yang dikenal melalui sanad keilmuan yang panjang. Kini, seseorang bisa belajar melalui potonganContinue Reading

Saya sering merasa bahwa Generasi Z terlalu cepat diberi label. Mereka disebut generasi rapuh, generasi instan, generasi overthinking, generasi paling sadar mental health, generasi paling digital. Semua label itu mungkin mengandung sebagian kebenaran, tetapi juga berisiko menyederhanakan pengalaman hidup yang jauh lebih kompleks. Setiap generasi lahir dalam konteks sejarah tertentu.Continue Reading

Page 4 of 6
1 2 3 4 5 6