Ada doa-doa yang begitu sering saya ulang, hingga saya hafal iramanya sendiri. Doa yang tidak pernah benar-benar berubah, hanya nadanya yang kadang lebih pelan, kadang lebih mendesak. Setiap kali mengucapkannya, ada harap yang menyala. Tetapi waktu berjalan, dan jawabannya belum juga tampak. Awalnya saya pikir penantian adalah ujian kesabaran. JikaContinue Reading

Ada kalimat yang pernah saya dengar dan diam-diam mengganggu: orang bodoh sama dengan orang jahat. Kalimat itu terdengar keras, bahkan tidak adil. Kebodohan sering kita pahami sebagai keterbatasan, bukan niat buruk. Tetapi semakin saya memikirkannya, semakin saya menyadari bahwa persoalannya mungkin tidak sesederhana benar atau salah. Saya mulai bertanya padaContinue Reading

Tidak semua kehilangan datang dengan upacara perpisahan. Ada kehilangan yang tumbuh diam-diam, hidup bersama seseorang sejak kecil, dan tidak pernah benar-benar pergi. Fatherless sering kali berada di wilayah itu—kehadiran ayah yang absen, jauh, atau ada secara fisik tetapi tidak hadir secara emosional. Ia tidak selalu terlihat, tetapi pengaruhnya menetap. SayaContinue Reading

Ada rasa yang selalu datang menjelang Ramadlan, bahkan sebelum hilal dicari atau pengumuman disampaikan. Ia bukan kegembiraan yang meledak-ledak, melainkan semacam getar halus di dalam dada. Seperti seseorang yang tahu akan bertemu tamu penting, tetapi belum sepenuhnya siap menyambutnya. Ada harap, ada rindu, dan ada kegelisahan kecil yang sulit dijelaskan.Continue Reading

Ada kebiasaan kecil yang jarang disadari: keinginan untuk segera menjawab. Saat seseorang bercerita, pikiran kita sudah menyusun respons. Saat kegelisahan muncul, kita buru-buru mencari penjelasan. Saat doa terasa sunyi, kita ingin kepastian secepatnya. Seolah diam terlalu berisiko, dan jeda terlalu mengancam. Saya menyadari kebiasaan itu ketika suatu hari merasa lelahContinue Reading

Ada malam-malam tertentu yang terasa berbeda, meski sunyinya sama. Nisfu Sya’ban sering datang seperti itu—tidak selalu riuh, tidak selalu diperingati dengan cara yang sama, tetapi diam-diam mengundang kita untuk menoleh ke dalam. Bukan untuk menghitung amal, bukan untuk memastikan diri lebih baik dari orang lain, melainkan untuk bertanya dengan jujur:Continue Reading

Ada masa ketika keinginan untuk “menjadi lebih” terasa begitu mendesak. Lebih pintar, lebih berguna, lebih berpengaruh, lebih diakui. Seolah hidup selalu berada dalam garis perlombaan yang tidak pernah benar-benar selesai. Setiap pencapaian segera disusul oleh target berikutnya, dan setiap keberhasilan terasa cepat basi. Di tengah semua itu, saya mulai bertanyaContinue Reading

Page 5 of 6
1 2 3 4 5 6