Ada saatnya kamu merasa perlu menjelaskan segalanya. Pilihanmu, keputusanmu, bahkan diam-mu. Seolah-olah jika tidak diberi keterangan, orang lain berhak menilai sesuka hati. Pelan-pelan, menjelaskan diri berubah menjadi kebiasaan yang melelahkan. Padahal, tidak semua orang memang ingin memahami. Sebagian hanya ingin memastikan bahwa kamu sesuai dengan harapan mereka. Ketika kamu sibukContinue Reading

Ali Imron selalu datang dengan buku yang tidak sedang dibicarakan siapa pun. Kadang buku itu tentang kesehatan masyarakat, kadang tentang sosiologi pengetahuan, kadang tentang sesuatu yang tak langsung terbaca dari sampulnya. Ia meletakkannya di meja tanpa pengumuman, seperti benda yang kebetulan ikut terbawa. Percakapan lalu dimulai dari hal lain, danContinue Reading

Ada rasa yang selalu datang menjelang Ramadlan, bahkan sebelum hilal dicari atau pengumuman disampaikan. Ia bukan kegembiraan yang meledak-ledak, melainkan semacam getar halus di dalam dada. Seperti seseorang yang tahu akan bertemu tamu penting, tetapi belum sepenuhnya siap menyambutnya. Ada harap, ada rindu, dan ada kegelisahan kecil yang sulit dijelaskan.Continue Reading

Saya semakin sering merasa bahwa dakwah dibicarakan terlalu cepat, sementara metodologinya jarang benar-benar dipikirkan. Kita sibuk bertanya apa yang harus disampaikan, tetapi jarang berhenti cukup lama untuk bertanya bagaimana cara kita memahami manusia yang kita ajak bicara. Metodologi dakwah sering dipahami sebagai teknik penyampaian: retorika, media, gaya bahasa. Padahal, sebelumContinue Reading

Selama bertahun-tahun, kita terbiasa memahami kehidupan melalui satu rumus yang terasa mapan: gen menentukan siapa kita. Warna mata, tinggi badan, bahkan kecenderungan penyakit sering dijelaskan sebagai “warisan genetik”. Narasi ini terasa sederhana dan meyakinkan. Namun, dalam dua dekade terakhir, ilmu pengetahuan mulai memperlihatkan gambaran yang lebih kompleks. Di sinilah epigenetikaContinue Reading

Page 15 of 46
1 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 46