Syawal datang dengan cara yang lebih sunyi. Jika Ramadlan terasa penuh dan Idul Fitri riuh dengan perjumpaan, maka Syawal hadir seperti ruang yang ditinggalkan—lebih lengang, lebih pelan, dan entah mengapa, lebih jujur. Takbir telah selesai. Tamu-tamu mulai berkurang. Meja makan kembali seperti biasa. Kehidupan perlahan kembali ke ritme semula. DanContinue Reading

Pagi Idul Fitri selalu datang dengan cara yang khas. Takbir yang semalam menggema kini perlahan mereda. Jalanan masih ramai, tetapi ada jenis keheningan yang berbeda—seperti jeda setelah sesuatu yang besar selesai. Saya sering berdiri di momen itu dengan perasaan yang sulit dijelaskan: antara lega dan kehilangan. Ramadlan telah pergi. KalimatContinue Reading

Sepuluh hari terakhir Ramadlan selalu terasa berbeda. Ada keheningan yang lebih dalam, sekaligus kegelisahan yang lebih nyata. Waktu seperti berjalan lebih cepat. Tiba-tiba saya sadar, bulan yang terasa panjang itu hampir selesai. Di fase ini, suasana berubah. Malam menjadi lebih hidup. Lampu masjid menyala lebih lama. Doa-doa terdengar lebih panjang.Continue Reading

Di lereng Gunung Merbabu, pagi sering datang bersama kabut yang turun perlahan dari punggung gunung. Rumah-rumah berdiri berjauhan, ladang sayur terbentang di sela jalan kecil, dan suara ayam bersahut dengan deru motor tua yang mulai bergerak ke pasar. Di tempat seperti itu, kehidupan berjalan tanpa banyak sorotan. Riyanto lahir danContinue Reading

Page 7 of 46
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 46