Ada rasa yang selalu datang menjelang Ramadlan, bahkan sebelum hilal dicari atau pengumuman disampaikan. Ia bukan kegembiraan yang meledak-ledak, melainkan semacam getar halus di dalam dada. Seperti seseorang yang tahu akan bertemu tamu penting, tetapi belum sepenuhnya siap menyambutnya. Ada harap, ada rindu, dan ada kegelisahan kecil yang sulit dijelaskan.Continue Reading

Ada kebiasaan kecil yang jarang disadari: keinginan untuk segera menjawab. Saat seseorang bercerita, pikiran kita sudah menyusun respons. Saat kegelisahan muncul, kita buru-buru mencari penjelasan. Saat doa terasa sunyi, kita ingin kepastian secepatnya. Seolah diam terlalu berisiko, dan jeda terlalu mengancam. Saya menyadari kebiasaan itu ketika suatu hari merasa lelahContinue Reading

Ada malam-malam tertentu yang terasa berbeda, meski sunyinya sama. Nisfu Sya’ban sering datang seperti itu—tidak selalu riuh, tidak selalu diperingati dengan cara yang sama, tetapi diam-diam mengundang kita untuk menoleh ke dalam. Bukan untuk menghitung amal, bukan untuk memastikan diri lebih baik dari orang lain, melainkan untuk bertanya dengan jujur:Continue Reading

Ada masa ketika keinginan untuk “menjadi lebih” terasa begitu mendesak. Lebih pintar, lebih berguna, lebih berpengaruh, lebih diakui. Seolah hidup selalu berada dalam garis perlombaan yang tidak pernah benar-benar selesai. Setiap pencapaian segera disusul oleh target berikutnya, dan setiap keberhasilan terasa cepat basi. Di tengah semua itu, saya mulai bertanyaContinue Reading

Ada hari-hari ketika lelah datang tanpa sebab yang jelas. Tubuh tidak sepenuhnya sakit, pekerjaan tidak sedang menumpuk secara berlebihan, dan orang-orang di sekitar pun baik-baik saja. Namun entah mengapa, napas terasa lebih pendek, langkah lebih berat, dan pikiran seperti berjalan tanpa tujuan. Pada hari-hari semacam itu, yang paling sulit bukanlahContinue Reading

Page 4 of 4
1 2 3 4