Sepuluh hari terakhir Ramadlan selalu terasa berbeda. Ada keheningan yang lebih dalam, sekaligus kegelisahan yang lebih nyata. Waktu seperti berjalan lebih cepat. Tiba-tiba saya sadar, bulan yang terasa panjang itu hampir selesai. Di fase ini, suasana berubah. Malam menjadi lebih hidup. Lampu masjid menyala lebih lama. Doa-doa terdengar lebih panjang.Continue Reading

Setiap tahun, menjelang akhir Ramadlan atau menjelang hari raya, kata mudik kembali terdengar di mana-mana. Terminal penuh, stasiun sesak, jalan-jalan panjang dipadati kendaraan. Orang-orang bergerak ke arah yang sama: pulang. Di balik hiruk-pikuk itu, saya sering merasa bahwa mudik bukan hanya soal perjalanan fisik. Ia adalah perjalanan batin yang sulitContinue Reading

Ada saat-saat ketika hidup terasa terlalu penuh. Penuh suara, penuh agenda, penuh percakapan yang belum selesai. Bahkan ketika tubuh berhenti, pikiran tetap berjalan. Dalam kepadatan seperti itu, saya sering bertanya: kapan terakhir kali saya benar-benar diam? I‘tikaf selalu saya pahami sebagai berdiam diri di masjid. Tinggal beberapa hari, menjauh dariContinue Reading

Ada malam yang disebut oleh sejarah sebagai malam turunnya Al-Qur’an. Malam ketika wahyu pertama kali menyentuh bumi, di sebuah gua kecil bernama Hira. Saya sering membayangkan suasana itu: sunyi, gelap, jauh dari keramaian kota Makkah. Tidak ada kerumunan, tidak ada perayaan. Hanya seorang manusia yang sedang gelisah memikirkan dunia diContinue Reading

Ada berita-berita yang datang seperti gelombang besar. Ia mengguncang perasaan, bahkan sebelum kita sempat mencerna seluruhnya. Beberapa hari terakhir, dunia mendengar kabar tentang gugurnya pemimpin Iran, Ali Khamenei, yang dilaporkan tewas dalam serangan udara besar yang dilakukan oleh Israel dengan dukungan Amerika Serikat pada akhir Februari 2026. Berita seperti iniContinue Reading

Sepuluh hari pertama Ramadlan selalu terasa penuh semangat. Ada energi baru, ada niat yang diperbarui, ada harap yang masih segar. Tetapi ketika memasuki sepuluh hari kedua, suasananya berbeda. Ramadlan tidak lagi terasa baru, tetapi juga belum sampai pada puncaknya. Ia berada di tengah—dan mungkin di situlah ujian sebenarnya. Di faseContinue Reading

Ramadlan selalu datang seperti tamu yang dinanti. Hari pertama terasa berbeda—suasana lebih hening, langkah terasa lebih hati-hati. Ada semangat yang segar, seperti membuka lembaran baru yang masih bersih. Tetapi setelah beberapa hari berjalan, saya mulai menyadari bahwa Ramadlan bukan hanya tentang semangat awal. Ia tentang bagaimana hati menyesuaikan diri. SepuluhContinue Reading

Page 3 of 6
1 2 3 4 5 6